Slider

New Info

Aktifitas Malang Local Guides

Kuliner Malang

Wisata Malang

Aktifitas Malang Local guides

Sosialisasi GOOGLE MAPS bersama GERKATIN Kota Malang




MEMASYARAKATKAN Google Maps dan Meng-Google Maps-kan masyarakat. Sebagai bagian dari komunitas global Google Local Guides, kami, MALANG LOCAL GUIDES, tentu memiliki kepentingan agar semakin banyak orang yang bisa memetik manfaat dari keberadaan aplikasi Google Maps.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka pada Minggu (25/11/18) yang baru lalu komunitas MALANG LOCAL GUIDES mengadakan meet up sekaligus melakukan sosialisasi tentang penggunaan aplikasi Google Maps kepada kelompok Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Kota Malang.

Sebagian Peserta


Acara tersebut mengambil tempat di kantor Gerkatin Kota Malang Jl. Ijen no. 34, Kota Malang, dan berlangsung dari pukul 08:00-10:00 WIB. Tak kurang dari 30 orang peserta menghadiri acara yang dikemas santai ini. Dan untuk membantu kelancaran komunikasi selama acara, kami dibantu oleh Yanda Sinaga, guru bahasa isyarat, yang akan menerjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) maupun sebaliknya.

Dibantu Menterjemahkan Bahasa Isyarat oleh Yanda Sinaga (berdiri)


Tepat pukul 08:00 WIB acara dibuka oleh Ario Wicaksono, anggota MALANG LOCAL GUIDES, yang menyampaikan maksud kedatangan teman-teman local guides ke sini, yakni untuk mensosialisasikan penggunaan aplikasi Google Maps.

Walaupun sudah dibantu oleh Yanda Sinaga untuk menerjemahkan kata-katanya ke dalam Bisindo, namun Ario juga mencoba menggunakan bahasa isyarat untuk memperkenalkan dirinya kepada teman-teman tuli yang hadir kendati masih sangat terbata-bata. Menurut pengakuannya, ia baru mempelajari penggunaan bahasa isyarat tersebut selama tiga puluh menit.

"Langsung bisa!" ungkapnya.

Panduan Alfabet Bahasa Isyarat Indonesia yang Ternyata Tidak Terlalu Susah


Acara kemudian dilanjutkan dengan pengenalan penggunaan aplikasi Google Maps yang disampaikan oleh Bambang Afrianto, salah seorang senior di MALANG LOCAL GUIDES sekaligus Batu Local Guides. Dalam sesi ini Bambang mengajarkan cara memberikan rating dan ulasan untuk tempat-tempat yang ada di Google Maps.

"Rating bintang 1 artinya kamu benci (dengan pelayanan di tempat itu), tapi kalau bintang 5 itu artinya cinta," terang Bambang.

Selama sesi ini rekan-rekan local guides yang lain mendampingi teman-teman Gerkatin. Mereka nampak antusias sekali belajar memberikan rating dan ulasan di Google Maps. Bahkan ketika ada yang salah memberikan rating bintang 1 padahal yang dimaksudkan adalah memberikan rating bintang 5, ia berkali-kali meminta pemakluman dan segera memperbaiki ulasannya. Kami pun serentak tertawa dan memaklumi. Yang namanya belajar, tak perlu takut salah, bukan? :)

Mendampingi Belajar Penggunaan Google Maps


Selain mengajarkan tentang cara memberikan rating dan ulasan, Bambang Afrianto juga mencoba menambahkan tempat di Google Maps karena diketahui kantor Gerkatin Kota Malang ini belum tercatat di Google Maps. Ketika tulisan ini dibuat, lokasi kantor Gerkatin Kota Malang di Google Maps sudah berhasil ditambahkan dan published.

Mendampingi Belajar Penggunaan Google Maps


Dalam acara kali ini, selain bersama-sama belajar tentang cara penggunaan Google Maps, kami juga belajar bahasa isyarat. Rekan-rekan Gerkatin Kota Malang dengan sabar mengajari kami beberapa isyarat dasar, seperti misalnya alfabet bahasa isyarat Indonesia, isyarat terima kasih (yang mirip dengan isyarat kissbye), serta cara mengatakan Malang Local Guides dan Batu Local Guides dalam bahasa isyarat.

Karena, ternyata, bahasa isyarat ini adalah bahasa yang sangat ekspresif, maka selama belajar bahasa isyarat ini pun kami terbawa dengan aura positifnya.

Belajar Bahasa Isyarat


Di samping mengajarkan kepada kami beberapa isyarat sederhana, ternyata rekan-rekan Gerkatin Kota Malang juga berbaik hati membuatkan simbol isyarat untuk menyebut "local guides." Simbol isyarat "local guides" adalah tangan kiri menunjukkan simbol huruf "L", yang dipadukan dengan tangan kanan menunjukkan isyarat huruf "G" dalam bahasa isyarat internasional yang diletakkan tepat di bawah isyarat huruf "L".

