Slider

New Info

Aktifitas Malang Local Guides

Kuliner Malang

Wisata Malang

Aktifitas Malang Local guides

Kiprah MMI dalam Mempersiapkan Ambon Menuju Kota Musik Dunia


Ambon menuju Kota Musik Dunia yang diakui oleh UNESCO. Dan Museum Musik Indonesia (MMI) memiliki andil yang tak bisa dianggap remeh. Seperti apa kiprahnya?
———

Ratna Sakti Wulandari (kiri) dan Ir. Hengki Herwanto, MBA (kanan)


PADA bulan Juni tahun 2019 mendatang kota Ambon, Maluku, berencana mengajukan diri untuk menjadi Kota Musik Dunia kepada UNESCO. Untuk bisa mendapatkan pengakuan tersebut, beberapa persyaratan musti bisa dipenuhi, di antaranya kota Ambon harus bisa menunjukkan adanya dampak ekonomi yang signifikan dari kegiatan musik di kota tersebut, adanya perguruan tinggi musik, memiliki gedung konser musik dan studio rekaman bertaraf internasional, dan lain sebagainya.

Museum Musik Indonesia (MMI) turut menyiapkan Ambon menuju Kota Musik Dunia


Dalam rilis yang diterima oleh malanglocalguides.com, disebutkan cita-cita Pemerintah untuk mewujudkan Ambon sebagai Kota Musik Dunia sebetulnya sudah dicanangkan sejak tahun 2016 silam. Dan setelah melalui beberapa proses, maka pada 29 Oktober 2018 lalu telah ditandatangani sebuah nota kesepahaman antara Ir. Hengki Herwanto, MBA, selaku Ketua MMI, dengan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, S.H., di mana kedua belah pihak telah bersepakat untuk mendukung pembentukan dan pelaksanaan Pusat Dokumentasi Musik Nasional (PDMN) di kota Ambon sebagai salah satu langkah strategis untuk Ambon menuju Kota Musik Dunia.

Sebagian piringan hitam koleksi musik Ambon - Maluku

Hal tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Ambon Music Office (AMO) cq Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon dengan menerbitkan Surat Perintah Kerja (SPK) kepada MMI untuk pengadaan perlengkapan atau sarana yang akan menjadi koleksi PDMN.

Baca juga: Profil Museum Musik Indonesia: Museum musik pertama di Indonesia

"Pada Kamis (27/12/18) besok (perwakilan) MMI akan bertolak menuju Ambon dengan membawa 100 keping CD musik, 100 kaset, 100 buah piringan hitam, dan 100 buku katalog musik Ambon untuk membantu persiapan Ambon menuju Kota Musik Dunia," ujar Hengki dalam jumpa wartawan yang digelar di MMI Jl. Nusakambangan no. 19, Kota Malang, Rabu (26/12/18). Dalam jumpa wartawan kali ini Hengki didampingi oleh Ratna Sakti Wulandari, pimpinan proyek, dan Sylvia Saartje, lady rocker pertama Indonesia berdarah Ambon yang saat ini tinggal di kota Malang.

Piringan hitam grup musik Giant Step


Di antara koleksi musik yang akan diserahkan tersebut, terdapat koleksi piringan hitam yang dirasa istimewa, di antaranya album karya Pusaka Massada, album musik Daniel Sahuleka (musisi Belanda berdarah Ambon), piringan hitam Sylvia Saartje, album bertanda tangan Oscar Harris, Ludruk RRI Surabaya "Onde-onde Ning Minah", serta piringan hitam grup musik Giant Step, yang mana Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), pernah menjadi salah seorang personelnya.

Sebagian koleksi kaset musik Ambon - Maluku


Menurut Hengki, selain kota Ambon, sebetulnya kota Bandung, Medan, dan juga Malang, juga memiliki potensi untuk mengajukan diri sebagai Kota Musik Dunia. Namun karena Ambon yang sudah dari awal mencanangkan akan mengajukan diri untuk menjadi Kota Musik Dunia, serta Bekraf juga menilai Ambon memiliki kesiapan yang lebih ketimbang kota-kota lainnya, maka kota Ambonlah yang kemudian akan diajukan sebagai Kota Musik Dunia kepada UNESCO.

