Slider

New Info

Aktifitas Malang Local Guides

Kuliner Malang

Wisata Malang

Aktifitas Malang Local guides

Malang Local Guides

 Malang Local Guides

8 Tips Liburan Nyaman Bersama Google Maps

  Mendekati masa libur Natal dan tahun baru seperti ini, beberapa orang mulai merancang perjalanan liburan mereka. Mau ke mana, bersama siapa, dan hendak berbuat apa. Namun di era tatanan kehidupan baru, banyak hal menjadi lebih rumit ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal yang mesti direncanakan dan dipertimbangkan masak-masak. Oleh karenanya di sinilah Google Maps bisa  membantumu dalam merancang liburan yang aman dan nyaman untuk semua!

_______





8 TIPS LIBURAN NYAMAN BERSAMA GOOGLE MAPS


Penulis: Ario Wicaksono (@iorikun301)

Foto-foto: Google


[MALANG LOCAL GUIDES] Google Maps bukanlah peta (digital) biasa. Seperti potongan dialog ikonis dalam sebuah film seri animasi anak-anak, Dora the Explorer: "Siapa yang kita mintai bantuan kalau kita tidak tahu harus ke mana? Peta. Benar!" maka Google Maps bisa membantumu tak hanya menunjukkan arah perjalanan, melainkan juga merencanakan dan memberikan inspirasi hal-hal menarik apa yang bisa kamu lakukan di sepanjang perjalanan.

"Musim liburan sebentar lagi dimulai. Ini artinya waktunya (bagimu) meluangkan waktu bersama teman, keluarga, dan banyak sekali makanan," tulis Holly Day, Kepala Holiday Innovation Officer - Google Maps, di The Keyword (17/11/2020).

Tak hanya mengingatkan bahwa musim liburan sebentar lagi, Holly Day juga membagikan 8 tips liburan nyaman bersama Google Maps yang bisa kamu pertimbangkan:


1. PERIKSA SEBERAPA RAMAI SUATU LOKASI

Google Maps memiliki fitur yang mampu menunjukkan seberapa ramai suatu lokasi. Infografis yang ditunjukkan di sini antara lain tren seberapa populer tempat tersebut pada hari dan jam yang tertentu, hingga data keramaian saat ini.

Informasi semacam ini tentulah amat bermanfaat untuk kamu yang enggan datang ke tempat-tempat yang sedang ramai pengunjung. Di masa tatanan kehidupan baru seperti sekarang ini, pengambilan jarak sosial adalah hal yang ama disarankan.

"Periksalah (terlebih dahulu) data tren popularitas (suatu tempat) di Google Maps sebelum kamu pergi ke restoran, toko, tempat usaha, maupun tempat-tempat lainnya untuk menghindari kerumunan orang-orang yang sedang berlibur dan antrean yang terlalu panjang," saran Holly Day.





2. CARI TAHU INFORMASI TERBARU TERKAIT COVID-19

Berencana menghabiskan waktu liburan dengan pergi ke luar kota? Ada baiknya kamu terlebih dahulu memeriksa terlebih dahulu berita-berita terbaru tentang perkembangan COVID-19 di kota yang hendak kamu tuju. Untuk itu kamu bisa menggunakan lapisan COVID-19 yang ada di aplikasi Google Maps kamu untuk mengetahui tren jumlah kasus COVID-19 di suatu wilayah.

Pun kamu bisa mengakses berita dari sumber-sumber resmi langsung dari Google Maps di genggaman kamu. Dengan begini kamu bisa tahu perkembangan COVID-19 di kota yang kamu tuju termasuk beragam protokol kesehatan yang diberlakukan di kota tersebut.


3. PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN DI SUATU LOKASI/TEMPAT

Demi keselamatan dan kenyamanan bersama, banyak tempat usaha yang menerapkan protokol kesehatan yang ketat di tempat mereka. Protokol kesehatan apa saja yang diterapkan di suatu lokasi biasanya dicantumkan di laman profil tempat (points of interest; POI) tersebut di Google Maps, baik oleh si pengelola akun maupun dari postingan yang dibagikan oleh pengunjung.

"Cari tahu apakah mereka melakukan sanitasi ulang setiap ada pengunjung baru, adakah (plastik) pemisah di kasir, pun apakah mereka mewajibkan pegawai-pegawai mereka untuk memeriksa suhu tubuh secara berkala," tutur Holly Day.


4. BAGIKAN PERKIRAAN JAM TIBA

"Kalau kamu ingin mengunjungi keluarga terkasihmu, beritahukan kepada mereka jam berapa kira-kira kamu akan tiba. Bagikan perkiraan jam tiba ini dengan hanya beberapa ketukan (di Google Maps)," tulis Holly Day.


5. JANGAN NYASAR!

Sedang merencanakan untuk bertemu kawan lama di suatu tempat di luar ruang dan jarak untuk menuju ke tempat tersebut cukup jauh? Minta kawanmu untuk membagikan lokasi mereka saat ini!

Kata Holly Day: "Ketuk ikon (profil) mereka dan nyalakan (fitur) Live View untuk melihat di mana mereka sekarang dan masih seberapa jauh dari posisimu."

Dengan mengikuti ikon panah dan arah di fitur Live View kamu bisa lebih mudah mengetahui ke mana mesti pergi. Nyasar is so yesterday!





6. SIBUK NYETIR? PAKAI FITUR SUARA GOOGLE ASSISTANT SAJA!

Jika kamu sedang sibuk mengemudikan kendaraan, amatlah disarankan untuk memanfaatkan fitur perintah suara Google Assistant di aplikasi Google Maps kamu. Dengan begini kamu bisa lebih fokus mengemudi tanpa perlu lagi sibuk memencet sana dan sini.

Terhitung sejak akhir November yang baru lalu, para pengguna Android di Amerika Serikat sudah bisa menggunakan Google Assistant ini (versi preview) untuk menjawab atau menolak pangggilan masuk, mendapatkan panggilan peringatan (bahaya) dari Google Assistant, memeriksa sekilas pesan-pesan masuk di beragam aplikasi berbeda yang mereka gunakan cukup di satu tempat, serta memainkan siniar dan musik-musik favorit di ratusan platform musik langganan. 