"Sehingga nanti kalau Local Guides ingin berfoto, bisa sambil menunjukkan isyarat ini," ucap ibu Sumiati, pengurus Gerkatin Kota Malang.

Ah, ini hadiah yang sangat menyenangkan bagi kami. :)

Simbol isyarat Gerkatin sendiri adalah huruf "G", namun dengan tangan kanan yang dimodifikasi menunjukkan isyarat "I love you" (mirip dengan simbol salam metal).

Ibu Sumiati (Gerkatin Kota Malang) Menunjukkan Simbol Isyarat untuk Local Guides


Sebelum mengakhiri acara, seluruh peserta pun menyempatkan mengambil foto bersama di halaman kantor. Turut pula berfoto bersama dua orang dari Gerkatin Kota Malang yang mengenakan kostum karnaval yang baru saja berkeliling di area hari bebas kendaraan bermotor. Kemudian kami pun berpisah dengan sebuah janji untuk kembali bertemu di kelak kemudian hari.

Belajar Penggunaan Google Maps


Terima kasih kepada Dini Rachmawati yang sudah memperkenalkan MALANG LOCAL GUIDES kepada Gerkatin Kota Malang, ibu Sumiati pengurus Gerkatin Kota Malang yang sudah menyambut kami dengan tangan terbuka, Bambang Afrianto yang sudah berkenan menyampaikan materi cara penggunaan Google Maps, Yanda Sinaga yang menjembatani komunikasi di antara kami, serta seluruh rekan MALANG LOCAL GUIDES, Batu Local Guides, dan Gerkatin Kota Malang yang sudah menyempatkan hadir.

Sampai jumpa di #MalangLocalGuidesMeetUp selanjutnya. Salam! (iori)


Persiapan Berfoto Bersama



—————

TEKS: Ario Wicaksono
FOTO: @iorikun301

Berbagi Cinta Bersama Anak Down Syndrom





Minggu, 27 Mei 2018 segenap member Malang Local Guide menyelenggarakan sebuah event charity bersama anak berkebutuhan khusus (downsyndrom). Event yang diberi nama Ramadhan anak special ini merupakan ajang bakat bagi anak berkebutuhan khusus yang ada di Malang. Tujuannya tidak lain untuk berbagi cinta dan keceriaan dengan memberikan kesempatan anak-anak special untuk unjuk kebolehan. 

Bentuk kegiatannya adalah :
Lomba fashion show,Lomba photo, Lomba Puzzle, Talkshow Menjadi Orangtua ABK Yang Smart dan pembagian doorprize.

Event yang berlangsung di MakanNakam Sarinah plaza ini berlangsung sangat meriah berkat dukungan para sponsor yang terlibat, salah satunya komunitas Worlds, sebuah komunitas pemerhati downsyndrom.




Terima kasih untuk teman teman Malang Local Guide yang telah bekerja keras hingga event ini bisa terselenggara. Banyak pelajaran yang didapat dari anak-anak special ini. 

FOODCRAWL di CADBURY TERRACE Sawojajar


PERCAYAKAH Anda bahwa sensasi menggaruk punggung yang gatal bisa terasa sama nikmatnya seperti ketika kita mengunyah sebatang coklat Cadbury? Penulis percaya. Hehee.. Perbandingan yang terasa janggal, memang. Menggaruk punggung yang gatal, dan mengunyah sebatang coklat Cadbury. Apa hubungannya, coba?

Tapi itulah yang ditunjukkan di dalam video iklan coklat Cadbury ketika mereka merilis slogan pemasaran terbarunya "Tastes Like This Feels" pada 2 April 2016 lalu: seekor beruang diperlihatkan sedang keenakan menggaruk-garukkan punggungnya ke batang sebuah pohon di hutan. Dari gesturnya, ia terlihat benar-benar menikmati. Barangkali yang hendak mereka sampaikan: Kalau kamu makan coklat Cadbury, maka sensasi nikmatnya akan sama seperti yang dirasakan si beruang yang sedang menggaruk gatal di punggungnya. Alias: Ini enak banget, Maliiihh!!

