Slider

New Info

Wisata Malang

Kuliner Malang

Life & style

Games

Tips & Trik

Aktifitas Malang Local guides

Aktivitas MLG_Meet Up dan Photowalk di Museum Musik Indonesia


"HANYA cinta yang bisa membuat MMI (Museum Musik Indonesia) tetap berjalan sampai sekarang," ucap Abdul Malik, Humas Museum Musik Indonesia, berapi-api. Semangat dan kecintaannya terhadap musik seolah menghipnotis kami berduapuluh untuk menyimaknya dengan khidmat. "Dengan musik kita bisa menebarkan kedamaian!"

Ya, siang itu, Sabtu (03/11/18), komunitas MALANG LOCAL GUIDES, memang sedang mengadakan meet up dan photowalk di Museum Musik Indonesia (MMI) yang berlokasi di Jl. Nusakambangan no. 19, Kota Malang. Dan yang bertindak sebagai host meet up kali ini adalah Khulaifatur Rosidah. Selain bertujuan untuk saling mengenal antar anggota komunitas MALANG LOCAL GUIDES, kegiatan ini juga bermaksud untuk mensosialisasikan keberadaan museum musik yang agaknya masih belum terlalu banyak orang yang tahu.

"Saya sering lewat di daerah ini, tapi tidak pernah tahu kalau ada museum seperti ini di sini," aku salah seorang anggota komunitas MALANG LOCAL GUIDES malu-malu.

Sebagian Koleksi Kaset yang Dikoleksi MMI

Khulaifatur Rosidah (Baju Merah) Menyampaikan Kata Pembuka


Dari data yang dicatat oleh Asosiasi Museum Indonesia (AMI), per Januari 2016 terdapat sebanyak 428 museum di seluruh Indonesia dengan 51 museum di antaranya berada di Jawa Timur. Dan Museum Musik Indonesia ini merupakan museum musik satu-satunya di Indonesia. Tak kurang dari 21 ribu koleksi musik dari seluruh penjuru nusantara bahkan dunia tersimpan di sini. Koleksinya mulai dari kaset, piringan hitam, cakram padat, buku, majalah, alat-alat musik etnik nusantara, serta barang-barang memorabilia dari musikus-musikus ternama.

"Kalau Anda tahu grup musik lawas Dara Puspita, museum ini menyimpan salah satu kostum yang pernah mereka gunakan ketika manggung," tutur Abdul Malik bangga.

Dara Puspita adalah grup musik perempuan asal Surabaya yang aktif dari tahun 1960-1974 yang popularitasnya kala itu disebut-sebut mampu menyaingi grup musik legendaris Deep Purple. Dara Puspita digawangi oleh Titiek Adji Rachman (gitar melodi), Lies Soetisnowati Adji Rachman (bas), Susy Nander (drum), dan Ani Kusuma (gitar pengiring). Salah satu lagu Dara Puspita yang terkenal adalah "Burung Kakak Tua". Dan menurut info, film biopik grup ini akan segera diproduksi oleh salah satu rumah produksi yang cukup ternama di Indonesia.

Hengki Herwanto (kanan), Ketua MMI

Sebelum Dimulai, Masing-masing Peserta Memperkenalkan Diri


Setelah semua peserta yang hadir saling memperkenalkan diri, Hengki Herwanto, ketua Museum Musik Indonesia, kemudian menceritakan secara singkat awal berdirinya museum ini.

"Museum ini bermula dari garasi kecil di rumah ibu saya di daerah Griya Shanta, yang kemudian berkembang menjadi Galeri Malang Bernyanyi (GMB), dan akhirnya menjadi Museum Musik Indonesia seperti sekarang ini," tuturnya. Cerita mengenai perjalanan Museum Musik Indonesia bisa dilihat di tautan berikut: Museum Musik Indonesia: Museum Musik Pertama di Indonesia

Semua peserta menyimak penuturan Hengki dengan antusias, sembari sesekali menjepretkan kamera mereka ke hal-hal yang dirasa menarik.

