Slider

New Info

Aktifitas Malang Local Guides

Kuliner Malang

Wisata Malang

Aktifitas Malang Local guides

Katakan Peta: MLG Photowalk di Kampung Heritage Kayutangan


"Ada 5 pintu masuk, seluas 3 RW, dan ada 26 rumah yang berusia lebih dari 50 tahun yang bisa dikunjungi. Baru sekitar satu tahun belakangan ini dibuka sebagai kawasan wisata heritage," ungkap Mila, pemandu wisata Kampung Heritage Kayutangan.

"Dan baru ada beberapa lokasi yang titiknya sudah tercantum di Google Maps. Dulu dibantu Mbak Mutiah (Mutiah Abdat, Local Guides Indonesia —Red.)," imbuhnya.

Sangat potensial sebagai lokasi meet up! Kita bisa photowalk, foodcrawl, map editing, hingga review aksesibilitas, kemudian membagikan ulasannya di Google Maps. Betul? :)
—————

Atik the Explorer; Host MALANG LOCAL GUIDES HISTORICAL PHOTOWALK AT KAJOE TANGAN CORIDOR

Berjalan di pertokoan Kayutangan


PADA Minggu (17/02/19) yang baru lalu komunitas MALANG LOCAL GUIDES menggelar meet up di Kampung Heritage Kayutangan, Jl. Basuki Rachmad, kota Malang - Jawa Timur. Bertajuk "MALANG LOCAL GUIDES HISTORICAL PHOTOWALK AT KAJOE TANGAN CORIDOR," meet up kali ini berlangsung dari jam 10:00 WIB - 13:30 WIB, dengan agenda kegiatan photowalk dan review aksesibilitas. Bertindak sebagai Host Meet Up adalah Atik the Explorer.

"Mau ke mana, kita? Katakan 'peta!', katakan 'peta!'"

Peta kawasan Kampung Heritage Kayutangan


DiLo Malang dipilih sebagai tempat  berkumpul peserta photowalk. Lokasi yang mudah dijangkau, tempat parkir luas, dan yang paling penting hanya berjarak sepelemparan baru dari Kampung Heritage Kayutangan. Tak kurang dari 10 Local Guides menghadiri meet up kali ini.

Memotret


Tepat pukul 10:00 WIB kamipun bergerak menuju Balai RW IX, meeting point yang paling mudah dijangkau di Kampung Heritage Kayutangan, untuk bertemu dengan Mila, pemandu di kampung wisata tersebut. Biaya tiket berwisata di kampung tersebut adalah sebesar Rp5.000,- per orang dan mendapat kenang-kenangan berupa kartu pos bergambar suasana Kampung Heritage Kayutangan. Buah tangan yang menarik kalau pengunjung tidak sempat foto-foto.

"He, aku ijol sing gambare wong ganteng! —saya ingin tukar dengan kartu pos yang bergambar pemuda tampan!" Atik the Explorer.

Mila; Pemandu Kampung Heritage Kayutangan


Sebelum berbentuk menjadi Kampung Heritage Kayutangan seperti sekarang ini, kawasan ini pada tahun 2016 memilih konsep kampung wisata reliji dengan mengusung kompleks pemakaman Mbah Honggo (Pangeran Honggo Koesoemo) sebagai highlight. Namun pada tahun 2017 berubah menjadi kampung heritage/cagar budaya dengan menonjolkan rumah-rumah beraksitektur lawas yang memiliki nilai sejarah.

Rolak


Mila menuturkan bahwa pada bulan September 2017 dengan menggandeng Dinas Pariwisata Kota Malang dan para penggiat sejarah, mulai dilakukanlah pendataan terhadap rumah-rumah kuno berusia di atas 50 tahun yang ada di kawasan ini. Dari hasil pendataan tersebut berhasil didapati sebanyak 26 rumah lawas yang masih terawat.

"Bangunan-bangunan heritage di sini rata-rata masih terawat karena masih difungsikan sebagai rumah tinggal dan dihuni oleh generasi ketiga," tutur Mila.

Baru pada 22 April 2018 kawasan ini mulai dibuka (soft launching) sebagai satu jujugan wisata di kota Malang dengan nama Kampung Heritage Kayutangan yang mencakup wilayah seluas 3 RW dan dengan pengunjung per minggunya sebanyak 400 - 500 orang pengunjung.

Google Maps

Susur kampung


Pukul 10:30 WIB acara susur kampung dimulai. Destinasi pertama: Rumah Namsin. Kediaman lawas yang ada di ujung Gang 4 ini, konon, pernah difungsikan sebagai pabrik es loli (itu, loh, es plastikan rasa-rasa yang disukai anak-anak). Kami pun manggut-manggut dan mulai menjepretkan kamera. Namun karena saat itu Rumah Namsin sedang tutup, maka kamipun musti puas melihat-lihat fasad depannya saja.