Bercengkrama di Area Outdoor Cadbury Terrace


Agaknya pesan seperti itulah yang juga coba disampaikan oleh kafe CADBURY TERRACE di Jl. Danau Sentani Raya blok E3G no. 25, Sawojajar, Kota Malang ini. Ia memasang slogan coklat Cadbury tersebut di atas sebagai tagline-nya. Rasa mewah coklat Cadbury akan terasa sama enaknya dengan apapun hal enak-enak yang sedang kamu lakukan. ((( e n a k - e n a k )))

Dicky, pemilik kafe ini, mengungkapkan bahwa kafe yang berdiri sejak Juni 2016 ini menggunakan slogan yang sama seperti yang digunakan oleh coklat Cadbury di seluruh dunia adalah karena kafe ini memiliki afiliasi langsung dengan PT Mondelez Indonesia, produsen beberapa merk kudapan ternama di Indonesia yang di antaranya coklat Cadbury, Toblerone, Oreo, keju Kraft, serta biskuit Biskuat. Tak heran makanan dan minuman yang disajikan di kafe ini semuanya menggunakan produk coklat Cadbury dan produk-produk Mondelez Indonesia lainnya.

"Pada mulanya ini adalah kantor Cadbury untuk wilayah Malang," tutur Dicky. "Kemudian kami mengembangkannya menjadi sebuah kafe."

Hujyan Becyek Enggak Ada Ojyek


Salah satu minuman favorit Penulis di kafe ini adalah Cadbury Original Hot. Cocok untuk dinikmati di sore hari yang dingin. Rasa coklatnya yang lembut terasa nikmat sekali di lidah. Bukan rasa yang pahit dan keras, melainkan rasa coklat Cadbury yang mewah dan khas. Cara paling baik menikmatinya adalah dengan menyeruputnya pelan-pelan selagi hangat, kemudian rasakan sensasi rasa khas coklat Cadbury-nya menggelitiki lidah Anda. Betul-betul nikmat! Penulis sampai merem-melek dibuatnya.

Berbincang Sembari Menunggu Hujan Reda


Tapi Penulis bukan orang jahat, Sobat MLG. Penulis tidak tega menikmati enaknya kudapan di kafe berkonsep outdoor ini seorang diri. Malah, Penulis datang berdua puluh(!). Kok banyak? Karena di hari itu, Sabtu (17/11/18) pukul 15:00-19:00 WIB, kami, komunitas MALANG LOCAL GUIDES, sedang ada agenda foodcrawl. Dan ini adalah salah satu agenda meet up favorit Penulis. #yha

Meet up? Foodcrawl? Makhluk apakah itu, Fulgoso?

Begini, Rosalinda. Meet up adalah sebutan untuk kegiatan kopi darat alias kumpul-kumpul informal dengan sesama Local Guide di kota Anda. Meet up memiliki 4 jenis kegiatan, yakni geowalk, photowalk, map editing, serta foodcrawl.

Bincang Santai Tentang Bermedia Sosial yang Efektif Bersama Lidya Charolina


Geowalk berarti kita menjelajah ke tempat-tempat baru di sekitar kota tempat kita tinggal, memotret, memutakhirkan daftar bisnis lokal, serta menuliskan ulasan tempat tersebut di GOOGLE MAPS. Sedangkan photowalk adalah kita bersama rekan-rekan Local Guides lainnya pergi ke tempat-tempat yang fotogenik dan ikonis di kota kita, memotret, lalu mengunggahnya ke GOOGLE MAPS.

Kemudian map editing. Kegiatan ini memiliki agenda memutakhirkan daftar bisnis lokal di kota kita dengan memanfaatkan fitur "add a place" maupun "suggest an edit" di GOOGLE MAPS. Dan yang terakhir foodcrawl. Meet up dengan agenda foodcrawl dilakukan dengan cara bersama-sama pergi ke suatu tempat makan baru di kota, lalu mencicipi berbagai hidangan yang tersedia, serta tidak lupa memotret dan mengunggah ulasan tentang tempat makan tersebut di GOOGLE MAPS.


Dicky, Pemilik Cadbury Terrace


Sedianya kegiatan foodcrawl MALANG LOCAL GUIDES di CADBURY TERRACE dimulai pukul 15:00 WIB. Namun karena di sore itu ternyata tiba-tiba turun hujan yang cukup deras, sebagian besar peserta foodcrawl menjadi terlambat datang. Sembari menunggu peserta yang lain datang, Lidya Charolina berbaik hati mengisinya dengan membagikan beberapa tips bermedia sosial yang efektif dan bisa menjangkau lebih banyak audiens.

"Perhatikan jam memposting konten, karena kalau diposting di tengah malam siapa yang akan membaca?" terangnya.

Erny K., Host Meet Up


Kemudian tepat pukul 18:00 WIB acara foodcrawl akhirnya dibuka oleh host meet up, Erny K. Ia membeberkan secara singkat maksud dan tujuan meet up MALANG LOCAL GUIDES kali ini, yakni untuk mencicipi beberapa menu kudapan di kafe ini serta mengunggahkan ulasan di GOOGLE MAPS.