Abdul Malik, Humas MMI

Peserta Meet Up dan Photowalk di MMI


Bukan hanya disuguhi cerita, Hengki kemudian mengajak seluruh peserta meet up untuk mengenal alat pemutar musik piringan hitam (vinyl). Kendati sudah cukup berumur, ternyata pemutar piringan hitamnya masih bisa bekerja dengan normal. Ari, salah seorang pengurus di Museum Musik Indonesia ini, kemudian mendemokan bagaimana cara kerja alat ini.

Ia memilih sebuah piringan hitam dari album "Goodbye to You, Nona Manis" oleh The Amboina Serenaders lalu memasangkan jarumnya dengan hati-hati. Dan suara yang keluar dari pelantamnya, uh, sungguh kharismatik! Indah! Memang kualitas suaranya diakui tidak sejernih alat-alat pemutar musik modern, terutama digital. Namun setiap orang yang berkesempatan mendengar musik dari piringan hitam ini Penulis rasa akan merasakan aura yang berbeda. Aura yang bersahaja. Anda musti coba!

Pengunjung yang ingin mendengar musik dari piringan hitam bisa meminta kepada petugas museum untuk diputarkan. Biayanya 5 ribu rupiah saja yang akan digunakan untuk pemeliharaan koleksi-koleksi yang ada di museum ini.

Piringan Hitam dan Alat Pemutarnya

Sebagian Koleksi MMI


Setelah puas mendengarkan musik dari piringan hitam, komunitas MALANG LOCAL GUIDES kemudian diajak untuk berkenalan dengan salah satu musik etnik dari Kalimantan: sapek. Alat musik yang penampilan dan cara memainkannya mirip gitar ini ternyata memiliki suara yang khas.

Menurut Hengki, saat ini program Museum Musik Indonesia adalah untuk memperkenalkan alat musik etnik Kalimantan kepada masyarakat luas. Dan grup musik M2I Dawai bentukan museum ini merupakan ujung tombak dari program tersebut. Jadwal pertunjukan mereka selain berkeliling pulau Jawa untuk mempertontonkan permainan alat musik sapek, juga kerap diundang untuk mengisi acara-acara musik di berbagai hotel ternama dan banyak event musik lainnya.

Boni Memainkan Alat Musik Sapek

Menikmati Permainan Sapek oleh M2I Dawai

Bernyanyi Bersama Dalam Iringan Sapek oleh M2I Dawai


Grup musik yang dipunggawai oleh Aziz, Annisa, Alfian, Boni, Lopez, Niko, dan Yono ini kemudian mengajak seluruh peserta meet up yang hadir untuk bersama-sama bernyanyi dengan diiringi petikan alat musik sapek. Lagu yang dinyanyikan di antaranya Cublak-cublak Suweng dan Gundul Pacul. Semua peserta nampak bernyanyi dengan riang. Barangkali teringat dengan masa kanak-kanak mereka yang sering menyanyikan lagu-lagu dolanan semacam ini.

Selain sibuk mensosialisasikan alat-alat musik etnik Kalimantan, ternyata Museum Musik Indonesia juga tengah membantu pembentukan Pusat Dokumentasi Musik Nasional sebagai salah satu syarat dari UNESCO untuk meresmikan Ambon Kota Musik Dunia.

"Nantinya direncanakan akan dibuka satu museum musik di sana," ungkap Hengki.

Merekam Permainan Sapek

Memorabilia Grup Musik God Bless Berupa Gitar Bertandatangan Ahmad Albar dan Ian Antono


Sebelum acara meet up ditutup, Hengki Herwanto menyerahkan kenang-kenangan dari Museum Musik Indonesia kepada komunitas MALANG LOCAL GUIDES berupa satu buah buku karya Pongki Pamungkas yang berjudul "To Love And To Be Loved" yang diterima oleh Bambang Afrianto.

"Pongki Pamungkas adalah salah satu pendiri Museum Musik Indonesia," terang Hengki Herwanto. Bersama Hengki, Pongki menandatangani akta pembentukan Yayasan Museum Musik Indonesia pada tanggal 3 September 2016.