Memotret Rumah Jengki

Memotret penjual jajan pasar di Pasar Talun


Next! Taman Tembakau. Seperti namanya, tempat ini berjualan tembakau. Fyi, dulu Penulis sempat beli tembakau rajangan kiloan di tempat ini. Untuk pestisida alami. Penulis (sempat) berkebun sayur di halaman belakang rumah. Fyi saja.

Destinasi selanjutnya adalah Rolak, alias pintu air lawas. Sepintas bangunannya hanya seperti gardu biasa, yang menjulang, dan berjeruji. Sebagian dindingnya juga dilabur cat warna-warni dan digantungi beberapa pot tanaman hias. Tahukah Anda apa fungsinya? Ya, betul: tempat selfie. Pojok potret. Padahal itu adalah pintu pengatur saluran air dari jaman kolonial yang saluran airnya menanjang di bawah trotoar yang kami pijak.

Jajan pasar


Berikutnya rombongan photowalk MALANG LOCAL GUIDES diajak menuju Latar Ombo. Tempat ini hanya berupa pelataran yang tidak terlalu luas yang biasa menjadi tempat rendesvouz favorit pengunjung Kampung Heritage Kayutangan yang masuk dari Jl. Basuki Rachmad Gang 6. Kami segenap Local Guides menyempatkan berfoto bersama berlatar sepeda tua dan mural di dinding. Dari lokasi ini bisa didapati Rumah Penghulu yang beraksitektur kolonial, dan Rumah Jengki yang bergaya arsitektur Jengki/Yankee khas era '50-'60an.

"Sebelum melanjutkan susur kampung, kita mampir ke Rumah 1870 terlebih dahulu," ajak Mila.

Rumah 1870 adalah rumah tertua yang ada di kawasan ini. Beraksitektur Belanda dan pertama kali dimiliki oleh Bapak Nur Wasil. Saat ini Rumah 1870 berstatus: dikontrakkan. Silahkan kalau ada rekan Local Guides yang berniat menyewa Rumah 1870. Tapi nanti jangan lupa bukakan pintunya untuk kami, ya?

Berpose di Tangga Seribu


Susur kampung berlanjut. Kali ini kami menuju ke Pasar Talun. Atau orang-orang kampung menyebutnya Pasar Krempyeng. Pasar tradisional, menempati lahan yang tidak terlalu luas, barang-barang yang dijual pun terbatas, hanya buka dari pagi hari hingga sebelum Dzuhur. Untuk pergi ke sana Mila mengajak kami melalui lorong sempit di sela-sela rumah orang, yang kalau kita berniat iseng kita bisa mengintip ke bagian dalam rumahnya melalui jendela. Dan kalau kita bercakap-cakap di lorong itu, tentu suara obrolan kita akan sampai menggema terdengar di dalam rumah. Seru sekali!

Sampai di sini, ada yang menyesal tidak ikutan kita photowalk di Kampung Heritage Kayutangan? Rasain! Hehee..

Memeriksa GOOGLE MAPS di bawah Jembatan Semeru


Pasar Krempyeng ini kecil saja. Tapi cukup bersih dan nampak belum terlalu lama ini selesai direnovasi. Dan karena kami sudah kesiangan, maka sudah banyak lapak penjual yang kosong. Namun untungnya masih ada penjual jamu tradisional dan jajan pasar (cenil/lupis) yang masih tersisa dagangannya. Kami pun menyerbu dagangan mereka. Ada yang menyerbu jamu, ada yang membeli lupis. Dan harganya?

"Kaleh ewu, Mas —dua ribu rupiah," kata ibu-ibu penjual jajan pasarnya.

Terharu T_T

Becak masuk kampung


Aksesibel untuk pengguna kursi roda


Dari Pasar Krempyeng kami berturut-turut menuju ke Terowongan Semeru, Tangga Seribu, Makam Tandak dan Pojok Dolanan, pergi ke Rumah Foto dan Galeri Antik, mampir sejenak ke Rumah Mbah Ndut, lalu ke kompleks pemakaman Mbah Honggo, dan kembali lagi ke Balai RW IX. Total waktu tempuh susur kampung sekitar dua setengah jam. Lelah. Tapi senang.



Secara umum, sebagian besar jalan di dalam Kampung Heritage Kayutangan ini cukup landai, mulus, dan memiliki lebar yang cukup memadai untuk dilewati dua orang dewasa yang saling berpapasan. Sehingga para pengguna kursi roda (atau stroller bayi) tidak akan memiliki hambatan berarti untuk menjangkau sebagian besar wilayah Kampung Heritage Kayutangan.