Baca juga: Aktivitas Malang Local Guides: Meetup dan photowalk di Museum Musik Indonesia

"Masyarakat Ambon memiliki intuisi musik yang sangat kuat," ujar Hengki. "Ketika di gereja dimulai paduan suara, maka mereka secara otomatis bisa mengatur sendiri pembagian suaranya."

Ir. Hengki Herwanto, MBA (kiri) bersama Sylvia Saartje (kanan)


Dengan memperhatikan hal-hal yang semacam itu, tentulah layak bagi Ambon untuk diajukan menjadi satu Kota Musik Dunia kepada UNESCO. Dan langkah seperti yang ditempuh oleh MMI untuk turut menyiapkan Ambon menuju Kota Musik Dunia ini tentulah perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam kapasitasnya masing-masing.

"Pewarisan budaya musik tradisi sangat penting," tutup Hengki.

Pendaftaran kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia akan dilakukan pada bulan Juni 2019, yang selanjutnya akan dilakukan pemaparan kepada UNESCO pada bulan September 2019 di Italia, dan diharapkan pada bulan Oktober 2019 UNESCO bisa menerbitkan sertifikat pengakuan kepada kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia.

Berfoto bersama awak media (dok. MMI)

—————

TEKS : Ario Wicaksono
FOTO: @iorikun301


Sosialisasi GOOGLE MAPS bersama GERKATIN Kota Malang




MEMASYARAKATKAN Google Maps dan Meng-Google Maps-kan masyarakat. Sebagai bagian dari komunitas global Google Local Guides, kami, MALANG LOCAL GUIDES, tentu memiliki kepentingan agar semakin banyak orang yang bisa memetik manfaat dari keberadaan aplikasi Google Maps.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka pada Minggu (25/11/18) yang baru lalu komunitas MALANG LOCAL GUIDES mengadakan meet up sekaligus melakukan sosialisasi tentang penggunaan aplikasi Google Maps kepada kelompok Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Kota Malang.

Sebagian Peserta


Acara tersebut mengambil tempat di kantor Gerkatin Kota Malang Jl. Ijen no. 34, Kota Malang, dan berlangsung dari pukul 08:00-10:00 WIB. Tak kurang dari 30 orang peserta menghadiri acara yang dikemas santai ini. Dan untuk membantu kelancaran komunikasi selama acara, kami dibantu oleh Yanda Sinaga, guru bahasa isyarat, yang akan menerjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) maupun sebaliknya.

Dibantu Menterjemahkan Bahasa Isyarat oleh Yanda Sinaga (berdiri)


Tepat pukul 08:00 WIB acara dibuka oleh Ario Wicaksono, anggota MALANG LOCAL GUIDES, yang menyampaikan maksud kedatangan teman-teman local guides ke sini, yakni untuk mensosialisasikan penggunaan aplikasi Google Maps.

Walaupun sudah dibantu oleh Yanda Sinaga untuk menerjemahkan kata-katanya ke dalam Bisindo, namun Ario juga mencoba menggunakan bahasa isyarat untuk memperkenalkan dirinya kepada teman-teman tuli yang hadir kendati masih sangat terbata-bata. Menurut pengakuannya, ia baru mempelajari penggunaan bahasa isyarat tersebut selama tiga puluh menit.

"Langsung bisa!" ungkapnya.

Panduan Alfabet Bahasa Isyarat Indonesia yang Ternyata Tidak Terlalu Susah


Acara kemudian dilanjutkan dengan pengenalan penggunaan aplikasi Google Maps yang disampaikan oleh Bambang Afrianto, salah seorang senior di MALANG LOCAL GUIDES sekaligus Batu Local Guides. Dalam sesi ini Bambang mengajarkan cara memberikan rating dan ulasan untuk tempat-tempat yang ada di Google Maps.

"Rating bintang 1 artinya kamu benci (dengan pelayanan di tempat itu), tapi kalau bintang 5 itu artinya cinta," terang Bambang.