Ketika Malam Tiba, Tempat Ini Menjadi Manis


Setelah Erny K. membuka acara foodcrawl, kemudian Dicky meneruskannya dengan memberikan gambaran singkat tentang kafe CADBURY TERRACE serta menu-menu apa saja yang tersedia. Ternyata tak kurang dari 25 menu minuman dan kudapan ringan berbahan coklat Cadbury tersedia di sini.

"Kami coba mengeksplorasi coklat Cadbury ini bisa dirupakan menjadi penganan apa saja," tutur Dicky. "Salah satunya brownies."

Seorang Local Guide Djempolan Tiada Lupa Mengunggah Ulasan di Google Maps


Kemudian giliran Nunung Afuah, seorang Local Guide dari Blitar, yang membagikan pengalamannya selama mengikuti event Connect Live 2018 pada 16-18 Oktober 2018 yang baru lalu di San Fransisco, California, Amerika Serikat. Nunu, demikian Nunung Afuah biasa dipanggil, adalah satu di antara 5 peserta Google Connect Live 2018 yang berasal dari Indonesia.

Datang Jauh-jauh Dari Blitar: Kak Nunu!


Selain membagikan serunya pengalamannya mengikuti event Google Connect Live 2018 tersebut, kali ini Nunu juga memberikan tips bagaimana sebaiknya memberikan ulasan di GOOGLE MAPS.

"Ketika mereview, fokusnya adalah untuk membantu orang lain. Bukan sekadar menuliskan review yang mengatakan 'enak', 'oke', 'mantap'," ujarnya.

Oke.

Salah Dua Kudapan yang Tersedia di Cadbury Terrace


Di kafe CADBURY TERRACE ini ternyata bukan hanya minuman berbasis coklat Cadbury yang tersedia. Eko, barista kafe ini, mengatakan bahwa mereka juga menyediakan minuman kopi yang biji kopinya didapat dari daerah Malang sendiri, seperti misalnya kopi robusta Dampit dan kopi arabika dari lereng Gunung Arjuno. Favorit Penulis: kopi arabika luwak Arjuno dengan metode seduh V60. Lembut rasanya, kuat aromanya. Mashok, Pak Eko!!

Pak Eko, Barista


Acara foodcrawl MALANG LOCAL GUIDES malam ini gayeng sekali. Interaksi antar Local Guides terlihat cair tanpa sekat walaupun ada beberapa di antara mereka yang rupa-rupa baru kali pertama ini saling bertemu. Selain ngobrol-ngobrol, makan, dan minum, sebagai Local Guides tentu tak lupa kami juga memberikan rating dan ulasan untuk kafe ini di GOOGLE MAPS. Kendati ini adalah meet up bersponsor, namun kami tetap memberikan ulasan yang obyektif dan kredibel, sehingga pengguna GOOGLE MAPS lainnya akan bisa mengenal tempat ini dan memutuskan apakah memang kafe ini yang cocok dengan selera mereka.

Memotret Kudapan yang Disajikan Sebelum Memakan


Tepat pukul 19:00 WIB agenda foodcrawl di CADBURY TERRACE pun diakhiri. Semua anggota MALANG LOCAL GUIDES pulang dengan bahagia. Bukan cuma karena sudah makan dan minum, namun juga karena sudah mendapatkan sharing ilmu yang berharga dari pembicara-pembicara tersebut di atas.

Seperti itu. Ada pertanyaan, Rudolfo?

Menikmati Kopi Tubruk


CADBURY TERRACE terletak di Jl. Danau Sentani Raya blok E3G no. 25, Sawojajar, Kota Malang. Buka setiap hari pukul 15:00-24:00 WIB. Pertunjukan live music akustik oleh Major Minor Entertainment setiap hari Selasa, Jumat, dan Minggu. (iori)



—————

FOTO-FOTO: @iorikun301
TEKS: Ario Wicaksono

Meet Up dan Photowalk di Museum Musik Indonesia


"HANYA cinta yang bisa membuat MMI (Museum Musik Indonesia) tetap berjalan sampai sekarang," ucap Abdul Malik, Humas Museum Musik Indonesia, berapi-api. Semangat dan kecintaannya terhadap musik seolah menghipnotis kami berduapuluh untuk menyimaknya dengan khidmat. "Dengan musik kita bisa menebarkan kedamaian!"

Ya, siang itu, Sabtu (03/11/18), komunitas MALANG LOCAL GUIDES, memang sedang mengadakan meet up dan photowalk di Museum Musik Indonesia (MMI) yang berlokasi di Jl. Nusakambangan no. 19, Kota Malang. Dan yang bertindak sebagai host meet up kali ini adalah Khulaifatur Rosidah. Selain bertujuan untuk saling mengenal antar anggota komunitas MALANG LOCAL GUIDES, kegiatan ini juga bermaksud untuk mensosialisasikan keberadaan museum musik yang agaknya masih belum terlalu banyak orang yang tahu.