Namun, tentu saja, karena arsitektur rumah-rumah heritage di kawasan ini masih terbilang asli, maka sulit untuk bisa menemukan rumah yang pintu masuknya aksesibel untuk pengguna kursi roda. Selain sempit, sebagian besar pintu masuknya juga berundak. Khas arsitektur lawas.

Di Galeri Antik

Lelah


Terkait dengan place di GOOGLE MAPS, baru beberapa lokasi di kawasan Kampung Heritage Kayutangan ini yang sudah tercantum di peta. Ini tentu potensial untuk dijadikan lokasi Local Guides Meet Up selanjutnya dengan agenda Map Editing. Hanya saja karena sebagian besar lokasinya yang berada di dalam perkampungan padat, maka lokasi place yang tepat akan sulit diidentifikasi dari gambar satelit di Google Maps. Untuk itu dibutuhkan piranti GPS yang presisi ketika Local Guides ingin melakukan Map Editing di kawasan Kampung Heritage Kayutangan ini.

Pintu masuk yang kurang aksesibel untuk pengguna kursi roda

Di kompleks pemakaman Mbah Honggo


Tepat pukul 13:30 WIB "MALANG LOCAL GUIDES HISTORICAL PHOTOWALK AT KAJOE TANGAN"-pun berakhir. Di DiLo kami bertemu, di DiLo pula lah kami berpisah. Sayonara! Sampai berjumpa di photowalk-photowalk berikutnya!

"Iya. Kabarin aja," Kiky.


KAMPUNG HERITAGE KAYUTANGAN

Jl. Jend. Basuki Rachmat Gg. VI, Kauman, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119
0813-3456-3113
https://maps.app.goo.gl/Ud8XD



—————
TEKS dan FOTO: Ario Wicaksono (IG:@iorikun301)

Local Guides Meet Up: How to Contribute to Local Guides Connect

(ki-ka) Atikers, Rivani, Nunung Afuah, Ardi, Masjon


ANDA Local Guides? Level berapa? Sudah sering berkontribusi di Local Guides Connect? Sudah mengerti apa maksud board-board topik yang ada di sana? Yakin?

"Orang paling sering menyalahartikan board topik Local Stories sebagai topik tentang apa-apa saja yang bisa ditemui di kota tempat tinggal mereka. Bukan. Itu lebih cocok masuk ke board topik Travel. Local Stories adalah board topik tentang sosok Local Guides di satu kota dan sumbangsih positifnya terhadap lingkungan tempat tinggalnya," terang Nunung Afuah, Connect Moderator.

Nah, loo.. :)

Nunung Afuah —Connect Moderator


Bertajuk "LOCAL GUIDES MEET UP: HOW TO CONTRIBUTE TO LOCAL GUIDES CONNECT", meet up komunitas MALANG LOCAL GUIDES kali ini berlangsung pada hari Sabtu (16/02/19) pukul 18:00 WIB - 21:00 WIB dan mengambil tempat di NGALUP COWORKING SPACE, Jl. Sudimoro, Perum d'WIGA Regency Blok R 1 no. 7, kota Malang - Jawa Timur, dengan menghadirkan narasumber Nunung Afuah, Connect Moderator.

Kendati sore itu kota Malang baru saja diguyur hujan lebat, namun hal tersebut tidak mengurangi antusiasme 6 orang Local Guides untuk menghadiri meet up kali ini. Ada Penulis, Nunung Afuah, Rivani, Mas Jon, Christophorus Ardi, dan juga Atikers.

"Ini seperti di kelas pelatihan Advanced," ujar Nunung Afuah. "Pesertanya cuma segini."

Les privat, Kak.. :)

Event Hall Ngalup Coworking Space


Setelah menunggu kehadiran Atikers yang tersasar entah di kompleks perumahan mana (Anda local guides? Hahaa..), tepat pukul 19:30 WIB acara sharing santai tentang seluk-beluk ber-Local Guides Connect inipun dibuka. Telat? Santai, saja. Namanya juga sharing santai. Hehee..

BACA JUGA: Apa itu Google Local Guides?

Dalam meet up kali ini Nunung Afuah membagikan beberapa tips ber-Connect yang baik yang sudah ia pelajari selama menjadi Connect Moderator. Di antaranya:

"Gunakan user name yang unik supaya tidak tertukar dengan user Connect yang lain. Dan usahakan gunakan nama sendiri tapi bukan nama yang berafiliasi bisnis, misalnya Nunungjilbab, karena bisa ter-suspend oleh sistem," ucapnya.

Ini seram :(

Suasana Kelas Privat


Selain menjelaskan pentingnya menggunakan nama sendiri sebagai user name di Connect, Nunung Afuah juga menjelaskan ada yang baru di aplikasi Google Maps, yakni: hashtag. Tanda pagar. Tagar.