Selama sesi ini rekan-rekan local guides yang lain mendampingi teman-teman Gerkatin. Mereka nampak antusias sekali belajar memberikan rating dan ulasan di Google Maps. Bahkan ketika ada yang salah memberikan rating bintang 1 padahal yang dimaksudkan adalah memberikan rating bintang 5, ia berkali-kali meminta pemakluman dan segera memperbaiki ulasannya. Kami pun serentak tertawa dan memaklumi. Yang namanya belajar, tak perlu takut salah, bukan? :)

Mendampingi Belajar Penggunaan Google Maps


Selain mengajarkan tentang cara memberikan rating dan ulasan, Bambang Afrianto juga mencoba menambahkan tempat di Google Maps karena diketahui kantor Gerkatin Kota Malang ini belum tercatat di Google Maps. Ketika tulisan ini dibuat, lokasi kantor Gerkatin Kota Malang di Google Maps sudah berhasil ditambahkan dan published.

Mendampingi Belajar Penggunaan Google Maps


Dalam acara kali ini, selain bersama-sama belajar tentang cara penggunaan Google Maps, kami juga belajar bahasa isyarat. Rekan-rekan Gerkatin Kota Malang dengan sabar mengajari kami beberapa isyarat dasar, seperti misalnya alfabet bahasa isyarat Indonesia, isyarat terima kasih (yang mirip dengan isyarat kissbye), serta cara mengatakan Malang Local Guides dan Batu Local Guides dalam bahasa isyarat.

Karena, ternyata, bahasa isyarat ini adalah bahasa yang sangat ekspresif, maka selama belajar bahasa isyarat ini pun kami terbawa dengan aura positifnya.

Belajar Bahasa Isyarat


Di samping mengajarkan kepada kami beberapa isyarat sederhana, ternyata rekan-rekan Gerkatin Kota Malang juga berbaik hati membuatkan simbol isyarat untuk menyebut "local guides." Simbol isyarat "local guides" adalah tangan kiri menunjukkan simbol huruf "L", yang dipadukan dengan tangan kanan menunjukkan isyarat huruf "G" dalam bahasa isyarat internasional yang diletakkan tepat di bawah isyarat huruf "L".

"Sehingga nanti kalau Local Guides ingin berfoto, bisa sambil menunjukkan isyarat ini," ucap ibu Sumiati, pengurus Gerkatin Kota Malang.

Ah, ini hadiah yang sangat menyenangkan bagi kami. :)

Simbol isyarat Gerkatin sendiri adalah huruf "G", namun dengan tangan kanan yang dimodifikasi menunjukkan isyarat "I love you" (mirip dengan simbol salam metal).

Ibu Sumiati (Gerkatin Kota Malang) Menunjukkan Simbol Isyarat untuk Local Guides


Sebelum mengakhiri acara, seluruh peserta pun menyempatkan mengambil foto bersama di halaman kantor. Turut pula berfoto bersama dua orang dari Gerkatin Kota Malang yang mengenakan kostum karnaval yang baru saja berkeliling di area hari bebas kendaraan bermotor. Kemudian kami pun berpisah dengan sebuah janji untuk kembali bertemu di kelak kemudian hari.

Belajar Penggunaan Google Maps


Terima kasih kepada Dini Rachmawati yang sudah memperkenalkan MALANG LOCAL GUIDES kepada Gerkatin Kota Malang, ibu Sumiati pengurus Gerkatin Kota Malang yang sudah menyambut kami dengan tangan terbuka, Bambang Afrianto yang sudah berkenan menyampaikan materi cara penggunaan Google Maps, Yanda Sinaga yang menjembatani komunikasi di antara kami, serta seluruh rekan MALANG LOCAL GUIDES, Batu Local Guides, dan Gerkatin Kota Malang yang sudah menyempatkan hadir.

Sampai jumpa di #MalangLocalGuidesMeetUp selanjutnya. Salam! (iori)


Persiapan Berfoto Bersama



—————

TEKS: Ario Wicaksono
FOTO: @iorikun301

Berbagi Cinta Bersama Anak Down Syndrom





Minggu, 27 Mei 2018 segenap member Malang Local Guide menyelenggarakan sebuah event charity bersama anak berkebutuhan khusus (downsyndrom). Event yang diberi nama Ramadhan anak special ini merupakan ajang bakat bagi anak berkebutuhan khusus yang ada di Malang. Tujuannya tidak lain untuk berbagi cinta dan keceriaan dengan memberikan kesempatan anak-anak special untuk unjuk kebolehan. 