Ini semua cukup kamu lakukan dengan perintah suara dan tanpa perlu menutup layar navigasi Google Maps di gawai kamu!


7. JANGAN BIARKAN MAKANANMU TERHIDANG SUDAH DINGIN!

Satu lagi keunggulan Google Maps yang bisa dimanfaatkan penggunanya: fitur menyortir rekomendasi rumah makan berdasarkan ketersediaan layanan bungkus (takeout) atau pesan antar, serta memesan makanan langsung dari aplikasi Google Maps di genggaman kamu!

Termasuk: pengguna bisa melihat kapan makanan pesanan mereka siap diantar ataupun diambil di restoran favorit mereka.

"Karena siapa, sih, Sob, yang suka ayam kalkun mereka sudah dingin ketika dihidangkan?" tutur Holly Day.


8. CARI TAHU DI SEKITARMU!

Ketika berkendara, kadang ada saja hal yang membuatmu mesti mencari tempat pemberhentian terdekat. Seperti misalnya bensin sudah mulai tiris, atau ada camilan yang ingin kamu beli di konbini. Untuk itu kamu bisa menggunakan kolom pencarian Google Maps untuk mencari tahu di mana SPBU atau konbini terdekat. Tapi kalau untuk mencari tahu di mana rumah mantan terdekat, rasanya susah, ya, Sob??

Google Maps teman liburan terbaikmu![]





_______

DAFTAR RUJUKAN:

Holly Day. "Google Maps: Your Holiday Sidekick." The Keyword, 17/11/2020, https://blog.google/products/maps/google-maps-your-holiday-sidekick/

Pembaruan Antarmuka Pengguna Google Maps: Alasan Penutupan Tempat

 Google memperbarui antarmuka pengguna untuk pelaporan/usulan penutupan suatu tempat di Google Maps. Dengan pembaruan ini pengguna (pelapor) bisa lebih mudah mengidentifikasi alasan yang mereka gunakan untuk mengusulkan penutupan/penghapusan tempat tersebut.

_______





PEMBARUAN ANTARMUKA PENGGUNA GOOGLE MAPS: ALASAN PENUTUPAN TEMPAT


Penulis: Ario Wicaksono (@iorikun301)

Foto-foto: Google


[MALANG LOCAL GUIDES] Beragam konten yang terdapat di Google Maps berasal dari berbagai sumber, termasuk sesama pengguna Google Maps maupun mitra Google. Hal yang semacam ini membuat tidak tertutup kemungkinan bahwa (sebagian) konten yang ditampilkan di Google Maps tersebut merupakan informasi yang salah atau setidaknya belum termutakhirkan.

Informasi yang salah ini misalnya tempat-tempat yang saat ini sudah tutup/bangkrut namun tercantum (di Google Maps) masih beroperasi, tempat (points of interest; POI) yang merupakan duplikat dari tempat yang sama yang telah terlebih dahulu tercantum, termasuk tempat-tempat yang bersifat ilegal/berpotensi membahayakan pengguna Google Maps. Atas tempat-tempat yang semacam ini Google mendorong para pengguna Google Maps untuk melaporkannya untuk kemudian ditelaah dan ditutup (map edit).

Terkait dengan hal tersebut, belum lama ini Google didapati telah melakukan pembaruan pada antarmuka pengguna (user interface; UI) fasilitas pelaporan/pengusulan penutupan tempat di Google Maps. Jika sebelumnya pengguna hanya disuguhi pilihan alasan penutupan tempat tanpa diberikan penjelasan mengenai apa arti (dan aturan main) dari opsi tersebut, maka pada pembaruan antarmuka pengguna kali ini penjabaran tersebut disediakan.

Penjabaran dari opsi ini ditampilkan sebelum pengguna mengetuk tombol "kirim."


Tempat Tutup Sementara dan Tutup Permanen



ALASAN PENUTUPAN TEMPAT

Ada 8 opsi alasan pengusulan penutupan tempat di Google Maps yang tersedia, yakni tempat tutup untuk sementara waktu, tempat tutup permanen (bangkrut), tempat "ghoib," tempat yang merupakan duplikat dari tempat (yang sama) yang telah ada sebelumnya, tempat yang berpotensi berbahaya/menyerang pihak lain/menyesatkan, tempat yang tertutup untuk umum (hanya dibuka untuk kalangan sendiri), pindah ke lokasi lain, serta alasan lain-lain.

Pada opsi penutupan tempat karena berhenti beroperasi untuk sementara waktu, Google memberikan penjelasan "Anda mengusulkan agar (Google) Maps menunjukkan tempat XXX sebagai sedang berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Tempat (yang akan diusulkan untuk ditutup) tidak boleh ditandai sebagai tempat yang sedang berhenti beroperasi untuk sementara waktu apabila tempat tersebut masih memberikan layanan daring (online) ataupun layanan datang ke tempat pelanggan." 

Penjabaran pada opsi penutupan tempat karena tempat telah bangkrut serupa dengan penjabaran pada tempat yang berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Dengan adanya peringatan semacam ini bisa dilihat bahwa Google telah mengakomodasi perubahan lansekap bisnis yang jamak ditemui di era tatanan kehidupan baru seperti sekarang ini.

Alasan penutupan tempat berikutnya adalah tempat yang dari semula memang tidak pernah ada. Google memberi penjabaran: "Anda mengusulkan kepada (Google) Maps untuk menghapus tempat (POI) ini karena tempat ini tidak nyata, tidak pernah ada." Dengan kata lain: ghoib. Tempat-tempat semacam ini layak untuk diusulkan dihapus dari Google Maps. Local Guides Clean The Map!


Tempat yang Tidak Ada dan Tempat Duplikat


Opsi berikutnya adalah tempat duplikat. Google menuliskan: "Anda mengusulkan agar (Google) Maps menghapus tempat XXX ini karena tempat (POI) ini muncul lebih dari sekali di Google Maps (duplikat) dan lokasi ini merupakan lokasi yang salah." Tempat duplikat semacam ini banyak ditemui pada tempat-tempat yang cukup populer di kota, seperti misalnya lokasi wisata.