BACA JUGA: MLG Foodcrawl: Nikmatnya Bakso Solo Sawojajar. Ada Bakso Bakarnya Juga!

Menurut Nunung, di Indonesia penggunaan tagar-tagar ini barangkali belum terlalu luas, namun di luar negeri (tercatat Nunung Afuah setidaknya sudah dua kali ke San Fransisco, Amerika Serikat) penggunaan tagar sangat membantu untuk mencari tempat dengan layanan yang spesifik di Google Maps.

Nunung mengungkapkan bahwa dulu ketika di San Fransisco dia acapkali memasukkan tagar #halalfood di kolom pencarian Google Maps ketika sedang mencari warung makanan halal di areanya. Atau tagar #vegan. Di Google Maps sendiri, tagar ini diperbolehkan paling banyak lima buah tagar.

#letsguide #localguides #localguidesconnect #malanglocalguidesmeetup #rizkyridhodidangdutacademyindosiar

Live di Instagram @MalangLocalGuides


Selayak guru les privat yang baik, Nunung Afuah juga menerangkan secara detil board-board topik yang bisa ditemui di local guides connect, yakni Home, Photography, Travel, Food & Drink, Local Stories, Meet-Ups, How-tos, Announcements, Help Desk, serta Idea Exchange.

Konon, orang sering salah memasukkan topik tulisannya ke board-board topik yang sudah disediakan di Connect. Permasalahannya satu: communication gap. Perbedaan bahasa. Betul, di Connect sebetulnya sudah tersedia algoritma penerjemah yang bisa mengalihbahasakan ke dalam 33 bahasa yang berbeda. Namun karena yang menerjemahkan adalah robot, maka kadang hasil terjemahannya terasa kurang luwes dan mengakibatkan terjadinya kesenjangan pemahaman.

BACA JUGA: Sosialisasi Google Maps Bersama GERKATIN Kota Malang

Sebagai contoh board topik Local Stories. Orang sering beranggapan bahwa topik ini adalah tentang cerita-cerita lokal, tentang bermacam hal yang ada atau terjadi di daerah tempat tinggal mereka. Padahal bukan demikian. Local Stories adalah topik tentang sosok individu local guides di berbagai daerah yang memiliki sumbangsih positif bagi kemajuan masyarakat di daerahnya, dan hal tersebut penting untuk diceritakan kepada local guides lain sebagai sebuah inspirasi positif.

Mendengar penjelasan itu kami, peserta kelas meet up privat, pun kompak berkata: "Ooo.."

Suasana Meet Up yang Swantee Sayang


Seperti halnya forum-forum komunitas lainnya, berinteraksi di Local Guides Connect-pun ada etikanya. Kami menyebutnya "5 Nilai-nilai Inti Connect." Five Core Values Local Guides Connect. Yakni: 1) Kami menyambut. Siapapun boleh menjadi Local Guides. Dan ketika ada orang-orang baru yang bergabung, kami menyambut dan merangkul mereka;

Membahas Connect Live (d/h Local Guides Summit)


2) Kami bijaksana. Gunakan Connect dengan tidak serampangan. Berinteraksilah dengan bijak; 3) Kami membantu. Saling membantu ketika ada yang kesulitan dengan Connect, sehingga komunitas ini bisa tumbuh dan berkembang secara sehat; 4) Kami orisinal. Tulisan, foto, dan video yang dibagikan merupakan karya asli dan diunggah eksklusif untuk Connect. Kami hanya membagikan konten yang memang kami memiliki hak untuk membagikannya; dan 5) Kami waspada. Ketika melihat ada sesuatu yang salah, semisal unggahan yang tidak pantas, kami menandai dan melaporkan unggahan tersebut sebagai "laporan konten yang tidak pantas."

"Intinya," sebut Nunung Afuah, "orang menulis di Connect adalah karena dia ingin berbagi tentang topik penting tertentu yang layak untuk diketahui kepada orang lain."

Les Privat


Tepat pukul 21:15 WIB "Local Guides Meet Up: How to Contribute to Local Guides" inipun diakhiri setelah pegawai Ngalup Coworking Space-nya pura-pura berdehem. Jam operasional sudah berakhir sejak 15 menit yang lalu. Kamipun bubar. Tapi tahukah Anda bahwa sebetulnya masih ada beberapa hal menarik lain yang juga diungkap Nunung Afuah pada meet up malam itu? Namun dia sudah mewanti-wanti: "Off the record!"