Bentuk kegiatannya adalah :
Lomba fashion show,Lomba photo, Lomba Puzzle, Talkshow Menjadi Orangtua ABK Yang Smart dan pembagian doorprize.

Event yang berlangsung di MakanNakam Sarinah plaza ini berlangsung sangat meriah berkat dukungan para sponsor yang terlibat, salah satunya komunitas Worlds, sebuah komunitas pemerhati downsyndrom.




Terima kasih untuk teman teman Malang Local Guide yang telah bekerja keras hingga event ini bisa terselenggara. Banyak pelajaran yang didapat dari anak-anak special ini. 

FOODCRAWL di CADBURY TERRACE Sawojajar


PERCAYAKAH Anda bahwa sensasi menggaruk punggung yang gatal bisa terasa sama nikmatnya seperti ketika kita mengunyah sebatang coklat Cadbury? Penulis percaya. Hehee.. Perbandingan yang terasa janggal, memang. Menggaruk punggung yang gatal, dan mengunyah sebatang coklat Cadbury. Apa hubungannya, coba?

Tapi itulah yang ditunjukkan di dalam video iklan coklat Cadbury ketika mereka merilis slogan pemasaran terbarunya "Tastes Like This Feels" pada 2 April 2016 lalu: seekor beruang diperlihatkan sedang keenakan menggaruk-garukkan punggungnya ke batang sebuah pohon di hutan. Dari gesturnya, ia terlihat benar-benar menikmati. Barangkali yang hendak mereka sampaikan: Kalau kamu makan coklat Cadbury, maka sensasi nikmatnya akan sama seperti yang dirasakan si beruang yang sedang menggaruk gatal di punggungnya. Alias: Ini enak banget, Maliiihh!!

Bercengkrama di Area Outdoor Cadbury Terrace


Agaknya pesan seperti itulah yang juga coba disampaikan oleh kafe CADBURY TERRACE di Jl. Danau Sentani Raya blok E3G no. 25, Sawojajar, Kota Malang ini. Ia memasang slogan coklat Cadbury tersebut di atas sebagai tagline-nya. Rasa mewah coklat Cadbury akan terasa sama enaknya dengan apapun hal enak-enak yang sedang kamu lakukan. ((( e n a k - e n a k )))

Dicky, pemilik kafe ini, mengungkapkan bahwa kafe yang berdiri sejak Juni 2016 ini menggunakan slogan yang sama seperti yang digunakan oleh coklat Cadbury di seluruh dunia adalah karena kafe ini memiliki afiliasi langsung dengan PT Mondelez Indonesia, produsen beberapa merk kudapan ternama di Indonesia yang di antaranya coklat Cadbury, Toblerone, Oreo, keju Kraft, serta biskuit Biskuat. Tak heran makanan dan minuman yang disajikan di kafe ini semuanya menggunakan produk coklat Cadbury dan produk-produk Mondelez Indonesia lainnya.

"Pada mulanya ini adalah kantor Cadbury untuk wilayah Malang," tutur Dicky. "Kemudian kami mengembangkannya menjadi sebuah kafe."

Hujyan Becyek Enggak Ada Ojyek


Salah satu minuman favorit Penulis di kafe ini adalah Cadbury Original Hot. Cocok untuk dinikmati di sore hari yang dingin. Rasa coklatnya yang lembut terasa nikmat sekali di lidah. Bukan rasa yang pahit dan keras, melainkan rasa coklat Cadbury yang mewah dan khas. Cara paling baik menikmatinya adalah dengan menyeruputnya pelan-pelan selagi hangat, kemudian rasakan sensasi rasa khas coklat Cadbury-nya menggelitiki lidah Anda. Betul-betul nikmat! Penulis sampai merem-melek dibuatnya.