Selanjutnya adalah alasan penutupan untuk tempat-tempat yang dirasa berbahaya/menyesatkan. Dalam penjabarannya Google memberi peringatan: "Anda melaporkan bahwa tempat XXX ini dibuat untuk membahayakan, menyerang, maupun menyesatkan pihak lain." Jenis tempat yang menyesatkan semacam ini jamak dijumpai dibuat (oleh oknum pengguna Google Maps)  untuk menciptakan citra yang buruk bagi perusahaan saingan.

Tempat yang tidak terbuka untuk umum. Jenis tempat seperti ini bisa diusulkan untuk dihapus dari Google Maps. Google memberi penjelasan: "Anda mengusulkan kepada (Google) Maps untuk menghapus tempat XXX ini (dari Google Maps) karena ini merupakan tempat pribadi dan tidak mengijinkan pengunjum umum. (Jenis tempat) ini termasuk tempat-tempat personal yang tidak ada meja penerima tamu maupun pintu masuk untuk umum."

Berikutnya adalah tempat yang telah pindah ke lokasi lain/baru. Google memberi penjelasan: "Anda mengusulkan kepada (Google) Maps untuk menghapus tempat XXX ini karena perusahaan ini telah menutup operasional mereka di tempat ini dan telah pindah ke lokasi lain." Pada tempat yang tutup karena telah berpindah lokasi ini pengguna bisa menyertakan lokasi/alamat baru tempat tersebut jika tahu.


Tempat yang Menyesatkan dan Tempat yang Tidak Terbuka Untuk Umum


Yang terakhir adalah tempat yang diusulkan untuk dihapus dari Google Maps karena alasan lain yang tidak termasuk di ketujuh alasan tersebut di atas. Google menuliskan: "Anda mengusulkan kepada (Google) Maps untuk menghapus tempat XXX ini dari Google Maps untuk alasan lain(-lain)." Pengguna/pelapor tidak diberikan opsi untuk menuliskan penjelasan atas alasan lain-lain yang mereka gunakan sebagai alasan atas penutupan/penghapusan tempat yang mereka ajukan.

Pada setiap usulan penutupan tempat yang diajukan, pengguna/pelapor juga dianjurkan untuk melampirkan foto-foto yang relevan dengan penutupan tempat tersebut, seperti misalnya foto etalase maupun plakat/pengumuman penutupan tempat. Jika ada.

Dengan pembaruan pada antarmuka pengguna fasilitas pelaporan/pengusulan penutupan tempat ini pengguna yang hendak melaporkan penutupan atas suatu tempat (untuk beragam alasan) bisa lebih mudah dalam memilih alasan yang tepat untuk usulan penutupan tempat yang ia ajukan. Tak lagi cap-cip-cup-kembang-kuncup-tempat-tutup-lapor-ucup!

"Ucup who?" Google said.[]


Tempat yang Pindah ke Alamat Baru dan Alasan Lain-lain


Buat dan Bagikan Foto Google Street View Langsung dari Gawai Anda!

 Pemutakhiran aplikasi Street View untuk Android yang terbaru memungkinkan penggunanya, Anda, mereka, setiap orang, untuk membuat dan membagikan gambar-gambar Street View langsung dari gawai masing-masing. Serasa menggenggam mobil ikonis Google Street View ke mana-mana!

_______





BUAT DAN BAGIKAN FOTO GOOGLE STREET VIEW LANGSUNG DARI GAWAI ANDA!


Penulis: Ario Wicaksono (@iorikun301)

Foto-foto: Google


[MALANG LOCAL GUIDES] Foto-foto Street View amat membantu pengguna untuk mengenal dan menjelajahi wilayah-wilayah di berbagai penjuru kota, bahkan dunia, secara virtual. Namun karena keterbatasan jangkauan mobil Google Street View, belum di semua wilayah/area foto Street View ini tersedia.

Tapi hal ini tidak akan berlangsung lama. Karena kini, dengan pemutakhiran terbaru aplikasi Street View untuk Android, pengguna bisa turut menyumbangkan, membuat dan membagikan, foto-foto Street View mereka langsung dari gawai/ponsel pintar mereka masing-masing.

Hal ini pertama kali dikemukakan oleh Stafford Marquardt, Product Manager - Google Maps Street View, dalam tulisannya di The Keyword pada 3 Desember 2020 yang baru lalu.

"...bagaimana kalau setiap orang bisa berkontribusi ke Street View hanya dengan menggunakan ponsel (pintar) mereka?"

Kabar ini tentu memantik banyak respon positif dari para Local Guides yang tergabung di forum komunikasi Local Guides sedunia, Local Guides Connect (untuk selanjutnya disebut "Connect").

"Di banyak wilayah di dunia ini akan membuka Street View bagi warga lokal dan benar-benar menempatkan tempat-tempat ini di (Google) Maps secara harfiah!" tulis akun @PaulPavlinovich, Connect Moderator.

"Video di Street View adalah pilihan yang menarik. Saya akan mencobanya segera ketika saya pergi ke pedesaan untuk naik gunung di Patagonia," sebut akun @FaridMonti.

Lalu bagaimanakah cara pengguna untuk membuat dan membagikan foto-foto Street View langsung dari gawai mereka sendiri?


Mengaktifkan Lapisan Street View di Maps



MEREKAM GAMBAR STREET VIEW

Untuk bisa membuat dan membagikan foto Street View, pertama kali yang dibutuhkan pengguna adalah piranti yang sudah mendukung penggunaan layanan realitas berimbuh (augmented reality) ARCore. Layanan realitas berimbuh ARCore ini adalah teknologi yang sama yang digunakan Google untuk menghasilkan pengalaman-pengalaman baru seperti Live View. 

