Slider

New Info

Aktifitas Malang Local Guides

Kuliner Malang

Wisata Malang

Aktifitas Malang Local guides

#JELANGKOSMON17A: MALANG LOCAL GUIDES LIVE ON AIR RADIO KOSMONITA NUMPAK MACYTO!



"Nama saya Mojo. Triatmojo. Istimewa!"
—————

TAK terasa hampir 17 tahun RADIO KOSMONITA 95.4 FM MALANG hadir di kota ini sebagai sahabat perempuan dan keluarga. Ya, sejak kelahirannya pada 21 April 2002 silam Radio Kosmonita selalu menyajikan konten-konten siaran berkualitas dengan visi untuk menjadikan perempuan memiliki pemikiran yang lebih terbuka dan berdaya. Ini sesuai dengan tagline-nya: radio untuk perempuan matang, berwawasan, dan gaya.

Dan dalam rangka menyambut ulang tahunnya yang ke-17 tersebut (#JelangKosmon17a), Radio Kosmonita sejak 10 Februari 2019 yang lalu menggelar acara Live On Air (siaran langsung di luar studio) di 17 titik kota Malang dengan menggandeng beragam komunitas serta 17 Para Kosmonita (sebutan bagi pendengar setia Radio Kosmonita) untuk turut bersiaran.



Titik-titik live on-airnya antara lain area car free day Ijen, outlet Malang Strudel, arena Jack Cloth Rampal, Museum Musik Indonesia, Belah Duren Sawojajar, Polres Malang, alun-alun Malang, taman Trunojoyo, Plasa Telkom Malang, Bank Bukopin, Transmart MX Mall, kantor DJP Pajak, Gramedia Basuki Rahmat, kampus perguruan tinggi ASIA, Taman Rekreasi Kota Malang (Tarekot), DPRD Kota Malang, serta Museum Brawijaya dan Simpang Balapan.



Beruntung komunitas MALANG LOCAL GUIDES juga diundang untuk turut memeriahkan acara ini pada titik terakhir live on-air yang berlokasi di Simpang Balapan pada Kamis (21/03/2019) pukul 15:00 WIB yang baru lalu. Perwakilan komunitas MALANG LOCAL GUIDES yang menghadiri acara ini adalah Triatmojo dan Wahyu Salman.

Yang menarik, karena Simpang Balapan (dan Museum Brawijaya) ini adalah titik live-on air terakhir, maka live on-airnya pun dibuat istimewa: live on-air atas bus imut Macyto yang sedang berkeliling di jalanan kota Malang dengan dihibur oleh penampilan live Ngalam Jazz Community! Istimewa!



Pukul 10:00 WIB para Kosmonita peserta live on-air #JelangKosmon17a berangkat dari area Tarekot dengan menumpang bus Macyto. Tujuannya adalah Hotel Savana sebagai titik live on-air ke 15 dengan melewati Alun-alun Merdeka Malang, kawasan pecinan, Kampung Warna-warni, Stasiun Malang Kotabaru, dan Jl. WR Supratman.



Pada rute perjalanan ini diadakan sesi talkshow dengan narasumber Ibu Ida Ayu Made Wahyuni, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Malang, dengan tema "Malang Sebagai Kota Wisata Belanja." Acara bincang-bincang ini unik karena dilakukan di atas bus Macyto yang sedang berjalan.

Titik live on-air #JelangKosmon17a yang berikutnya adalah Balaikota Malang. Tak berhenti lama, bus Macyto pun segera diarahkan menuju tempat tersebut. Di titik live on-air ke 16 ini turut hadir Ibu Hj. Widayati Sutiaji, istri Walikota Malang saat ini, dengan didampingi oleh tim Pokja III PKK Kota Malang. Di sesi talkshow live on-air ini Ibu Hj. Widayati Sutiaji membicarakan perihal "Rumah Solusi dan Kota Malang Sebagai Kota Yang Ramah Untuk Perempuan dan Anak."



Masih bersama para Kosmonita dalam live on-air #JelangKosmon17a. Destinasi berikutnya adalah Museum Brawijaya. Di lokasi ini para Kosmonita beristirahat sejenak. Tapi ada beberapa orang yang tidak bisa beristirahat. Mereka deg-degan karena sebentar lagi adalah giliran mereka untuk diwawancara dan live di radio.

"Dengerin, nih, habis ini live on-air di RADIO KOSMONITA 95.4 FM MALANG bersama MALANG LOCAL GUIDES!" salah seorang para Kosmonita mengirim sebuah pesan ke grup percakapan MALANG LOCAL GUIDES.