Berbincang Sembari Menunggu Hujan Reda


Tapi Penulis bukan orang jahat, Sobat MLG. Penulis tidak tega menikmati enaknya kudapan di kafe berkonsep outdoor ini seorang diri. Malah, Penulis datang berdua puluh(!). Kok banyak? Karena di hari itu, Sabtu (17/11/18) pukul 15:00-19:00 WIB, kami, komunitas MALANG LOCAL GUIDES, sedang ada agenda foodcrawl. Dan ini adalah salah satu agenda meet up favorit Penulis. #yha

Meet up? Foodcrawl? Makhluk apakah itu, Fulgoso?

Begini, Rosalinda. Meet up adalah sebutan untuk kegiatan kopi darat alias kumpul-kumpul informal dengan sesama Local Guide di kota Anda. Meet up memiliki 4 jenis kegiatan, yakni geowalk, photowalk, map editing, serta foodcrawl.

Bincang Santai Tentang Bermedia Sosial yang Efektif Bersama Lidya Charolina


Geowalk berarti kita menjelajah ke tempat-tempat baru di sekitar kota tempat kita tinggal, memotret, memutakhirkan daftar bisnis lokal, serta menuliskan ulasan tempat tersebut di GOOGLE MAPS. Sedangkan photowalk adalah kita bersama rekan-rekan Local Guides lainnya pergi ke tempat-tempat yang fotogenik dan ikonis di kota kita, memotret, lalu mengunggahnya ke GOOGLE MAPS.

Kemudian map editing. Kegiatan ini memiliki agenda memutakhirkan daftar bisnis lokal di kota kita dengan memanfaatkan fitur "add a place" maupun "suggest an edit" di GOOGLE MAPS. Dan yang terakhir foodcrawl. Meet up dengan agenda foodcrawl dilakukan dengan cara bersama-sama pergi ke suatu tempat makan baru di kota, lalu mencicipi berbagai hidangan yang tersedia, serta tidak lupa memotret dan mengunggah ulasan tentang tempat makan tersebut di GOOGLE MAPS.


Dicky, Pemilik Cadbury Terrace


Sedianya kegiatan foodcrawl MALANG LOCAL GUIDES di CADBURY TERRACE dimulai pukul 15:00 WIB. Namun karena di sore itu ternyata tiba-tiba turun hujan yang cukup deras, sebagian besar peserta foodcrawl menjadi terlambat datang. Sembari menunggu peserta yang lain datang, Lidya Charolina berbaik hati mengisinya dengan membagikan beberapa tips bermedia sosial yang efektif dan bisa menjangkau lebih banyak audiens.

"Perhatikan jam memposting konten, karena kalau diposting di tengah malam siapa yang akan membaca?" terangnya.

Erny K., Host Meet Up


Kemudian tepat pukul 18:00 WIB acara foodcrawl akhirnya dibuka oleh host meet up, Erny K. Ia membeberkan secara singkat maksud dan tujuan meet up MALANG LOCAL GUIDES kali ini, yakni untuk mencicipi beberapa menu kudapan di kafe ini serta mengunggahkan ulasan di GOOGLE MAPS.


Ketika Malam Tiba, Tempat Ini Menjadi Manis


Setelah Erny K. membuka acara foodcrawl, kemudian Dicky meneruskannya dengan memberikan gambaran singkat tentang kafe CADBURY TERRACE serta menu-menu apa saja yang tersedia. Ternyata tak kurang dari 25 menu minuman dan kudapan ringan berbahan coklat Cadbury tersedia di sini.

"Kami coba mengeksplorasi coklat Cadbury ini bisa dirupakan menjadi penganan apa saja," tutur Dicky. "Salah satunya brownies."

Seorang Local Guide Djempolan Tiada Lupa Mengunggah Ulasan di Google Maps


Kemudian giliran Nunung Afuah, seorang Local Guide dari Blitar, yang membagikan pengalamannya selama mengikuti event Connect Live 2018 pada 16-18 Oktober 2018 yang baru lalu di San Fransisco, California, Amerika Serikat. Nunu, demikian Nunung Afuah biasa dipanggil, adalah satu di antara 5 peserta Google Connect Live 2018 yang berasal dari Indonesia.

Datang Jauh-jauh Dari Blitar: Kak Nunu!