Kemudian seluruh peserta yang hadir pun menyempatkan diri untuk berfoto bersama.

Penyerahan Kenang-kenangan dari MMI oleh Hengki Hermanto (kiri) kepada Malang Local Guides yang Diterima Oleh Bambang Afrianto (kanan)

Sebagian Peserta Meet Up dan Photowalk di MMI


Acara meet up dan photowalk komunitas MALANG LOCAL GUIDES kali ini di Museum Musik Indonesia sungguh berfaedah. Bukan hanya menjadi ajang kumpul-kumpul sesama anggota Local Guides dan berburu foto serta memberikan ulasan di GOOGLE MAPS, namun kita juga menjadi tahu bahwa ternyata di Kota Malang ini ada satu museum yang menyimpan harta karun kebudayaan yang sangat kaya: Museum Musik Indonesia.

Keberadaannya yang begitu vital untuk turut memelihara sejarah musik di Indonesia tentu membutuhkan uluran tangan banyak pihak untuk membuatnya tetap bertahan hingga ke depannya. Dan keberadaan komunitas Local Guides, dengan ulasan-ulasannya di GOOGLE MAPS, semoga mampu mempromosikan keberadaan Museum Musik Indonesia ini bahkan hingga ke tingkat dunia. Museum Musik Indonesia: mengumpulkan, mendokumentasikan, dan mengkonservasi karya musik Indonesia untuk Indonesia dan dunia!

Museum Musik Indonesia buka setiap hari pukul 10:00-17:00 WIB dengan tiket masuk 5 ribu rupiah per pengunjung.

Salah Satu Koleksi di Pojok Ambon Menuju Kota Musik Dunia

Mengisi Buku Tamu MMI


—————
Teks dan Foto: ARIO WICAKSONO

Aktivitas Malang Local Guides: PHOTOWALK DI HOTEL ALPINES BY ARTOTEL, KOTA BATU


"...FROM the mountain to the valley, hear our praises rises to You; dari gunung hingga ke lembah, dengarlah puji-pujian yang kami haturkan ke hadirat-Mu.."
—Hillsong Worship: "Hear our Praises" (1999)

"Nantinya kalimat itu akan dipasang di salah satu instalasi hotel ini. Menjadi tagline dari Alpines by ARTOTEL," ujar Marsha Sukma, Asisten Marketing & Communication Manager Alpines by ARTOTEL, sembari menunjukkan desain yang dimaksud di gawainya. Bentang alam Kota Batu yang bergunung-gunung dan dihiasi dengan lembah-lembah yang menawan terbayang jelas di kutipan tersebut.

Hotel Alpines by ARTOTEL

Mural Bergambar Peta Kota Batu

Photowalk Komunitas MALANG LOCAL GUIDES


Sore itu, Selasa (23/10/18) pukul 15:00-18:00 WIB, komunitas MALANG LOCAL GUIDES berkesempatan melakukan hotel visit sekaligus photowalk di hotel Alpines by ARTOTEL, Jl. Trunojoyo no. 9, Kota Batu, Jawa Timur, yang direncanakan akan mulai beroperasi pada bulan November 2018 mendatang. Alpines by ARTOTEL merupakan sebuah hotel bisnis bintang 4 anggota Curated Collections by ARTOTEL Group yang memadukan konsep gaya hidup dan resort dalam desain dan pelayanannya. Tak kurang dari 12 anggota komunitas MALANG LOCAL GUIDES menghadiri meet up dan photowalk kali ini.

"Mohon maaf datangnya agak terlambat karena di Malang hujannya deras sekali," ucap salah seorang peserta apologetik. Cuaca yang kurang menentu akhir-akhir ini kadang membuat janji bertemu menjadi sedikit meleset. Di Kota Batu sore itu cuacanya mendung-mendung manja. Khas cuaca daerah pegunungan.