Dengan mengetuk pilihan Foto Terhubung (connected images) dari menu Buat pada aplikasi Street View, pengguna bisa mulai merekam foto Street View sembari menjelajahi jalanan kota. Setelah pengguna merekam dan membagikan foto-foto ini di aplikasi Street View, aplikasi ini kemudian akan secara otomatis memutar, memposisikan, dan membuat serangkaian foto terhubung. 

Foto-foto terhubung ini kemudian akan secara otomatis pula diletakkan di tempat/lokasi yang tepat di Google Maps. Dan sudah. Foto-foto Street View yang dibuat dan dibagikan pengguna pun siap dimanfaatkan oleh pengguna lain yang ingin menjelajah di lokasi foto Street View tersebut dibuat. 

Biasanya piranti yang dibutuhkan untuk bisa membuat foto-foto Street View semacam ini adalah gawai-gawai yang khusus dibuat untuk merekam foto 360, seperti misalnya kamera Insta360 Pro, Insta360 Pro2, Insta360 One, Ricoh Theta Z1, Ricoh Theta V, dan lain sebagainya. Sayangnya, piranti semacam ini memiliki harga yang cukup mahal untuk kebanyakan pengguna, bahkan hingga puluhan juta rupiah. Namun dengan pemutakhiran terbaru pada aplikasi Street View ini, pengguna cukup menggunakan ponsel pintar Android yang berharga jauh lebih terjangkau.

Kendati demikian tidak semua gawai mendukung penggunaan layanan ARCore ini. Beberapa gawai yang sudah mendukung layanan ini di antaranya Asus ROG Phone III, Google Pixel 5, Huawei P20 Pro, Oppo Reno Z, Realme Narzo 20 Pro, Samsung Galaxy M21, Vivo V20 Pro, Xiaomi Poco X3 NFC, Xiaomi Redmi Note 9 Pro, dan lain sebagainya. Daftar lengkap gawai yang mendukung layanan ARCore ini bisa dilihat di laman bantuan ARCore.


Foto Terhubung



MENCAKUP LEBIH BANYAK TEMPAT DI GOOGLE MAPS

Menurut Stafford Marquardt, para penjelajah Google Street View, mobil, sepeda, hingga yang berjalan kaki, telah mengumpulkan lebh dari 170 milyar gambar dari 10 juta mil jalan yang mereka jelajahi di seantero Bumi. Namun demikian, masih ada sangat banyak sudut dunia yang belum dijelajahi. Belum direkam. Tak terpetakan. 

Karenanya selama bertahun-tahun Google telah mendorong para pengguna (Google Maps) untuk mengunggahkan gambar-gambar yang mereka buat sendiri ke layanan peta berbasis web ini.

"Kami mendapati jutaan gambar Street View telah diunggahkan orang-orang dari seluruh penjuru dunia, dari Bermuda dan Tonga, hingga Zanzibar dan Zimbabwe," terang Stafford Marquardt.

Ketika pengguna (Street View) mengunggahkan foto terhubung atas lokasi tertentu, maka lokasi dari foto-foto ini akan ditampilkan di lapisan Street View Google Maps sebagai garis biru putus-putus. Sedangkan pada lokasi-lokasi di mana Google Street View telah diberikan/direkam oleh Google, maka lokasi tersebut akan ditampilkan sebagai garis biru tebal bersambung. Kendati hal ini masih berada dalam tahap pengujian beta, namun sudah banyak pengguna yang mengunggahkan foto-foto terhubung mereka sendiri dari lokasi-lokasi seperti Nigeria, Jepang, bahkan Brasil.

Sama halnya pada layanan imagery Google lainnya, foto-foto terhubung yang diunggahkan pengguna pada aplikasi Street View untuk Android ini akan membuat Google Maps semakin akurat dan menampilkan gambaran kondisi terkini dari suatu lokasi/wilayah, yang bisa bermanfaat untuk seluruh pengguna. Seperti misalnya Google bisa menggunakan foto-foto Street View ini untuk memutakhirkan nama maupun alamat dari suatu tempat/bisnis, termasuk jam operasional yang terbaru.


Garis Biru Putus-putus Lokasi Foto Terhubung yang Dibuat dan Dibagikan Pengguna Aplikasi Street View



PRIVASI

Mengunggahkan foto-foto terhubung melalui aplikasi Street View untuk Android memang tidak terlampau sulit. Seseorang hanya tinggal merekam foto terhubung menggunakan gawai yang mereka gunakan, lalu mengunggahkannya ke aplikasii, dan setiap orang akan bisa mengaksesnya dengan mudah. Namun bagaimana dengan aspek privasi dari foto-foto terhubung yang direkam dan diunggahkan ini? 

Sebagaimana yang diketahui selama ini, gambar-gambar Street View yang terdapat di Google Maps mengaburkan wajah orang yang (tidak sengaja) terekam kamera penjelajah Google Street View. Sehingga privasinya menjadi terlindungi.

Ternyata hal yang seperti inipun diterapkan Google pada foto-foto terhubung yang diunggahkan pengguna pada aplikasi Street View untuk Android. Google akan mengaburkan aspek-aspek privasi seseorang, seperti misalnya wajah dan bahkan plat nomor kendaraan, yang (tanpa sengaja) terekam pada foto-foto terhubung yang dibagikan. Termasuk:

"Kami juga menyederhanakan proses bagi pengguna untuk melaporkan gambar-gambar maupun beragam konten lainnya (yang diduga melanggar aturan privasi) untuk diteliti lebih lanjut," tutur Stafford Marquardt.

Jadi, bagimana? Tertarik untuk mulai merekam dan membagikan foto-foto terhubung dari lokasi-lokasi yang belum ada di peta dan membagikannya untuk membantu banyak orang menjelajah lebih banyak lagi tempat seru di sekitar mereka?

"Yang kamu butuhin cuma ponsel pintar, Sob! Nggak perlu lagi segala macam alat yang canggih-canggih itu!?" tulis Stafford Marquardt.