"Saya sering lewat di daerah ini, tapi tidak pernah tahu kalau ada museum seperti ini di sini," aku salah seorang anggota komunitas MALANG LOCAL GUIDES malu-malu.

Sebagian Koleksi Kaset yang Dikoleksi MMI

Khulaifatur Rosidah (Baju Merah) Menyampaikan Kata Pembuka


Dari data yang dicatat oleh Asosiasi Museum Indonesia (AMI), per Januari 2016 terdapat sebanyak 428 museum di seluruh Indonesia dengan 51 museum di antaranya berada di Jawa Timur. Dan Museum Musik Indonesia ini merupakan museum musik satu-satunya di Indonesia. Tak kurang dari 21 ribu koleksi musik dari seluruh penjuru nusantara bahkan dunia tersimpan di sini. Koleksinya mulai dari kaset, piringan hitam, cakram padat, buku, majalah, alat-alat musik etnik nusantara, serta barang-barang memorabilia dari musikus-musikus ternama.

"Kalau Anda tahu grup musik lawas Dara Puspita, museum ini menyimpan salah satu kostum yang pernah mereka gunakan ketika manggung," tutur Abdul Malik bangga.

Dara Puspita adalah grup musik perempuan asal Surabaya yang aktif dari tahun 1960-1974 yang popularitasnya kala itu disebut-sebut mampu menyaingi grup musik legendaris Deep Purple. Dara Puspita digawangi oleh Titiek Adji Rachman (gitar melodi), Lies Soetisnowati Adji Rachman (bas), Susy Nander (drum), dan Ani Kusuma (gitar pengiring). Salah satu lagu Dara Puspita yang terkenal adalah "Burung Kakak Tua". Dan menurut info, film biopik grup ini akan segera diproduksi oleh salah satu rumah produksi yang cukup ternama di Indonesia.

Hengki Herwanto (kanan), Ketua MMI

Sebelum Dimulai, Masing-masing Peserta Memperkenalkan Diri


Setelah semua peserta yang hadir saling memperkenalkan diri, Hengki Herwanto, ketua Museum Musik Indonesia, kemudian menceritakan secara singkat awal berdirinya museum ini.

"Museum ini bermula dari garasi kecil di rumah ibu saya di daerah Griya Shanta, yang kemudian berkembang menjadi Galeri Malang Bernyanyi (GMB), dan akhirnya menjadi Museum Musik Indonesia seperti sekarang ini," tuturnya. Cerita mengenai perjalanan Museum Musik Indonesia bisa dilihat di tautan berikut: Museum Musik Indonesia: Museum Musik Pertama di Indonesia

Semua peserta menyimak penuturan Hengki dengan antusias, sembari sesekali menjepretkan kamera mereka ke hal-hal yang dirasa menarik.

Abdul Malik, Humas MMI

Peserta Meet Up dan Photowalk di MMI


Bukan hanya disuguhi cerita, Hengki kemudian mengajak seluruh peserta meet up untuk mengenal alat pemutar musik piringan hitam (vinyl). Kendati sudah cukup berumur, ternyata pemutar piringan hitamnya masih bisa bekerja dengan normal. Ari, salah seorang pengurus di Museum Musik Indonesia ini, kemudian mendemokan bagaimana cara kerja alat ini.

Ia memilih sebuah piringan hitam dari album "Goodbye to You, Nona Manis" oleh The Amboina Serenaders lalu memasangkan jarumnya dengan hati-hati. Dan suara yang keluar dari pelantamnya, uh, sungguh kharismatik! Indah! Memang kualitas suaranya diakui tidak sejernih alat-alat pemutar musik modern, terutama digital. Namun setiap orang yang berkesempatan mendengar musik dari piringan hitam ini Penulis rasa akan merasakan aura yang berbeda. Aura yang bersahaja. Anda musti coba!

Pengunjung yang ingin mendengar musik dari piringan hitam bisa meminta kepada petugas museum untuk diputarkan. Biayanya 5 ribu rupiah saja yang akan digunakan untuk pemeliharaan koleksi-koleksi yang ada di museum ini.

Piringan Hitam dan Alat Pemutarnya

Sebagian Koleksi MMI


Setelah puas mendengarkan musik dari piringan hitam, komunitas MALANG LOCAL GUIDES kemudian diajak untuk berkenalan dengan salah satu musik etnik dari Kalimantan: sapek. Alat musik yang penampilan dan cara memainkannya mirip gitar ini ternyata memiliki suara yang khas.