Menunggu kepastian jam live on-air. Lalu..

"Sekarang gaes rungokkan! —dengarkan siarannya di radio sekarang juga, teman-teman"



Masih bersiaran langsung #JelangKosmon17a dari atas bus Macyto yang sedang menuju ke titik terakhir (17) live on-air di Simpang Balapan. Komunitas MALANG LOCAL GUIDES diwawancara tentang profil komunitas dan juga wisata kota Malang. Semua Kanca Muda MALANG LOCAL GUIDES menyimak khidmat dari radio masing-masing. Menunggu suara dari ia yang mereka kenal. Lalu..

"Nama saya Mojo. Triatmojo. Istimewa!"

Netizen terdiam.

Di titik ke 17 live on-air #JelangKosmon17a di Simpang Balapan ini para Kosmonita dihibur oleh penampilan apik Ngalam Jazz Community yang membawakan lagu-lagu bernuansa jazz. Dari sini acara live on-air #JelangKosmon17a pun berakhir dan bus imut ikon kota Malang, Macyto, menuju ke titik finish di Tarekot.



Happy, happy birthday, RADIO KOSMONITA 95.4 FM MALANG. Lilin yang di atas kuenya sekali tiup matikan semuanya. Ayo dimulai pesta yang hanya untuk dirimu. Semoga semakin terkenal, solid, dan semakin banyak orang yang mendengarkan radio di era modern ini. Wish you all the best and always be Kosmon17a!

#JelangKosmon17a
#MalangLocalGuides



———————
RADIO KOSMONITA 95.4 FM MALANG
Ruko WR Supratman C1 Kav. 18
Kota Malang
(0341) 558044
https://maps.app.goo.gl/rN1ek



TEKS: Ario Wicaksono
FOTO-FOTO: Triatmojo/Wahyu Salman/Istimewa

Jumpa Pers The Erasmus Huis Present Concert DeWolff Malang


ERASMUS HUIS, pusat kebudayaan Belanda di Jakarta, bekerja sama dengan Museum Musik Indonesia (MMI) dan WartaJazz akan menggelar konser grup musik beraliran psychedelic southern blues rock asal Belanda, DeWolff, pada Selasa (12/03/19) pukul 19:00 WIB dan bertempat di Gedung Kesenian Gajayana, Jl. Nusakambangan no. 19, kota Malang. Acara ini gratis dengan sistem tanpa reservasi. First come, first served.

The Erasmus Huis Presents: Concert DeWolff


Dalam jumpa pers yang diadakan di MMI, Jl. Nusakambangan no. 19, kota Malang, drs. J. J. M. Nijssen, Direktur Erasmus Huis mengungkapkan acara ini merupakan salah satu agenda Erasmus Huis untuk memperkenalkan kebudayaan Belanda kepada generasi muda di Indonesia.

BACA JUGA: Meet Up & Photowalk Malang Local Guides di Museum Musik Indonesia

"Ini adalah upaya kami untuk menjembatani kebudayaan kedua negara melalui kesenian dan musik," tutur Joyce, demikian drs. J. J. M. Nijssen biasa dipanggil. "Dan grup musik DeWolff dipilih karena prestasinya yang mentereng dan mereka juga masih berusia muda."

DeWolff: (ki-ka) Luka van de Poel, Pablo van de Poel, Robin Piso


Ketiga personel DeWolff lengkap hadir dalam jumpa pers kali ini. Mereka adalah Pablo van de Poel (gitar), Luka van de Poel (drum), dan juga Robin Piso (keyboard). Mereka begitu ramah dan antusias melihat-lihat koleksi MMI. Bahkan mereka sempat jamming memainkan alat band yang tersedia. Dan itu adalah penampilan dadakan yang sungguh menawan! Barangkali memang seperti itulah kualitas band kelas dunia. Eropa dan Australia telah mereka taklukkan, dan kali ini giliran Indonesia!

"Ini pertama kalinya kami mampir ke Asia. Setelah Jakarta, Malang adalah kota kedua yang akan kami gebrak!" ucap Pablo. Di antara ketiga personel DeWolff, dialah yang paling muda juga yang paling sering berbicara di hadapan awak media.

(ki-ka) Hengki Herwanto (MMI), Joyce (Erasmus Huis), Pablo, Robin, Luka (DeWolff)


Rangkaian tur musik DeWolff di Indonesia yang diselenggaran oleh Erasmus Huis ini dimulai di Jakarta (09/03/19), kemudian Malang (12/03/19), dan ditutup di kota Yogyakarta (15/03/19). Di setiap kota yang disinggahi mereka selalu menggandeng musisi lokal sebagai band pembuka. Dan di Malang mereka menggaet Remissa, band indie beraliran grunge yang berdiri sejak pertengahan 2014 silam. Pada jumpa pers ini band Remissa diwakili oleh manajer mereka, Santoso.