#ashiaaap :)

Teknologi Augmented Reality yang Akan Segera Diterapkan di Google Maps. Kayak main Pokemon




—————
DISCLAIMER:

Ini adalah meet up bersponsor. MALANG LOCAL GUIDES berterima kasih kepada NGALUP COWORKING SPACE yang telah mensponsori meet up kali ini dengan menyediakan ruang pertemuan, perangkat proyektor, sound system, serta koneksi internet untuk digunakan secara gratis. Mereka mengerti bahwa tidak satupun dari Local Guides yang menjanjikan kontribusi dalam bentuk apapun terkait bisnis yang bersangkutan sebagai imbal-balik atas sponsor yang diberikan.



NGALUP COWORKING SPACE

Jl. Sudimoro, Perum d'WIGA Regency
Blok R 1 no. 7, kota Malang-Jawa Timur
Ngalup Coworking Space
https://maps.app.goo.gl/WMALn


—————
TEKS dan FOTO: Ario Wicaksono (IG: @iorikun301)

MEET UP DADAKAN: MALANG LOCAL GUIDES NOBAR FILM SATU SURO


KADANG pertemuan yang tak direncanakan justru bisa dilaksanakan. Seperti di hari itu: MEET UP DADAKAN: MALANG LOCAL GUIDES NONTON BARENG FILM SATU SURO!


Bioskop Araya XXI


Ting-tung!

Suara notifikasi pesan masuk. Sederet kata terpampang di layar ponsel.

"Besok, Jumat (08/02/19), komunitas MALANG LOCAL GUIDES kami undang untuk nonton bareng film SATU SURO di bioskop Araya XXI pertunjukan jam 14:40 WIB. Kuota untuk 10 orang."

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sudah cukup lama, memang, komunitas MALANG LOCAL GUIDES tidak menggelar meet up; sebuah pertemuan santai untuk saling mengenal sesama anggota Google Local Guides dan membahas isu-isu hangat dunia. Eh, membahas seluk-beluk ber-Google Maps-ria, maksud saya. Maaf.

Pengunjung Bioskop Araya XXI


Undangan nonton bareng itupun segera dibagikan di grup WhatsApp komunitas MALANG LOCAL GUIDES. Dan tak butuh waktu lama untuk kuota undangan tersebut terisi. Tapi..

Ting-tung!

Sebuah pesan kembali masuk.

"Mohon maaf, karena satu dan lain hal, jadwal nobar Satu Suro komunitas MALANG LOCAL GUIDES terpaksa diundur ke pertunjukan jam 19:00 WIB. Atas pengertiannya disampaikan terima kasih. —Sponsor"

BACA JUGA: Meet Up dan Photowalk di Museum Musik Indonesia

Aduh! Kabar menggelegar kuterima. Musti segera diambil langkah-langkah taktis. Meet up (dadakan) kali ini tidak boleh (kembali) menjadi wacana! Entah sudah berapa purnama rekan-rekan MALANG LOCAL GUIDES tidak saling berjumpa.



Singkat cerita meet up dadakan MALANG LOCAL GUIDES nonton bareng film Satu Suro di bioskop Araya XXI ini pun terlaksana. Tak kurang dari delapan orang local guides berkumpul. Anggota baru maupun mereka yang sudah lama bergabung tanpa canggung. Akrab, seolah sudah lama saling mengenal. Hore!

Disutradarai oleh Anggy Umbara, film Satu Suro berkisah tentang Adinda (Citra Kirana) yang tengah hamil besar dan pindah ke sebuah rumah di daerah yang jauh kota bersama suaminya, Bayu (Nino Fernandez), seorang penulis. Kepindahan mereka adalah untuk mencari tempat yang tenang untuk persiapan persalinan Adinda sekaligus tempat yang inspiratif bagi Bayu meneruskan penulisan buku terbarunya. Tapi di rumah itu mereka mulai merasakan kehadiran makhluk-makhluk tak kasat mata dan mulai berhalusinasi.

Memberikan Rating dan Review di Google Maps


Satu hari Adinda merasakan kontraksi pada kandungannya. Mereka pun menuju ke rumah sakit terdekat untuk persiapan persalinan. Tapi siapa sangka justru di rumah sakit itulah petaka dahsyat menunggu mereka. Pun masa lalu keluarga yang kelam pelan-pelan tersingkap. Mampukah Adinda dan Bayu bertahan dalam situasi yang mengerikan? Terlebih malam itu adalah malam 1 Suro, yang konon adalah malam lebarannya para setan. Seram..

BACA JUGA: Sosialisasi Google Maps Bersama GERKATIN Kota Malang

Dan benar saja, di dalam bioskop yang gelap dan dingin, beberapa rekan menjadi ketakutan menonton filmnya. Mereka berisik sendiri.



"Ndek pinggir ambek ndek mburiku ga ada orang, aku mau pindah ke depan!" —di samping dan belakang saya tidak ada orang, saya mau pindah ke depan.

Sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk ke ponsel saya. Si pengirim pesanpun (bersama dayang-dayangnya) pindah ke bangku barisan depan. Tepat di belakang bangku saya. Tapi mungkin ia dasarnya memang penakut. Sepanjang pertunjukan ia terus ribut sendiri sambil menendang-nendang bangku penonton di depannya. Bangku saya. Sedangkan saya? Ngumpet di balik jaket(!!). Hehee..

Bertemu Rekan-rekan Batu Local Guides


Sebagai satu komunitas local guides, tentu saja meet up MALANG LOCAL GUIDES tidak cuma diisi dengan ngobrol sana-sini. Atau sehabis nobar pulang. Tidak. Kami selalu menyempatkan untuk memberikan rating dan ulasan tentang lokasi meet up-nya, dalam hal ini bioskop Araya XXI, di aplikasi Google Maps. Harapannya tentu agar pengguna Google Maps yang lain akan bisa terbantu untuk mengetahui perihal tempat yang bersangkutan sebelum mereka datang ke tempat tersebut.

Rekan-rekan local guides yang masih belum terlalu akrab dengan apa-bagaimana memberikan rating dan ulasan tempat di Google Maps juga dibantu. Mengambil foto, memberi rating bintang, dan menuliskan ulasan.



Pukul 9 malam meet up dadakan MALANG LOCAL GUIDES nonton bareng film Satu Suro pun berakhir. Dan puji syukur bahwa meet up kali ini akhirnya bisa terlaksana, bukan cuma wacana. Untuk ke depannya tentu saja bakal ada meet up-meet up berikutnya dengan agenda yang berbeda. Akankah diadakannya mendadak juga? Belum tahu. Karena kadang dadakan adalah koentji, Sob!

MALANG LOCAL GUIDES mengucapkan terima kasih kepada Ibu Chandra atas undangannya menonton film Satu Suro ini.


Araya XXI
Araya XXI
Plaza Araya lt. 2
Jl. Blimbing Indah Megah no. 2
Kota Malang — Jawa Timur
https://maps.app.goo.gl/iWjGp

—————
TEKS : Ario Wicaksono (@iorikun301)

Kiprah MMI dalam Mempersiapkan Ambon Menuju Kota Musik Dunia


Ambon menuju Kota Musik Dunia yang diakui oleh UNESCO. Dan Museum Musik Indonesia (MMI) memiliki andil yang tak bisa dianggap remeh. Seperti apa kiprahnya?
———

Ratna Sakti Wulandari (kiri) dan Ir. Hengki Herwanto, MBA (kanan)


PADA bulan Juni tahun 2019 mendatang kota Ambon, Maluku, berencana mengajukan diri untuk menjadi Kota Musik Dunia kepada UNESCO. Untuk bisa mendapatkan pengakuan tersebut, beberapa persyaratan musti bisa dipenuhi, di antaranya kota Ambon harus bisa menunjukkan adanya dampak ekonomi yang signifikan dari kegiatan musik di kota tersebut, adanya perguruan tinggi musik, memiliki gedung konser musik dan studio rekaman bertaraf internasional, dan lain sebagainya.

Museum Musik Indonesia (MMI) turut menyiapkan Ambon menuju Kota Musik Dunia


Dalam rilis yang diterima oleh malanglocalguides.com, disebutkan cita-cita Pemerintah untuk mewujudkan Ambon sebagai Kota Musik Dunia sebetulnya sudah dicanangkan sejak tahun 2016 silam. Dan setelah melalui beberapa proses, maka pada 29 Oktober 2018 lalu telah ditandatangani sebuah nota kesepahaman antara Ir. Hengki Herwanto, MBA, selaku Ketua MMI, dengan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, S.H., di mana kedua belah pihak telah bersepakat untuk mendukung pembentukan dan pelaksanaan Pusat Dokumentasi Musik Nasional (PDMN) di kota Ambon sebagai salah satu langkah strategis untuk Ambon menuju Kota Musik Dunia.

Sebagian piringan hitam koleksi musik Ambon - Maluku

Hal tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Ambon Music Office (AMO) cq Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon dengan menerbitkan Surat Perintah Kerja (SPK) kepada MMI untuk pengadaan perlengkapan atau sarana yang akan menjadi koleksi PDMN.

Baca juga: Profil Museum Musik Indonesia: Museum musik pertama di Indonesia

"Pada Kamis (27/12/18) besok (perwakilan) MMI akan bertolak menuju Ambon dengan membawa 100 keping CD musik, 100 kaset, 100 buah piringan hitam, dan 100 buku katalog musik Ambon untuk membantu persiapan Ambon menuju Kota Musik Dunia," ujar Hengki dalam jumpa wartawan yang digelar di MMI Jl. Nusakambangan no. 19, Kota Malang, Rabu (26/12/18). Dalam jumpa wartawan kali ini Hengki didampingi oleh Ratna Sakti Wulandari, pimpinan proyek, dan Sylvia Saartje, lady rocker pertama Indonesia berdarah Ambon yang saat ini tinggal di kota Malang.