Menurut Hengki, saat ini program Museum Musik Indonesia adalah untuk memperkenalkan alat musik etnik Kalimantan kepada masyarakat luas. Dan grup musik M2I Dawai bentukan museum ini merupakan ujung tombak dari program tersebut. Jadwal pertunjukan mereka selain berkeliling pulau Jawa untuk mempertontonkan permainan alat musik sapek, juga kerap diundang untuk mengisi acara-acara musik di berbagai hotel ternama dan banyak event musik lainnya.

Boni Memainkan Alat Musik Sapek

Menikmati Permainan Sapek oleh M2I Dawai

Bernyanyi Bersama Dalam Iringan Sapek oleh M2I Dawai


Grup musik yang dipunggawai oleh Aziz, Annisa, Alfian, Boni, Lopez, Niko, dan Yono ini kemudian mengajak seluruh peserta meet up yang hadir untuk bersama-sama bernyanyi dengan diiringi petikan alat musik sapek. Lagu yang dinyanyikan di antaranya Cublak-cublak Suweng dan Gundul Pacul. Semua peserta nampak bernyanyi dengan riang. Barangkali teringat dengan masa kanak-kanak mereka yang sering menyanyikan lagu-lagu dolanan semacam ini.

Selain sibuk mensosialisasikan alat-alat musik etnik Kalimantan, ternyata Museum Musik Indonesia juga tengah membantu pembentukan Pusat Dokumentasi Musik Nasional sebagai salah satu syarat dari UNESCO untuk meresmikan Ambon Kota Musik Dunia.

"Nantinya direncanakan akan dibuka satu museum musik di sana," ungkap Hengki.

Merekam Permainan Sapek

Memorabilia Grup Musik God Bless Berupa Gitar Bertandatangan Ahmad Albar dan Ian Antono


Sebelum acara meet up ditutup, Hengki Herwanto menyerahkan kenang-kenangan dari Museum Musik Indonesia kepada komunitas MALANG LOCAL GUIDES berupa satu buah buku karya Pongki Pamungkas yang berjudul "To Love And To Be Loved" yang diterima oleh Bambang Afrianto.

"Pongki Pamungkas adalah salah satu pendiri Museum Musik Indonesia," terang Hengki Herwanto. Bersama Hengki, Pongki menandatangani akta pembentukan Yayasan Museum Musik Indonesia pada tanggal 3 September 2016.

Kemudian seluruh peserta yang hadir pun menyempatkan diri untuk berfoto bersama.

Penyerahan Kenang-kenangan dari MMI oleh Hengki Hermanto (kiri) kepada Malang Local Guides yang Diterima Oleh Bambang Afrianto (kanan)

Sebagian Peserta Meet Up dan Photowalk di MMI


Acara meet up dan photowalk komunitas MALANG LOCAL GUIDES kali ini di Museum Musik Indonesia sungguh berfaedah. Bukan hanya menjadi ajang kumpul-kumpul sesama anggota Local Guides dan berburu foto serta memberikan ulasan di GOOGLE MAPS, namun kita juga menjadi tahu bahwa ternyata di Kota Malang ini ada satu museum yang menyimpan harta karun kebudayaan yang sangat kaya: Museum Musik Indonesia.

Keberadaannya yang begitu vital untuk turut memelihara sejarah musik di Indonesia tentu membutuhkan uluran tangan banyak pihak untuk membuatnya tetap bertahan hingga ke depannya. Dan keberadaan komunitas Local Guides, dengan ulasan-ulasannya di GOOGLE MAPS, semoga mampu mempromosikan keberadaan Museum Musik Indonesia ini bahkan hingga ke tingkat dunia. Museum Musik Indonesia: mengumpulkan, mendokumentasikan, dan mengkonservasi karya musik Indonesia untuk Indonesia dan dunia!

Museum Musik Indonesia buka setiap hari pukul 10:00-17:00 WIB dengan tiket masuk 5 ribu rupiah per pengunjung.

Salah Satu Koleksi di Pojok Ambon Menuju Kota Musik Dunia

Mengisi Buku Tamu MMI


—————
Teks dan Foto: ARIO WICAKSONO

Photowalk di Hotel ALPINES BY ARTOTEL Kota Batu


"...FROM the mountain to the valley, hear our praises rises to You; dari gunung hingga ke lembah, dengarlah puji-pujian yang kami haturkan ke hadirat-Mu.."
—Hillsong Worship: "Hear our Praises" (1999)

"Nantinya kalimat itu akan dipasang di salah satu instalasi hotel ini. Menjadi tagline dari Alpines by ARTOTEL," ujar Marsha Sukma, Asisten Marketing & Communication Manager Alpines by ARTOTEL, sembari menunjukkan desain yang dimaksud di gawainya. Bentang alam Kota Batu yang bergunung-gunung dan dihiasi dengan lembah-lembah yang menawan terbayang jelas di kutipan tersebut.