(ki-ka): Pablo, Luka, Santoso (Remissa), Robin


Direncanakan DeWolff akan memainkan sekitar 10 lagu dengan durasi total antara 1 - 1,5 jam pertunjukan. Lagu-lagu yang akan mereka mainkan adalah lagu-lagu mereka sendiri dan kesemuanya dalam bahasa Inggris.

BACA JUGA: Foodcrawl di Dapur Griya Herbal, Batu

"Kami tidak memiliki lagu dalam bahasa Belanda. Semua lagu kami dalam bahasa Inggris karena akan lebih mudah dimengerti penggemar," tutur Pablo.

Jam Session Dadakan


Tercatat DeWolff telah menghasilkan 7 buah album, yakni Strange Fruit and Undiscovered Plants (2009), Orchards/Lupine (2011), IV (2012), Grand Southern Electric (2014), Live & Outta Sight (2015), Roux-Ga-Roux (2016), serta Thrust (2018). Dan pada awal tahun 2019 yang baru lalu mereka diganjar penghargaan Edison Award dalam kategori musik rock. Ajang penghargaan ini merupakan salah satu ajang penghargaan tertua di dunia dan sangat bergengsi di Belanda.

Luka Mencoba Kendang Koleksi MMI


Yang menarik, DeWolff ternyata tidak sama sekali asing dengan musik-musik asal Indonesia. Mereka mendengarkan album kompilasi "Those Shocking Shaking Days: Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock and Funk 1970 - 1978" yang berisikan 20 lagu dari beberapa grup musik papan atas Indonesia antara lain Koes Plus, Panbers, The Black Brothers, AKA, The Gang of Harry Roesli, The Rollies, Super Kid, hingga Shark Move.

BACA JUGA: Menengok Jalur Lintas Selatan Kabupaten Malang

"Kami punya satu long play (lp; piringan hitam) ini di rumah," ungkap Robin bungah sembari mengangkat album antologi yang dimaksud yang ternyata ada dalam koleksi kepunyaan MMI.

Pablo, Robin, dan Luka Melihat-lihat Koleksi MMI


Dalam konsernya di Jakarta, DeWolff bukan hanya menyuguhkan lagu-lagunya sendiri. Mereka juga sempat berkolaborasi dengan musisi lokal di atas panggung dan membawakan satu lagu Indonesia yang sangat legendaris di skena musik Indonesia. Dan kolaborasi itu, kabarnya, menjadi sangat epik. Nah, lagu legendaris apakah itu? Apakah DeWolff akan membawakannya lagi di konser Malang esok hari? Juga seperti apakah musik asik ala Belanda itu? Jangan ketinggalan:

The Erasmus Huis Presents:

Concert DeWolff

Psychedelic Southern Blues Rock
Edison Award Winner in category 'Rock'

Selasa, 12 Maret 2019, pukul 19:00 WIB
Gedung Kesenian Gajayana
Jl. Nusakambangan no. 19, kota Malang

Gratis!

Band pembuka: Remissa


———————

ERASMUS HUIS

Erasmus Huis adalah pusat kebudayaan Belanda di Jakarta, Indonesia. Dengan fokus untuk memperkenalkan kebudayaan Belanda kepada khususnya generasi muda Indonesia melalui beragam kegiatan kesenian, musik, film, tari, kuliah umum, hingga pameran.

Erasmus Huis Jakarta
Jl. H.R. Rasuna Said kav. S-3, Kuningan
Jakarta, 12950

maps.app.goo.gl/PSFny

Instagram: @erasmushuis_jakarta


———————

TEKS dan FOTO: Ario Wicaksono (IG: @iorikun301)

Katakan Peta: MLG Photowalk di Kampung Heritage Kayutangan


"Ada 5 pintu masuk, seluas 3 RW, dan ada 26 rumah yang berusia lebih dari 50 tahun yang bisa dikunjungi. Baru sekitar satu tahun belakangan ini dibuka sebagai kawasan wisata heritage," ungkap Mila, pemandu wisata Kampung Heritage Kayutangan.

"Dan baru ada beberapa lokasi yang titiknya sudah tercantum di Google Maps. Dulu dibantu Mbak Mutiah (Mutiah Abdat, Local Guides Indonesia —Red.)," imbuhnya.