Siap, Bang Jago![]


Garis Biru Tebal Bersambung Lokasi Tersedianya Foto-foto Street View oleh Google



_______

DAFTAR RUJUKAN:

Stafford Marquardt. "Now Anyone can Share Their World with Street View." The Keyword, 3/12/2020, https://blog.google/products/maps/anyone-can-share-their-world-with-street-view/

@Stafford. "Introducing Connected Photos (And More) in the Updated Street View App." Local Guides Connect, 3/12/2020, https://www.localguidesconnect.com/t5/Announcements/Introducing-Connected-Photos-and-more-in-the-updated-Street-View/ba-p/2792943

Bagaimana Fitur Citra Satelit Google Maps Bekerja

 Konon, citra satelit adalah salah satu fitur yang paling populer di Google Maps. Dengan fitur ini pengguna bisa melihat, membayangkan, seperti apa rupa bentang muka Bumi jika dilihat dari atas. Atau penggemar fotografi makanan mungkin akan menyebutnya: flatlay. Lalu bagaimanakah fitur ini bekerja? Bagaimana imaji-imajinya didapatkan? Benarkah ada "penampakan misterius" yang tertangkap oleh citra ini?

_______





BAGAIMANA FITUR CITRA SATELIT GOOGLE MAPS BEKERJA


Penulis: Ario Wicaksono (@iorikun301)

Foto-foto: Google


[MALANG LOCAL GUIDES] Pernahkah Anda ketika sedang duduk di sebuah pesawat yang hendak mendarat, lalu melongokkan kepala ke pemandangan di luar jendela dan mendapati jalanan kota yang panjang meliuk-liuk, rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung pencakar langit yang semula terlihat kecil namun lama-kelamaan makin terlihat jelas, pun pantulan sinar matahari senja yang berkeredap di wilayah perairan? Pemandangan yang menarik, bukan?

Agaknya pengalaman semacam inilah yang kemudian membuat Peter Schottenfels, seorang penggemar teknologi pemula, merasa tertarik dengan fitur citra satelit di Google Maps.

"Hampir di sepanjang sejarah umat manusia, rasanya mustahil untuk bahkan sekadar membayangkan seperti apa rupa Bumi ketika dilihat dari atas. Dan baru di abad yang lalu lah kita bisa mendapatkannya," tulisnya di The Keyword (5/10/2020).

Untuk itulah ia kemudian mewawancarai Matt Manolides, seorang Geo Data Strategist Google dengan pengalaman kerja lebih dari 14 tahun, untuk menjawab beragam keingintahuannya tentang seluk-beluk citra satelit langsung dari ahlinya.


MENGUMPULKAN CITRA DAN MENJAHITNYA

Foto-foto udara/citra satelit yang bisa dilihat di Google Maps maupun Google Earth merupakan jalinan dari banyak potongan gambar/imaji. Mosaik citra ini diperoleh dari berbagai sumber, termasuk di antaranya badan-badan resmi pemerintah, organisasi-organisasi survei geologi, hingga perusahaan penyedia citraan komersial. 

Kendati disebut sebagai citra satelit, namun imaji yang ditampilkan di Google Maps dan Google Earth ini justru tidak dihasilkan oleh satelit. Melainkan lebih disukai direkam menggunakan pesawat survei/pemetaan udara yang terbang secara berkala di berbagai penjuru dunia.

"Ada industri tertentu yang melakukan survei/pemetaan udara," tutur Matt Manolides.

Perusahaan layanan pemetaan ini menggunakan kamera beresolusi tinggi yang diletakkan pada bagian bawah pesawat survei. Ketika pesawat mengudara, kamera ini akan secara kontinyu merekam area/wilayah yang dikehendaki. Gambar yang dihasilkan oleh kamera pemetaan ini memiliki kualitas yang sangat tinggi, yang oleh karenanya bisa menghasilkan citra satelit yang detil dan tajam.

Kendati demikian, ada kalanya pada wilayah-wilayah tertentu pemetaan seperti ini tidak bisa dilakukan. Misalnya karena pasar penyedia layanan pemetaan komersialnya yang tidak ada. Jika ini terjadi, maka imaji dari wilayah/area ini akan direkam menggunakan bantuan satelit.

"Satelit menghasilkan gambar berkualitas rendah, namun (satelit) tetap bermanfaat karena memberikan cakupan (pemetaan) global," terang Matt Manolides.


Citraan Pesawat dalam Spektrum Warna Merah-Hijau-Biru



MENAMPILKAN CITRA SATELIT DI PETA

"Google memperoleh citra satelit yang tersedia secara komersial dari pihak-pihak ketiga. Kemudian tim kami (Geo Data Google) menjahit (potongan-potongan) gambar tersebut dan menjadikannya sebuah (gambar) peta yang utuh," ujar Matt Manolides pada Peter Schottenfels.

Proses semacam ini disebut sebagai photogrammetry yang kian ke mari makin bisa dilakukan secara otomatis oleh mesin/kecerdasan buatan untuk membantu menempatkan gambar-gambar secara akurat dan meningkatkan resolusi imaji yang dihasilkan.

Perlu diketahui, citraan bentang muka Bumi yang diperoleh dari pesawat pemetaan udara maupun satelit ini ketika dikirimkan ke Google masihlah dalam format gambar mentah. Artinya gambarnya masih berupa potongan-potongan yang belum disambung dan dicocokkan, juga masih terpecah ke dalam citra spektrum warna merah-hijau-biru, termasuk gambar-gambar pankromatis yang memberikan detil gambar yang lebih baik.


PEMUTAKHIRAN CITRA SATELIT SECARA BERKALA

Citra satelit di Google Maps (dan Google Earth) dimutakhirkan secara berkala. Namun frekuensi pemutakhiran ini berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

"Kami (Google) berusaha melakukan pemutakhiran citra satelit pada wilayah-wilayah yang paling banyak (sering) mengalami perubahan," ungkap Matt Manolides.

Maka pada wilayah yang terus-menerus mengalami perubahan/berkembang pesat seperti di kota-kota besar pemutakhiran citra satelit dilakukan satu tahun sekali. Sedang pada kota-kota yang lebih kecil/menengah dua tahun sekali, hingga tiga tahun sekali baru dilakukan pemutakhiran citra satelit pada kota-kota kecil.