Selain membagikan serunya pengalamannya mengikuti event Google Connect Live 2018 tersebut, kali ini Nunu juga memberikan tips bagaimana sebaiknya memberikan ulasan di GOOGLE MAPS.

"Ketika mereview, fokusnya adalah untuk membantu orang lain. Bukan sekadar menuliskan review yang mengatakan 'enak', 'oke', 'mantap'," ujarnya.

Oke.

Salah Dua Kudapan yang Tersedia di Cadbury Terrace


Di kafe CADBURY TERRACE ini ternyata bukan hanya minuman berbasis coklat Cadbury yang tersedia. Eko, barista kafe ini, mengatakan bahwa mereka juga menyediakan minuman kopi yang biji kopinya didapat dari daerah Malang sendiri, seperti misalnya kopi robusta Dampit dan kopi arabika dari lereng Gunung Arjuno. Favorit Penulis: kopi arabika luwak Arjuno dengan metode seduh V60. Lembut rasanya, kuat aromanya. Mashok, Pak Eko!!

Pak Eko, Barista


Acara foodcrawl MALANG LOCAL GUIDES malam ini gayeng sekali. Interaksi antar Local Guides terlihat cair tanpa sekat walaupun ada beberapa di antara mereka yang rupa-rupa baru kali pertama ini saling bertemu. Selain ngobrol-ngobrol, makan, dan minum, sebagai Local Guides tentu tak lupa kami juga memberikan rating dan ulasan untuk kafe ini di GOOGLE MAPS. Kendati ini adalah meet up bersponsor, namun kami tetap memberikan ulasan yang obyektif dan kredibel, sehingga pengguna GOOGLE MAPS lainnya akan bisa mengenal tempat ini dan memutuskan apakah memang kafe ini yang cocok dengan selera mereka.

Memotret Kudapan yang Disajikan Sebelum Memakan


Tepat pukul 19:00 WIB agenda foodcrawl di CADBURY TERRACE pun diakhiri. Semua anggota MALANG LOCAL GUIDES pulang dengan bahagia. Bukan cuma karena sudah makan dan minum, namun juga karena sudah mendapatkan sharing ilmu yang berharga dari pembicara-pembicara tersebut di atas.

Seperti itu. Ada pertanyaan, Rudolfo?

Menikmati Kopi Tubruk


CADBURY TERRACE terletak di Jl. Danau Sentani Raya blok E3G no. 25, Sawojajar, Kota Malang. Buka setiap hari pukul 15:00-24:00 WIB. Pertunjukan live music akustik oleh Major Minor Entertainment setiap hari Selasa, Jumat, dan Minggu. (iori)



—————

FOTO-FOTO: @iorikun301
TEKS: Ario Wicaksono

Meet Up dan Photowalk di Museum Musik Indonesia


"HANYA cinta yang bisa membuat MMI (Museum Musik Indonesia) tetap berjalan sampai sekarang," ucap Abdul Malik, Humas Museum Musik Indonesia, berapi-api. Semangat dan kecintaannya terhadap musik seolah menghipnotis kami berduapuluh untuk menyimaknya dengan khidmat. "Dengan musik kita bisa menebarkan kedamaian!"

Ya, siang itu, Sabtu (03/11/18), komunitas MALANG LOCAL GUIDES, memang sedang mengadakan meet up dan photowalk di Museum Musik Indonesia (MMI) yang berlokasi di Jl. Nusakambangan no. 19, Kota Malang. Dan yang bertindak sebagai host meet up kali ini adalah Khulaifatur Rosidah. Selain bertujuan untuk saling mengenal antar anggota komunitas MALANG LOCAL GUIDES, kegiatan ini juga bermaksud untuk mensosialisasikan keberadaan museum musik yang agaknya masih belum terlalu banyak orang yang tahu.

"Saya sering lewat di daerah ini, tapi tidak pernah tahu kalau ada museum seperti ini di sini," aku salah seorang anggota komunitas MALANG LOCAL GUIDES malu-malu.