Mural Bergambar Peta Kota Batu

Nescafé Dolce Gusto Menjadi Standar di Setiap Kamar Alpines by ARTOTEL

Koridor Berhias Mural


Menjulang setinggi enam lantai dan satu lantai rooftop, Alpines by ARTOTEL melibatkan tujuh orang seniman lokal dalam mempercantik dinding-dinding hotelnya, dengan tiap satu orang seniman diberikan keleluasaan menghias satu lantai dengan karya seni mural khasnya. Dan masing-masing keenam lantai tersebut dihiasi instalasi mural dengan tema yang berbeda. 

Di antara ketujuh seniman yang dilibatkan terdapat nama-nama seperti misalnya Ebby Dwijaya yang khas dengan seni pop dan gambar-gambar menyerupai malaikat dalam ukuran mini, lalu Evan Raditya Pratomo alias Papercaptain dengan seni ukiyo-e yang khas, serta seniman asli Kota Batu, Suwandy Waeng, yang tersohor dengan karya-karya transparency dan layeringnya. Khusus untuk Suwandy Waeng, ia dipercaya mengerjakan lobby dan area publik lainnya. Sejak tahun 2011 ARTOTEL memang terkenal dengan perhatiannya terhadap seni kontemporer Indonesia.

Out of the Blue

Area Lobby

Memberikan Rating dan Ulasan di GOOGLE MAPS


Acara meet up komunitas MALANG LOCAL GUIDES kali ini bertempat di "Out of the Blue" (OOTB), café yang menyediakan kudapan-kudapan ringan dan berbagai minuman yang diracik khusus dengan sentuhan bahan-bahan lokal pilihan. Yang menarik, nama OOTB ini digunakan secara harafiah dengan menanggalkan unsur warna biru dalam rancangannya.

Selain OOTB, di Alpines by ARTOTEL juga terdapat dua tempat makan lainnya, yakni "Sangkar" yang merupakan restoran berkonsep buffet breakfast dengan masakan-masakan Indonesia dan oriental, dan "Sky Lounge" di area rooftop dengan menu-menu American dan barbeque. 

Berfoto Bersama Kaktus Artistik

Area Lobby

Bersantai di Satu Sudut Out of the Blue


Sembari menunggu beberapa peserta meet up yang lain datang, beberapa orang mulai memesan minuman dan kudapan-kudapan ringan. Satu minuman yang laris dipesan adalah Wastu Island, racikan teh dan beberapa rempah lokal serta daun mint yang akan menimbulkan sensasi hangat yang bertahan lama di tubuh, cocok dengan udara Kota Batu yang dingin. Menurut Rangga Handika, Food & Beverages Manager Alpines by ARTOTEL, beberapa rempah yang digunakan diambil langsung dari petani-petani yang ada di sekitaran Kota Batu.

"Beberapa rempah diambil dan dipilih langsung dari pengepul di Gunung Panderman sebelum rempah-rempah tersebut mereka jual di pasar," tuturnya.

Pun kopi yang ditawarkan. Ia diracik secara khusus oleh jawara roaster kopi Indonesia: Common Grounds Coffee Roasters; juara Barista tahun 2014, 2016, 2017, juara Latte Art 2014-2018, Brewers 2018, dan juara Cup Tasters 2018. Di jaringan ARTOTEL mereka menggunakan merek dagang Buka Mata. Dan kopinya memang benar-benar bisa membuat mata peminumnya terbuka. Nikmat sekali!

Instalasi Rotan di Langit-langit Area Lobby

Photowalk

Out of the Blue


Dan begitu makanan dan minuman yang dipesan datang, tanpa sungkan para peserta meet up komunitas MALANG LOCAL GUIDES mengeluarkan ponsel pintar masing-masing untuk coba mengambil foto-foto makanan dan minuman tersebut dari sudut terbaik. Beberapa peserta bahkan sampai bergeser ke lokasi lain untuk mendapatkan pencahayaan dan pemandangan latar yang optimal.