Hotel Alpines by ARTOTEL

Mural Bergambar Peta Kota Batu

Photowalk Komunitas MALANG LOCAL GUIDES


Sore itu, Selasa (23/10/18) pukul 15:00-18:00 WIB, komunitas MALANG LOCAL GUIDES berkesempatan melakukan hotel visit sekaligus photowalk di hotel Alpines by ARTOTEL, Jl. Trunojoyo no. 9, Kota Batu, Jawa Timur, yang direncanakan akan mulai beroperasi pada bulan November 2018 mendatang. Alpines by ARTOTEL merupakan sebuah hotel bisnis bintang 4 anggota Curated Collections by ARTOTEL Group yang memadukan konsep gaya hidup dan resort dalam desain dan pelayanannya. Tak kurang dari 12 anggota komunitas MALANG LOCAL GUIDES menghadiri meet up dan photowalk kali ini.

"Mohon maaf datangnya agak terlambat karena di Malang hujannya deras sekali," ucap salah seorang peserta apologetik. Cuaca yang kurang menentu akhir-akhir ini kadang membuat janji bertemu menjadi sedikit meleset. Di Kota Batu sore itu cuacanya mendung-mendung manja. Khas cuaca daerah pegunungan.

Mural Bergambar Peta Kota Batu

Nescafé Dolce Gusto Menjadi Standar di Setiap Kamar Alpines by ARTOTEL

Koridor Berhias Mural


Menjulang setinggi enam lantai dan satu lantai rooftop, Alpines by ARTOTEL melibatkan tujuh orang seniman lokal dalam mempercantik dinding-dinding hotelnya, dengan tiap satu orang seniman diberikan keleluasaan menghias satu lantai dengan karya seni mural khasnya. Dan masing-masing keenam lantai tersebut dihiasi instalasi mural dengan tema yang berbeda. 

Di antara ketujuh seniman yang dilibatkan terdapat nama-nama seperti misalnya Ebby Dwijaya yang khas dengan seni pop dan gambar-gambar menyerupai malaikat dalam ukuran mini, lalu Evan Raditya Pratomo alias Papercaptain dengan seni ukiyo-e yang khas, serta seniman asli Kota Batu, Suwandy Waeng, yang tersohor dengan karya-karya transparency dan layeringnya. Khusus untuk Suwandy Waeng, ia dipercaya mengerjakan lobby dan area publik lainnya. Sejak tahun 2011 ARTOTEL memang terkenal dengan perhatiannya terhadap seni kontemporer Indonesia.

Out of the Blue

Area Lobby

Memberikan Rating dan Ulasan di GOOGLE MAPS


Acara meet up komunitas MALANG LOCAL GUIDES kali ini bertempat di "Out of the Blue" (OOTB), café yang menyediakan kudapan-kudapan ringan dan berbagai minuman yang diracik khusus dengan sentuhan bahan-bahan lokal pilihan. Yang menarik, nama OOTB ini digunakan secara harafiah dengan menanggalkan unsur warna biru dalam rancangannya.

Selain OOTB, di Alpines by ARTOTEL juga terdapat dua tempat makan lainnya, yakni "Sangkar" yang merupakan restoran berkonsep buffet breakfast dengan masakan-masakan Indonesia dan oriental, dan "Sky Lounge" di area rooftop dengan menu-menu American dan barbeque. 

Berfoto Bersama Kaktus Artistik

Area Lobby

Bersantai di Satu Sudut Out of the Blue


Sembari menunggu beberapa peserta meet up yang lain datang, beberapa orang mulai memesan minuman dan kudapan-kudapan ringan. Satu minuman yang laris dipesan adalah Wastu Island, racikan teh dan beberapa rempah lokal serta daun mint yang akan menimbulkan sensasi hangat yang bertahan lama di tubuh, cocok dengan udara Kota Batu yang dingin. Menurut Rangga Handika, Food & Beverages Manager Alpines by ARTOTEL, beberapa rempah yang digunakan diambil langsung dari petani-petani yang ada di sekitaran Kota Batu.

"Beberapa rempah diambil dan dipilih langsung dari pengepul di Gunung Panderman sebelum rempah-rempah tersebut mereka jual di pasar," tuturnya.

Pun kopi yang ditawarkan. Ia diracik secara khusus oleh jawara roaster kopi Indonesia: Common Grounds Coffee Roasters; juara Barista tahun 2014, 2016, 2017, juara Latte Art 2014-2018, Brewers 2018, dan juara Cup Tasters 2018. Di jaringan ARTOTEL mereka menggunakan merek dagang Buka Mata. Dan kopinya memang benar-benar bisa membuat mata peminumnya terbuka. Nikmat sekali!