Sebagian Koleksi Kaset yang Dikoleksi MMI

Khulaifatur Rosidah (Baju Merah) Menyampaikan Kata Pembuka


Dari data yang dicatat oleh Asosiasi Museum Indonesia (AMI), per Januari 2016 terdapat sebanyak 428 museum di seluruh Indonesia dengan 51 museum di antaranya berada di Jawa Timur. Dan Museum Musik Indonesia ini merupakan museum musik satu-satunya di Indonesia. Tak kurang dari 21 ribu koleksi musik dari seluruh penjuru nusantara bahkan dunia tersimpan di sini. Koleksinya mulai dari kaset, piringan hitam, cakram padat, buku, majalah, alat-alat musik etnik nusantara, serta barang-barang memorabilia dari musikus-musikus ternama.

"Kalau Anda tahu grup musik lawas Dara Puspita, museum ini menyimpan salah satu kostum yang pernah mereka gunakan ketika manggung," tutur Abdul Malik bangga.

Dara Puspita adalah grup musik perempuan asal Surabaya yang aktif dari tahun 1960-1974 yang popularitasnya kala itu disebut-sebut mampu menyaingi grup musik legendaris Deep Purple. Dara Puspita digawangi oleh Titiek Adji Rachman (gitar melodi), Lies Soetisnowati Adji Rachman (bas), Susy Nander (drum), dan Ani Kusuma (gitar pengiring). Salah satu lagu Dara Puspita yang terkenal adalah "Burung Kakak Tua". Dan menurut info, film biopik grup ini akan segera diproduksi oleh salah satu rumah produksi yang cukup ternama di Indonesia.

Hengki Herwanto (kanan), Ketua MMI

Sebelum Dimulai, Masing-masing Peserta Memperkenalkan Diri


Setelah semua peserta yang hadir saling memperkenalkan diri, Hengki Herwanto, ketua Museum Musik Indonesia, kemudian menceritakan secara singkat awal berdirinya museum ini.

"Museum ini bermula dari garasi kecil di rumah ibu saya di daerah Griya Shanta, yang kemudian berkembang menjadi Galeri Malang Bernyanyi (GMB), dan akhirnya menjadi Museum Musik Indonesia seperti sekarang ini," tuturnya. Cerita mengenai perjalanan Museum Musik Indonesia bisa dilihat di tautan berikut: Museum Musik Indonesia: Museum Musik Pertama di Indonesia

Semua peserta menyimak penuturan Hengki dengan antusias, sembari sesekali menjepretkan kamera mereka ke hal-hal yang dirasa menarik.

Abdul Malik, Humas MMI

Peserta Meet Up dan Photowalk di MMI


Bukan hanya disuguhi cerita, Hengki kemudian mengajak seluruh peserta meet up untuk mengenal alat pemutar musik piringan hitam (vinyl). Kendati sudah cukup berumur, ternyata pemutar piringan hitamnya masih bisa bekerja dengan normal. Ari, salah seorang pengurus di Museum Musik Indonesia ini, kemudian mendemokan bagaimana cara kerja alat ini.

Ia memilih sebuah piringan hitam dari album "Goodbye to You, Nona Manis" oleh The Amboina Serenaders lalu memasangkan jarumnya dengan hati-hati. Dan suara yang keluar dari pelantamnya, uh, sungguh kharismatik! Indah! Memang kualitas suaranya diakui tidak sejernih alat-alat pemutar musik modern, terutama digital. Namun setiap orang yang berkesempatan mendengar musik dari piringan hitam ini Penulis rasa akan merasakan aura yang berbeda. Aura yang bersahaja. Anda musti coba!

Pengunjung yang ingin mendengar musik dari piringan hitam bisa meminta kepada petugas museum untuk diputarkan. Biayanya 5 ribu rupiah saja yang akan digunakan untuk pemeliharaan koleksi-koleksi yang ada di museum ini.

Piringan Hitam dan Alat Pemutarnya

Sebagian Koleksi MMI


Setelah puas mendengarkan musik dari piringan hitam, komunitas MALANG LOCAL GUIDES kemudian diajak untuk berkenalan dengan salah satu musik etnik dari Kalimantan: sapek. Alat musik yang penampilan dan cara memainkannya mirip gitar ini ternyata memiliki suara yang khas.