"Secara umum tujuan kami adalah melakukan pemutakhiran (citra satelit) secara berkala pada wilayah padat penduduk. Pun kami melakukan pemutakhiran lebih sering pada wilayah-wilayah yang kami dapati sedang banyak melakukan proyek pembangunan gedung dan jalan raya," terang Matt Manolides.


"Penampakan" Kapal Tenggelam



"PENAMPAKAN MISTERIUS" DI GOOGLE MAPS

Pernah mendengar kabar mengenai penampakan kapal karam di lepas pantai Karanghawu, Jawa Barat, yang terlihat di citra satelit Google Maps beberapa waktu yang lalu? Nah, "penampakan misterius" semacam ini bukanlah hal yang terlalu aneh ditemui di Google Maps.

"Seringkali bagaimana gambar-gambar (citra satelit) tersebut dikumpulkan bisa menciptakan suatu ilusi optik," terang Matt Manolides.

"Penampakan misterius" yang paling umum ditemui, masih menurut Matt Manolides, adalah penampakan kapal karam di suatu wilayah perairan. Ini, sesungguhnya, adalah sebuah kapal yang tengah berlayar normal seperti biasa, namun karena proses penumpukan/penggabungan lapisan (data) citra satelit membuat kapal tersebut terlihat seolah karam dan tenggelam d bawah permukaan air.

Jadi kalau Anda suatu saat nanti tanpa sengaja menjumpai "penampakan misterius" di citra satelit Google Maps (maupun Google Earth) jangan terburu-buru menyimpulkan hal tersebut sebagai hantu atau hal lainnya, ya? Karena bisa jadi hal tersebut hanyalah ilusi optik akibat proses pengumpulan (data) citra satelit yang merekam beberapa gambar sekaligus dalam satu waktu namun dalam spektrum warna yang berbeda. Ojo kagetan..[]


_______

DAFTAR RUJUKAN:

Peter Schottenfels. "Ask a Techspert: How do Satellite Images Works?" The Keyword, 5/10/2020, https://blog.google/products/maps/how-do-satellite-images-work/

Bintang Pemandu: Sang Local Guides Panutan

 Banyak hal telah berubah di tahun 2020 yang penuh tantangan ini. Namun ada satu hal yang tak berubah: semangat dan dedikasi komunitas Local Guides untuk tetap berkontribusi positif. Karenanya untuk merayakan hal ini, tim Google telah memilih 50 orang Local Guides terbaik dari seluruh dunia yang kiprahnya patut dijadikan panutan. Di dalam maupun di luar Google Maps.

_______





BINTANG PEMANDU: SANG LOCAL GUIDES PANUTAN


Penulis: Ario Wicaksono (@iorikun301)

Foto-foto: Google


[MALANG LOCAL GUIDES] Local Guides adalah sekumpulan penjelajah lokal yang dengan pengalaman dan pengetahuan lapangan yang dimiliki membantu banyak orang untuk menemukan hal-hal menarik di sekitar mereka melalui beragam konten yang dibagikan di Google Maps. Mulai dari ulasan atas layanan rumah makan yang baru-baru ini mereka coba, mengunggahkan foto etalase dan interior toko, hingga memeriksa beragam fakta dan coba membenahi informasi yang masih salah di layanan peta berbasis web ini. Dan mereka, Local Guides, melakukan ini semua secara sukarela, bahkan di tahun 2020 yang penuh tantangan ini.

Terkait dengan hal tersebut, baru-baru ini Google mengumumkan 50 orang Local Guides dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang menurut mereka sosok Local Guides yang inspiratif. Bukan semata menginspirasi sesama Local Guides untuk turut memberikan sumbangsih terbaik di Google Maps, namun apa yang mereka lakukan juga memberi dampak positif pada lingkungan tempat mereka berada terutama di masa kenormalan baru seperti sekarang ini.

"Tim kami (Google) telah begitu terinspirasi oleh kisah-kisah Local Guides  yang berkembang pesat selama setahun terakhir, terutama selama COVID-19. Itulah mengapa kami ingin meluangkan waktu merayakan dan berterima kasih kepada komunitas dengan menyinari beberapa bintangnya," tulis akun @mchomsky, karyawan Google, di forum Local Guides Connect (8/12/2020).

Kelima puluh orang Bintang Pemandu panutan ini dipilih setelah tim Google meneliti puluhan ribu Local Guides dengan kesemua aspek program Google Local Guides, termasuk sumbangsih mereka di Google Maps, aktifitas di forum Local Guides Connect dan lainnya yang terkait, aplikasi/keikutsertaan mereka dalam mendaftar untuk mengikuti gelaran Connect Live 2020 (yang telah dibatalkan), pengisian formulir nominasi Local Guides panutan di Connect, keterlibatan di komunitas-komunitas lokal, dan lain sebagainya.





KATEGORI DAN PROFIL BINTANG PEMANDU PILIHAN

Ada lima buah kategori untuk Bintang Pemandu ini, yakni Pahlawan Bermanfaat, Mapper Inklusif, Kontributor Kreatif, Pembangun Komunitas, dan Juara Bisnis Lokal, dengan tiap kategori terpilih sepuluh orang Local Guides dengan sumbangsih mereka yang khas.

Seperti misalnya Nyai Nurjanah, Local Guides level 10 dari Sukabumi, Indonesia. Ia terpilih sebagai salah satu Bintang Pemandu dalam kategori Pahlawan Bermanfaat. Pandangan positif dan komitmennya untuk menjadikan dunia menjadi tempat yang lebih baik telah menginspirasi orang-orang di komunitasnya. Ia selalu berhati-hati dalam membagikan informasi bermanfaat yang berarti baginya di Google Maps. Seperti misalnya tempat-tempat yang memiliki fasilitas musala, hingga protokol kesehatan yang diterapkan di tempat-tempat di sekitarnya.

"Karena pandemi pada tahun 2020, saya telah memperbarui Google Maps dari rumah. Saya juga telah mendukung bisnis kecil di sekitar saya. [Dan] yang terpenting keselamatan adalah prioritas," tuturnya sebagaimana dikutip di laman khusus Bintang Pemandu di Connect.