Instalasi Rotan di Langit-langit Area Lobby

Photowalk

Out of the Blue


Dan begitu makanan dan minuman yang dipesan datang, tanpa sungkan para peserta meet up komunitas MALANG LOCAL GUIDES mengeluarkan ponsel pintar masing-masing untuk coba mengambil foto-foto makanan dan minuman tersebut dari sudut terbaik. Beberapa peserta bahkan sampai bergeser ke lokasi lain untuk mendapatkan pencahayaan dan pemandangan latar yang optimal.

Cahaya Masuk dari Atap Area Lobby

Difoto Sebelum Disantap

Yakiniku Noodles


Tepat pukul 16:30 WIB Marsha mengajak peserta photowalk berkeliling ke seputaran hotel. Namun karena hotel Alpines by ARTOTEL ini belum seratus persen rampung, maka photowalk hanya bisa dilakukan di beberapa kamar di lantai 1 dan area lobby. Di lantai 1, persis di depan lift, terdapat mural Kota Batu yang digambar secara pop khas anak muda. Di lokasi ini beberapa peserta menyempatkan untuk berswafoto dengan gayanya masing-masing.

Setelah puas, tur kemudian berlanjut masuk ke beberapa kamar yang ada di lantai 1. Di sepanjang koridor untuk menuju kamar dihiasi dengan mural bertema Air, yang ketika masuk ke dalam kamar pun masih ditemui mural dengan tema yang sama. Sehingga ada satu kesatuan tema yang padu yang dimulai bahkan sejak di koridor dan bukan hanya di kamar. Di lokasi ini peserta photowalk mengambil foto banyak-banyak serta menyempatkan memberikan rating dan ulasan di Google Maps. Di Alpines by ARTOTEL tersedia sebanyak 142 kamar dengan 6 tipe kamar dan 4 kamar suite, yaitu Studio 25, Studio 30, Loft 40, Studio 50, Artotel Suite, serta Alpines Suite.

Photowalk

Sebagian Peserta Photowalk

Kesibukan di Dapur Out of the Blue


Area lobby menjadi jujugan photowalk komunitas MALANG LOCAL GUIDES berikutnya. Di area ini didapati instalasi anyaman rotan berbentuk awan putih yang berarakan di langit-langit. Menurut Marsha, di area ini nantinya akan disediakan beberapa bean bag untuk pengunjung bersantai seperti di pantai. Dan kalau mereka tidur-tiduran, niscaya mereka akan merasakan sensasi sedang berada di area luar ruang karena efek cahaya matahari alami, awan-awan buatan di atas kepala, serta angin yang bertiup lembut di area lobby ini.

"Standar rancangan ARTOTEL adalah dengan mengadopsi kekhasan lokal tiap lokasi. Untuk Alpines by ARTOTEL dimasukkan nuansa alam yang merupakan kekhasan Kota Batu, serta art (seni) yang belum ada di hotel-hotel lain di kota ini. Konsep ini yang membuat Alpines by ARTOTEL unik," terang Marsha.

Alpines by ARTOTEL mengintroduksi unsur-unsur alam ke dalam konsep rancangannya. Unsur Tanah, untuk tempat tinggal yang membumi, Cahaya dengan penggunaan jendela-jendela kaca besar yang memungkinkan cahaya alami masuk secara melimpah, Angin untuk udara yang bersirkulasi dengan sangat baik, Air dengan kolam air dan ikan, serta unsur Api untuk restoran yang menyajikan sajian-sajian khas Alpines by ARTOTEL.

Welldone Culinary

Out of the Blue dengan Logonya yang Kuning Cerah

Berpose di Depan Logo Alpines by ARTOTEL


Waktu beranjak senja. Di luar, langit mulai menggelap. Dan bulan yang belum bulat sempurna sudah menampakkan wujudnya. Sesi photowalk akan segera diakhiri. Dan ketika Penulis memeriksa kamera, busyet! Ternyata sudah cukup banyak foto yang Penulis ambil. Bahkan indikator baterai menunjukkan sisa satu garis saja! Hotel ini terlalu indah untuk diabadikan, bahkan ketika ia masih belum rampung sepenuhnya.

"Seluruh tempat di hotel ini dirancang instagramable," jelas Marsha sembari tersenyum.

Bhaique!!

Acara meet up dan photowalk komunitas MALANG LOCAL GUIDES di hotel Alpines by ARTOTEL, Kota Batu, pun ditutup dengan sesi foto bersama. Ah, dunia yang indah. Puji syukur kepada Tuhan Semesta Alam.

Pulang

Menikmati Senja, Memandangi Pohon Kelapa

Alpines by ARTOTEL



—————
Foto dan Teks: ARIO WICAKSONO