Menurut Hengki, saat ini program Museum Musik Indonesia adalah untuk memperkenalkan alat musik etnik Kalimantan kepada masyarakat luas. Dan grup musik M2I Dawai bentukan museum ini merupakan ujung tombak dari program tersebut. Jadwal pertunjukan mereka selain berkeliling pulau Jawa untuk mempertontonkan permainan alat musik sapek, juga kerap diundang untuk mengisi acara-acara musik di berbagai hotel ternama dan banyak event musik lainnya.

Boni Memainkan Alat Musik Sapek

Menikmati Permainan Sapek oleh M2I Dawai

Bernyanyi Bersama Dalam Iringan Sapek oleh M2I Dawai


Grup musik yang dipunggawai oleh Aziz, Annisa, Alfian, Boni, Lopez, Niko, dan Yono ini kemudian mengajak seluruh peserta meet up yang hadir untuk bersama-sama bernyanyi dengan diiringi petikan alat musik sapek. Lagu yang dinyanyikan di antaranya Cublak-cublak Suweng dan Gundul Pacul. Semua peserta nampak bernyanyi dengan riang. Barangkali teringat dengan masa kanak-kanak mereka yang sering menyanyikan lagu-lagu dolanan semacam ini.

Selain sibuk mensosialisasikan alat-alat musik etnik Kalimantan, ternyata Museum Musik Indonesia juga tengah membantu pembentukan Pusat Dokumentasi Musik Nasional sebagai salah satu syarat dari UNESCO untuk meresmikan Ambon Kota Musik Dunia.

"Nantinya direncanakan akan dibuka satu museum musik di sana," ungkap Hengki.

Merekam Permainan Sapek

Memorabilia Grup Musik God Bless Berupa Gitar Bertandatangan Ahmad Albar dan Ian Antono


Sebelum acara meet up ditutup, Hengki Herwanto menyerahkan kenang-kenangan dari Museum Musik Indonesia kepada komunitas MALANG LOCAL GUIDES berupa satu buah buku karya Pongki Pamungkas yang berjudul "To Love And To Be Loved" yang diterima oleh Bambang Afrianto.

"Pongki Pamungkas adalah salah satu pendiri Museum Musik Indonesia," terang Hengki Herwanto. Bersama Hengki, Pongki menandatangani akta pembentukan Yayasan Museum Musik Indonesia pada tanggal 3 September 2016.

Kemudian seluruh peserta yang hadir pun menyempatkan diri untuk berfoto bersama.

Penyerahan Kenang-kenangan dari MMI oleh Hengki Hermanto (kiri) kepada Malang Local Guides yang Diterima Oleh Bambang Afrianto (kanan)

Sebagian Peserta Meet Up dan Photowalk di MMI


Acara meet up dan photowalk komunitas MALANG LOCAL GUIDES kali ini di Museum Musik Indonesia sungguh berfaedah. Bukan hanya menjadi ajang kumpul-kumpul sesama anggota Local Guides dan berburu foto serta memberikan ulasan di GOOGLE MAPS, namun kita juga menjadi tahu bahwa ternyata di Kota Malang ini ada satu museum yang menyimpan harta karun kebudayaan yang sangat kaya: Museum Musik Indonesia.

Keberadaannya yang begitu vital untuk turut memelihara sejarah musik di Indonesia tentu membutuhkan uluran tangan banyak pihak untuk membuatnya tetap bertahan hingga ke depannya. Dan keberadaan komunitas Local Guides, dengan ulasan-ulasannya di GOOGLE MAPS, semoga mampu mempromosikan keberadaan Museum Musik Indonesia ini bahkan hingga ke tingkat dunia. Museum Musik Indonesia: mengumpulkan, mendokumentasikan, dan mengkonservasi karya musik Indonesia untuk Indonesia dan dunia!

Museum Musik Indonesia buka setiap hari pukul 10:00-17:00 WIB dengan tiket masuk 5 ribu rupiah per pengunjung.

Salah Satu Koleksi di Pojok Ambon Menuju Kota Musik Dunia

Mengisi Buku Tamu MMI


—————
Teks dan Foto: ARIO WICAKSONO