Cahaya Masuk dari Atap Area Lobby

Difoto Sebelum Disantap

Yakiniku Noodles


Tepat pukul 16:30 WIB Marsha mengajak peserta photowalk berkeliling ke seputaran hotel. Namun karena hotel Alpines by ARTOTEL ini belum seratus persen rampung, maka photowalk hanya bisa dilakukan di beberapa kamar di lantai 1 dan area lobby. Di lantai 1, persis di depan lift, terdapat mural Kota Batu yang digambar secara pop khas anak muda. Di lokasi ini beberapa peserta menyempatkan untuk berswafoto dengan gayanya masing-masing.

Setelah puas, tur kemudian berlanjut masuk ke beberapa kamar yang ada di lantai 1. Di sepanjang koridor untuk menuju kamar dihiasi dengan mural bertema Air, yang ketika masuk ke dalam kamar pun masih ditemui mural dengan tema yang sama. Sehingga ada satu kesatuan tema yang padu yang dimulai bahkan sejak di koridor dan bukan hanya di kamar. Di lokasi ini peserta photowalk mengambil foto banyak-banyak serta menyempatkan memberikan rating dan ulasan di Google Maps. Di Alpines by ARTOTEL tersedia sebanyak 142 kamar dengan 6 tipe kamar dan 4 kamar suite, yaitu Studio 25, Studio 30, Loft 40, Studio 50, Artotel Suite, serta Alpines Suite.

Photowalk

Sebagian Peserta Photowalk

Kesibukan di Dapur Out of the Blue


Area lobby menjadi jujugan photowalk komunitas MALANG LOCAL GUIDES berikutnya. Di area ini didapati instalasi anyaman rotan berbentuk awan putih yang berarakan di langit-langit. Menurut Marsha, di area ini nantinya akan disediakan beberapa bean bag untuk pengunjung bersantai seperti di pantai. Dan kalau mereka tidur-tiduran, niscaya mereka akan merasakan sensasi sedang berada di area luar ruang karena efek cahaya matahari alami, awan-awan buatan di atas kepala, serta angin yang bertiup lembut di area lobby ini.

"Standar rancangan ARTOTEL adalah dengan mengadopsi kekhasan lokal tiap lokasi. Untuk Alpines by ARTOTEL dimasukkan nuansa alam yang merupakan kekhasan Kota Batu, serta art (seni) yang belum ada di hotel-hotel lain di kota ini. Konsep ini yang membuat Alpines by ARTOTEL unik," terang Marsha.

Alpines by ARTOTEL mengintroduksi unsur-unsur alam ke dalam konsep rancangannya. Unsur Tanah, untuk tempat tinggal yang membumi, Cahaya dengan penggunaan jendela-jendela kaca besar yang memungkinkan cahaya alami masuk secara melimpah, Angin untuk udara yang bersirkulasi dengan sangat baik, Air dengan kolam air dan ikan, serta unsur Api untuk restoran yang menyajikan sajian-sajian khas Alpines by ARTOTEL.

Welldone Culinary

Out of the Blue dengan Logonya yang Kuning Cerah

Berpose di Depan Logo Alpines by ARTOTEL


Waktu beranjak senja. Di luar, langit mulai menggelap. Dan bulan yang belum bulat sempurna sudah menampakkan wujudnya. Sesi photowalk akan segera diakhiri. Dan ketika Penulis memeriksa kamera, busyet! Ternyata sudah cukup banyak foto yang Penulis ambil. Bahkan indikator baterai menunjukkan sisa satu garis saja! Hotel ini terlalu indah untuk diabadikan, bahkan ketika ia masih belum rampung sepenuhnya.

"Seluruh tempat di hotel ini dirancang instagramable," jelas Marsha sembari tersenyum.

Bhaique!!

Acara meet up dan photowalk komunitas MALANG LOCAL GUIDES di hotel Alpines by ARTOTEL, Kota Batu, pun ditutup dengan sesi foto bersama. Ah, dunia yang indah. Puji syukur kepada Tuhan Semesta Alam.