Piringan hitam grup musik Giant Step


Di antara koleksi musik yang akan diserahkan tersebut, terdapat koleksi piringan hitam yang dirasa istimewa, di antaranya album karya Pusaka Massada, album musik Daniel Sahuleka (musisi Belanda berdarah Ambon), piringan hitam Sylvia Saartje, album bertanda tangan Oscar Harris, Ludruk RRI Surabaya "Onde-onde Ning Minah", serta piringan hitam grup musik Giant Step, yang mana Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), pernah menjadi salah seorang personelnya.

Sebagian koleksi kaset musik Ambon - Maluku


Menurut Hengki, selain kota Ambon, sebetulnya kota Bandung, Medan, dan juga Malang, juga memiliki potensi untuk mengajukan diri sebagai Kota Musik Dunia. Namun karena Ambon yang sudah dari awal mencanangkan akan mengajukan diri untuk menjadi Kota Musik Dunia, serta Bekraf juga menilai Ambon memiliki kesiapan yang lebih ketimbang kota-kota lainnya, maka kota Ambonlah yang kemudian akan diajukan sebagai Kota Musik Dunia kepada UNESCO.

Baca juga: Aktivitas Malang Local Guides: Meetup dan photowalk di Museum Musik Indonesia

"Masyarakat Ambon memiliki intuisi musik yang sangat kuat," ujar Hengki. "Ketika di gereja dimulai paduan suara, maka mereka secara otomatis bisa mengatur sendiri pembagian suaranya."

Ir. Hengki Herwanto, MBA (kiri) bersama Sylvia Saartje (kanan)


Dengan memperhatikan hal-hal yang semacam itu, tentulah layak bagi Ambon untuk diajukan menjadi satu Kota Musik Dunia kepada UNESCO. Dan langkah seperti yang ditempuh oleh MMI untuk turut menyiapkan Ambon menuju Kota Musik Dunia ini tentulah perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam kapasitasnya masing-masing.

"Pewarisan budaya musik tradisi sangat penting," tutup Hengki.

Pendaftaran kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia akan dilakukan pada bulan Juni 2019, yang selanjutnya akan dilakukan pemaparan kepada UNESCO pada bulan September 2019 di Italia, dan diharapkan pada bulan Oktober 2019 UNESCO bisa menerbitkan sertifikat pengakuan kepada kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia.

Berfoto bersama awak media (dok. MMI)

—————

TEKS : Ario Wicaksono
FOTO: @iorikun301


Sosialisasi GOOGLE MAPS bersama GERKATIN Kota Malang




MEMASYARAKATKAN Google Maps dan Meng-Google Maps-kan masyarakat. Sebagai bagian dari komunitas global Google Local Guides, kami, MALANG LOCAL GUIDES, tentu memiliki kepentingan agar semakin banyak orang yang bisa memetik manfaat dari keberadaan aplikasi Google Maps.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka pada Minggu (25/11/18) yang baru lalu komunitas MALANG LOCAL GUIDES mengadakan meet up sekaligus melakukan sosialisasi tentang penggunaan aplikasi Google Maps kepada kelompok Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Kota Malang.

Sebagian Peserta


Acara tersebut mengambil tempat di kantor Gerkatin Kota Malang Jl. Ijen no. 34, Kota Malang, dan berlangsung dari pukul 08:00-10:00 WIB. Tak kurang dari 30 orang peserta menghadiri acara yang dikemas santai ini. Dan untuk membantu kelancaran komunikasi selama acara, kami dibantu oleh Yanda Sinaga, guru bahasa isyarat, yang akan menerjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) maupun sebaliknya.

Dibantu Menterjemahkan Bahasa Isyarat oleh Yanda Sinaga (berdiri)


Tepat pukul 08:00 WIB acara dibuka oleh Ario Wicaksono, anggota MALANG LOCAL GUIDES, yang menyampaikan maksud kedatangan teman-teman local guides ke sini, yakni untuk mensosialisasikan penggunaan aplikasi Google Maps.

Walaupun sudah dibantu oleh Yanda Sinaga untuk menerjemahkan kata-katanya ke dalam Bisindo, namun Ario juga mencoba menggunakan bahasa isyarat untuk memperkenalkan dirinya kepada teman-teman tuli yang hadir kendati masih sangat terbata-bata. Menurut pengakuannya, ia baru mempelajari penggunaan bahasa isyarat tersebut selama tiga puluh menit.