Tak hanya Nyai Nurjanah yang telah menginspirasi banyak orang. Jesica L., Local Guides level 10 asal Buenos Aires, Argentina, tak kalah inspiratif. Minat Jesica dalam berbagi di Google Maps adalah tentang aksesibilitas. Sebagai anggota tim One Accessibility, ia ajeg menulis artikel dan membagikan ulasan di Google Maps terkait dengan aksesibilitas dan segala tetek-bengeknya.

Lebih dari itu, ia juga begitu antusias membagikan apa-apa saja yang membuat negaranya, Argentina, istimewa. Mulai dari menjadi Host Meet Up hingga berpartisipasi di dalam tantangan #ExperienceArgentina, ia terus secara teratur menyebarkan berita tentang kecintaannya pada rumah. Argentina.

"Sesuatu yang selalu saya sukai tentang Connect sejak pertama saya bergabung adalah bagaimana setiap orang berbagi tentang hal-hal kecil dari negara mereka dan kami dapat melakukan percakapan pribadi dengan si penulis artikel yang memberi tahu kami lebih banyak, dengan cara yang saya kira tidak bisa dilakukan di platform lain," terangnya.

Dengan sumbangsih yang semacam itu maka tak heran jika Jesica kemudian menjadi salah satu Bintang Pemandu dalam kategori Mapper Inklusif.




Profil Bintang Pemandu berikutnya adalah Jan V.H., Local Guides level 10 dari Hamme, Belgia. Ia merupakan salah seorang Bintang Pemandu dalam kategori Kontributor Kreatif. Jan memiliki keinginan untuk memastikan bahwa informasi yang tercantum di Google Maps merupakan informasi yang benar dan ingin terus memperbarui komunitasnya melalui sumbangsih yang diberikannya.

"Saya tipe orang yang tidak bisa hanya duduk-duduk dan tidak melakukan apa-apa. Dan jika memungkinkan saya lebih suka melakukan sesuatu yang berguna," terangnya sebagaimana termuat di Connect.

Di luar sumbangsihnya di Google Maps, Jan merupakan suara dan pendiri siniar LetsGuide yang merupakan siniar yang dikhususkan untuk berbagi informasi seputar Local Guides, dan juga ia merupakan pemrakarsa gerakan Local Guides Clean The Map, sebuah gerakan untuk menyingkirkan konten-konten salah dan kurang bermanfaat di Google Maps. 

Berikutnya adalah Adrian Lunsong, Local Guides level 8 dari Kuching, Malaysia. Ia merupakan salah seorang Bintang Pemandu dalam kategori Pembangun Komunitas.

Bersemangat, berdedikasi, dan penuh perhatian adalah beberapa kata yang bisa dipiih untuk menggambarkan sosok seorang Adrian. Selama bertahun-tahun ia aktif berkontribusi di Google Maps maupun Connect, termasuk membagikan tutorial cara menulis ulasan dan artikel yang berkualitas di Google Maps maupun Connect, dan mengadakan Kuis Connect yang menampilkan kuis trivial Local Guides yang melibatkan 10 tim dan berpuncak pada siaran langsung streaming grand final kuis.

"Di tingkat global saya masih terhubung dengan komunitas yang luar biasa melalui Connect dan platform lain. Internet telah mempermudah kita untuk tetap berhubungan melalui pertemuan-pertemuan virtual," terangnya.

Pertemuan global virtual berikutnya akan ia selenggarakan pada Desember 2020. Adrian benar-benar menjaga komunitas agar tetap bersama bahkan pada saat-saat yang menantang seperti sekarang.




Lain Adrian, lain pula Alexandre Campbell, Local Guides level 8 dari Rio de Janeiro, Brasil. Ia adalah Bintang Pemandu dalam kategori Juara Bisnis Lokal.

"Saya adalah seorang Local Guides, yang mana saya tahu kontribusi saya di Google Maps akan berdampak positif pada kehidupan ribuan orang dan berkontribusi pada pertumbuhan bisniis kecil," tuturnya sebagaimanya dikutip dari Connect.

Sangat aktif dalam menciptakan komunitas, Alexandre berperan penting dalam menyatukan komunitas Local Guides di Brasil. Dengan bantuan beberapa Local Guides lainnya ia menyelenggarakan pertemuan bulanan yang membahas kabar terbaru program Google Local Guides, pembaruan, dan bagaimana mereka dapat mendorong lebih banyak Local Guides Brasil untuk bergabung dalam misi mereka tersebut.

Alexandre juga menggunakan waktunya di rumah selama masa pandemi ini untuk mendukung bisnis melalui kontribusinya di Google Maps. Ia, terangnya, mulai mengulas pengalaman-pengalaman daringnya maupun layanan pesan-antar dan takeaway yang ditawarkan beberapa tempat usaha di lingkungannya.

"Saya juga mengedit tempat dan mengoreksi informasi kontak untuk membantu usaha kecil berjualan secara daring," imbuhnya.





FILTER INSTAGRAM BINTANG PEMANDU

Dengan dipilihnya 50 orang Bintang Pemandu ini bukan berarti Local Guides yang lain tidak bisa berpartisipasi dalam perayaannya. Sebaliknya, seluruh Local Guides secara bersama-sama, dengan segenap usaha dan segala sumbangsihnya di Google Maps, telah membuat layanan peta berbasis web ini tetap up to date dan bermanfaat untuk semua orang di seluruh dunia. Karenanya untuk turut merayakan hal tersebut, Google telah membuat sebuah filter Instagram untuk membagikan kebanggaan sebagai seorang Local Guides kepada dunia. Caranya Anda tinggal memindai QR code yang tersedia dan ambil foto dari gawai Anda.

Jika Anda menggunakan filter ini di Instagram Story Anda, jangan lupa untuk men-tag akun Instagram @googlelocalguides untuk sebuah kesempatan turut dimuat di dalam Instagram Story roundup-nya.