Pulang

Menikmati Senja, Memandangi Pohon Kelapa

Alpines by ARTOTEL



—————
Foto dan Teks: ARIO WICAKSONO

Mencicipi Kudapan Khas Thailand di Black Canyon Coffee, Malang

Halo, semua! Apa kabar? Semoga sehat selalu. Kali ini, kami dari Malang Local Guides dan teman-teman Batu Local Guides berkumpul di Black Canyon Coffee, Malang. Pasti teman-teman pecinta kuliner sudah tahu atau pernah mendengar tentang restoran ini. Benar, restoran ini terkenal dengan kuliner khas Thailand-nya yang sangat lezat dan ramai digandrungi anak muda. Bentuk bangunan dan interiornya yang menarik, membuat siapapun pasti betah berlama-lama. Apalagi, ada hiburan live music + DJ yang siap meramu nada-nada yang asyik didengar, tentu semakin larut dibuatnya.

(foto depan)

Black Canyon Coffee Malang sendiri merupakan cabang franchise langsung dari Black Canyon Coffee Thailand, sehingga untuk rasa tidak perlu diragukan lagi. Namun, pastinya menu disini sudah dapat dipastikan 100% Halal karena menyesuaikan dengan pangsa pasar di Indonesia. Menunya pun beragam, mulai dari desert hingga makanan utama + makanan penutup. Black Canyon Coffee Malang sendiri terkenal dengan menu-menu andalannya yaitu Pad Thai, Tom Yum, Thai Tea, Coffee Latte, dan Black Avocado Latte. Kami tentu penasaran dong, senikmat apa sih menu-menu ini sampai sering dibicarakan orang? Akhirnya kami pun memesan kelima menu tersebut untuk dicoba dan dibuktikan :)

Pad Thai khas Black Canyon Coffee Malang

Menu yang pertama kami coba adalah Pad Thai. Hmm sekilas memang terlihat seperti kwetiaw ya, tapi ukurannya lebih kecil dan teksturnya lebih halus. Lengkap dengan  udang besar, tauge segar, jeruk nipis, dan gerusan kacang goreng di sampingnya, serta garnish yang memikat. Dari tampilannya, sepertinya cukup membuat beberapa dari kami gak sabar!

Duh semangatnya, sampe rebutan gitu nyoba-nya! Hehe
Saat dicoba, hmm ternyata memang jauh melebihi ekspektasi kami. Bisa dibilang, ini salah satu Pad Thai terenak yang pernah kami coba. Rasanya nikmat, tidak pedas, dan terasa pas dengan kacang goreng dan tauge segarnya. Bisa juga kita tambahkan perasan jeruk nipis jika ingin rasa yang lebih segar.
Setelah asyik mencicipi Pad Thai, kami pun beranjak ke menu berikutnya, yaitu Tom Yum. Sebagian orang berkelakar bahwa Tom Yum ini seperti lodeh-nya Thailand. Yup, tampilannya sekilas memang menyerupai lodeh, mungkin karena kuahnya yang bersantan. Tapi ini jauh lebih segar, dengan tofu, udang, dan beberapa lauk lainnya ditambah kuah yang sedikit asam.

Tom Yum khas Black Canyon Coffee Malang

Saat mencobanya, memang rasanya agak sedikit terlalu asam menurut kami. Porsinya cukup besar, bisa dinikmati 2 orang sekaligus. Beranjak dari hidangan-hidangan berat, kami pun mencicipi minumannya yang tak kalah menggoda. Salah satu waitress pun datang dan menyuguhi kami segelas penuh jus alpukat. Yup, Black Avocado Latte. Si hijau manis ini cukup sering dipesan orang-orang karena rasanya yang manis gurih ditambah dengan 1 scoop es krim vanilla, menghasilkan perpaduan rasa yang pas. Uniknya, penyajiannya menggunakan gelas unik berbentuk sepatu boots, tentu sayang rasanya jika tidak diabadikan terlebih dahulu.

Black Avocado Latte ala Black Canyon Coffee Malang
Outdoor seating

Foto bersama

Mini sandwich (Paket Mahasiswa)

Fasilitas permainan di Black Canyon Coffee Malang

Me-review Black Canyon Coffee Malang ala Local Guides