"Langsung bisa!" ungkapnya.

Panduan Alfabet Bahasa Isyarat Indonesia yang Ternyata Tidak Terlalu Susah


Acara kemudian dilanjutkan dengan pengenalan penggunaan aplikasi Google Maps yang disampaikan oleh Bambang Afrianto, salah seorang senior di MALANG LOCAL GUIDES sekaligus Batu Local Guides. Dalam sesi ini Bambang mengajarkan cara memberikan rating dan ulasan untuk tempat-tempat yang ada di Google Maps.

"Rating bintang 1 artinya kamu benci (dengan pelayanan di tempat itu), tapi kalau bintang 5 itu artinya cinta," terang Bambang.

Selama sesi ini rekan-rekan local guides yang lain mendampingi teman-teman Gerkatin. Mereka nampak antusias sekali belajar memberikan rating dan ulasan di Google Maps. Bahkan ketika ada yang salah memberikan rating bintang 1 padahal yang dimaksudkan adalah memberikan rating bintang 5, ia berkali-kali meminta pemakluman dan segera memperbaiki ulasannya. Kami pun serentak tertawa dan memaklumi. Yang namanya belajar, tak perlu takut salah, bukan? :)

Mendampingi Belajar Penggunaan Google Maps


Selain mengajarkan tentang cara memberikan rating dan ulasan, Bambang Afrianto juga mencoba menambahkan tempat di Google Maps karena diketahui kantor Gerkatin Kota Malang ini belum tercatat di Google Maps. Ketika tulisan ini dibuat, lokasi kantor Gerkatin Kota Malang di Google Maps sudah berhasil ditambahkan dan published.

Mendampingi Belajar Penggunaan Google Maps


Dalam acara kali ini, selain bersama-sama belajar tentang cara penggunaan Google Maps, kami juga belajar bahasa isyarat. Rekan-rekan Gerkatin Kota Malang dengan sabar mengajari kami beberapa isyarat dasar, seperti misalnya alfabet bahasa isyarat Indonesia, isyarat terima kasih (yang mirip dengan isyarat kissbye), serta cara mengatakan Malang Local Guides dan Batu Local Guides dalam bahasa isyarat.

Karena, ternyata, bahasa isyarat ini adalah bahasa yang sangat ekspresif, maka selama belajar bahasa isyarat ini pun kami terbawa dengan aura positifnya.

Belajar Bahasa Isyarat


Di samping mengajarkan kepada kami beberapa isyarat sederhana, ternyata rekan-rekan Gerkatin Kota Malang juga berbaik hati membuatkan simbol isyarat untuk menyebut "local guides." Simbol isyarat "local guides" adalah tangan kiri menunjukkan simbol huruf "L", yang dipadukan dengan tangan kanan menunjukkan isyarat huruf "G" dalam bahasa isyarat internasional yang diletakkan tepat di bawah isyarat huruf "L".

"Sehingga nanti kalau Local Guides ingin berfoto, bisa sambil menunjukkan isyarat ini," ucap ibu Sumiati, pengurus Gerkatin Kota Malang.

Ah, ini hadiah yang sangat menyenangkan bagi kami. :)

Simbol isyarat Gerkatin sendiri adalah huruf "G", namun dengan tangan kanan yang dimodifikasi menunjukkan isyarat "I love you" (mirip dengan simbol salam metal).

Ibu Sumiati (Gerkatin Kota Malang) Menunjukkan Simbol Isyarat untuk Local Guides


Sebelum mengakhiri acara, seluruh peserta pun menyempatkan mengambil foto bersama di halaman kantor. Turut pula berfoto bersama dua orang dari Gerkatin Kota Malang yang mengenakan kostum karnaval yang baru saja berkeliling di area hari bebas kendaraan bermotor. Kemudian kami pun berpisah dengan sebuah janji untuk kembali bertemu di kelak kemudian hari.

Belajar Penggunaan Google Maps


Terima kasih kepada Dini Rachmawati yang sudah memperkenalkan MALANG LOCAL GUIDES kepada Gerkatin Kota Malang, ibu Sumiati pengurus Gerkatin Kota Malang yang sudah menyambut kami dengan tangan terbuka, Bambang Afrianto yang sudah berkenan menyampaikan materi cara penggunaan Google Maps, Yanda Sinaga yang menjembatani komunikasi di antara kami, serta seluruh rekan MALANG LOCAL GUIDES, Batu Local Guides, dan Gerkatin Kota Malang yang sudah menyempatkan hadir.

Sampai jumpa di #MalangLocalGuidesMeetUp selanjutnya. Salam! (iori)


Persiapan Berfoto Bersama



—————

TEKS: Ario Wicaksono
FOTO: @iorikun301