Siap, Bang Bintang Pemandu Panutan![]


_______

DAFTAR RUJUKAN:

@mchomsky. "Introducing the Guiding Stars Who Lit the Way in 2020." Local Guides Connect, 8/12/2020, https://www.localguidesconnect.com/t5/Announcements/Introducing-the-Guiding-Stars-who-lit-the-way-in-2020/ba-p/2797015

@TraciC. "Show Your Local Guides Love with this Guiding Stars Filter." Local Guides Connect, 8/12/2020, https://www.localguidesconnect.com/t5/Announcements/Show-your-Local-Guides-love-with-this-Guiding-Stars-filter/ba-p/2797644

Infografis Jam Sibuk Google Maps dan Rencana Kunjungan

 Salah satu fitur di Google Maps yang makin terasa nilai manfaatnya di masa kenormalan baru seperti sekarang ini adalah informasi/grafik jam sibuk dari suatu tempat/lokasi. Infografis ini menampilkan data mulai dari seberapa ramai tempat tersebut pada hari dan jam tertentu hingga rata-rata lamanya waktu yang dihabiskan seorang pengunjung di tempat tersebut. Lalu dari manakah Google memperoleh data ini dan seberapa tinggi tingkat akurasinya? Simak selengkapnya pada tulisan berikut:

_______





INFOGRAFIS JAM SIBUK GOOGLE MAPS DAN RENCANA KUNJUNGAN


Penulis: Ario Wicaksono (@iorikun301)

Foto-foto: Google/Malang Local Guides


[MALANG LOCAL GUIDES] Pada mulanya adalah sebuah problema klasik masyarakat urban: mendekati jam makan siang merasa lapar dan ingin cepat-cepat makan di warteg terdekat namun ketika sampai ternyata warung sedang ramai-ramainya dan sama sekali tidak tersisa tempat untuk duduk dan menyantap siang dengan nyaman. Zonk!

Atau ketika sedang diburu deadline pekerjaan tiba-tiba ingin minum kopi, lalu pergi buru-buru ke konbini dekat kantor untuk membeli sekaleng kopi tidak manis, namun ketika sampai di sana ternyata antrean di kasir mengular sampai ke ujung jalan. Double zonk!

Menurut Matt D'Zmura, Software Engineer-Google Maps, hal-hal semacam inilah yang menjadi pertimbangan utama kala Google memperkenalkan fitur informasi jam sibuk suatu tempat pada aplikasi Google Maps mereka.

"(Sebuah) fitur yang bermanfaat (di Google Maps) untuk membantu (pengguna Google Maps) mengetahui kira-kira seberapa sibuk (ramai) sebuah tempat di hari dan jam tertentu," tulisnya di The Keyword (15/10/2020).




Informasi jam sibuk yang ditampilkan pada laman suatu lokasi/tempat di Google Maps (POI; points of interest) ini berisi antara lain jam favorit, informasi kunjungan langsung, waktu tunggu, dan durasi kunjungan normal.

Grafik jam favorit menunjukkan seberapa sibuk/ramai pengunjung suatu lokasi pada waktu yang berbeda-beda dalam satu hari, yang didasarkan pada jam favorit rata-rata selama beberapa bulan terakhir. Data kunjungan langsung menunjukkan seberapa aktif/ramai suatu lokasi pada saat ini. Data ini diperbarui secara real-time dan ditampilkan pada grafik jam favorit.

Durasi kunjungan menunjukkan jumlah waktu yang biasanya dihabiskan seorang pengunjung di lokasi tersebut. Perkiraan durasi kunjungan didasarkan pada pola kunjungan pelanggan selama beberapa minggu terakhir. Perkiraan waktu tunggu menunjukkan seberapa lama seorang pelanggan mesti menunggu sebelum mereka akhirnya dilayani pada waktu yang berbeda-beda dalam satu hari. Pada lokasi rumah makan, misalnya, perkiraan waktu tunggu ini mencerminkan berapa lama pelanggan mesti menunggu sebelum mendapatkan tempat duduk.

Untuk bisa menampilkan infografis semacam ini, Google menggunakan data gabungan dan anonim dari pengguna Google Maps yang menggunakan fitur Histori Lokasi Google.





PENYESUAIAN DI MASA KENORMALAN BARU

Selama ini algoritma yang digunakan Google mampu mengidentifikasi dengan baik pola jam-jam sibuk dari suatu lokasi. Namun pada masa kenormalan baru seperti sekarang dengan adanya perubahan lansekap bisnis, termasuk kebijakan penjarakan sosial dan perubahan jam operasional (pada tempat/lokasi tertentu), menjadikan data histori yang digunakan di dalam algoritma jam sibuk ini menjadi tidak lagi handal. Oleh sebab itu Google telah melakukan sedikit penyesuaian pada algoritma ini.

Dengan penyesuaian ini, dalam menyusun infografis jam favorit dan informasi kunjungan langsung Google lebih memilih menggunakan data histori yang berasal dari masa empat hingga enam minggu ke kebelakang. Sehingga diharapkan algoritma jam sibuk yang digunakan bisa lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan pola jam sibuk/kepadatan pelanggan yang terjadi pada suatu lokasi.

"(Selain itu kami) berencana menerapkan pendekatan serupa untuk fitur-fitur yang lain seperti waktu tunggu. Segera!" tutur Matt D'Zmura.

Untuk infografis jam sibuk ini pengguna Google Maps maupun pengelola akun Google My Business tidak bisa menambahkan data jam sibuk secara manual pada laman lokasi tersebut. Google akan menampilkan informasi ini hanya jika Google telah memiliki data kunjungan yang memadai. Sehingga ada kalanya pada lokasi-lokasi tertentu infografis jam sibuk ini tidak ditampilkan..

Oke, Google. Impressive![]





_______

DAFTAR RUJUKAN:

Matt D'Zmura. "Behind the Scenes: Popular Times and Live Busyness Information." The Keyword, 15/10/2020, https://blog.google/products/maps/maps101-popular-times-and-live-busyness-information/

Google Support. "Popular Times, Wait Times, and Visit Duration." https://support.google.com/business/answer/6263531?hl=en