Sangat potensial sebagai lokasi meet up! Kita bisa photowalk, foodcrawl, map editing, hingga review aksesibilitas, kemudian membagikan ulasannya di Google Maps. Betul? :)
—————

Atik the Explorer; Host MALANG LOCAL GUIDES HISTORICAL PHOTOWALK AT KAJOE TANGAN CORIDOR

Berjalan di pertokoan Kayutangan

BACA JUGA: Bakso Bakar Bu Kaji Legenda Daging Sapi Kota Malang

PADA Minggu (17/02/19) yang baru lalu komunitas MALANG LOCAL GUIDES menggelar meet up di Kampung Heritage Kayutangan, Jl. Basuki Rachmad, kota Malang - Jawa Timur. Bertajuk "MALANG LOCAL GUIDES HISTORICAL PHOTOWALK AT KAJOE TANGAN CORIDOR," meet up kali ini berlangsung dari jam 10:00 WIB - 13:30 WIB, dengan agenda kegiatan photowalk dan review aksesibilitas. Bertindak sebagai Host Meet Up adalah Atik the Explorer.

"Mau ke mana, kita? Katakan 'peta!', katakan 'peta!'"

Peta kawasan Kampung Heritage Kayutangan


DiLo Malang dipilih sebagai tempat  berkumpul peserta photowalk. Lokasi yang mudah dijangkau, tempat parkir luas, dan yang paling penting hanya berjarak sepelemparan baru dari Kampung Heritage Kayutangan. Tak kurang dari 10 Local Guides menghadiri meet up kali ini.

Memotret


Tepat pukul 10:00 WIB kamipun bergerak menuju Balai RW IX, meeting point yang paling mudah dijangkau di Kampung Heritage Kayutangan, untuk bertemu dengan Mila, pemandu di kampung wisata tersebut. Biaya tiket berwisata di kampung tersebut adalah sebesar Rp5.000,- per orang dan mendapat kenang-kenangan berupa kartu pos bergambar suasana Kampung Heritage Kayutangan. Buah tangan yang menarik kalau pengunjung tidak sempat foto-foto.

BACA JUGA: Photowalk at Hotel Alpines by Artotel, Kota Batu

"He, aku ijol sing gambare wong ganteng! —saya ingin tukar dengan kartu pos yang bergambar pemuda tampan!" Atik the Explorer.

Mila; Pemandu Kampung Heritage Kayutangan


Sebelum berbentuk menjadi Kampung Heritage Kayutangan seperti sekarang ini, kawasan ini pada tahun 2016 memilih konsep kampung wisata reliji dengan mengusung kompleks pemakaman Mbah Honggo (Pangeran Honggo Koesoemo) sebagai highlight. Namun pada tahun 2017 berubah menjadi kampung heritage/cagar budaya dengan menonjolkan rumah-rumah beraksitektur lawas yang memiliki nilai sejarah.

Rolak


Mila menuturkan bahwa pada bulan September 2017 dengan menggandeng Dinas Pariwisata Kota Malang dan para penggiat sejarah, mulai dilakukanlah pendataan terhadap rumah-rumah kuno berusia di atas 50 tahun yang ada di kawasan ini. Dari hasil pendataan tersebut berhasil didapati sebanyak 26 rumah lawas yang masih terawat.

"Bangunan-bangunan heritage di sini rata-rata masih terawat karena masih difungsikan sebagai rumah tinggal dan dihuni oleh generasi ketiga," tutur Mila.

BACA JUGA: How to Contribute to Local Guides Connect

Baru pada 22 April 2018 kawasan ini mulai dibuka (soft launching) sebagai satu jujugan wisata di kota Malang dengan nama Kampung Heritage Kayutangan yang mencakup wilayah seluas 3 RW dan dengan pengunjung per minggunya sebanyak 400 - 500 orang pengunjung.

Google Maps

Susur kampung


Pukul 10:30 WIB acara susur kampung dimulai. Destinasi pertama: Rumah Namsin. Kediaman lawas yang ada di ujung Gang 4 ini, konon, pernah difungsikan sebagai pabrik es loli (itu, loh, es plastikan rasa-rasa yang disukai anak-anak). Kami pun manggut-manggut dan mulai menjepretkan kamera. Namun karena saat itu Rumah Namsin sedang tutup, maka kamipun musti puas melihat-lihat fasad depannya saja.

Memotret Rumah Jengki

Memotret penjual jajan pasar di Pasar Talun


Next! Taman Tembakau. Seperti namanya, tempat ini berjualan tembakau. Fyi, dulu Penulis sempat beli tembakau rajangan kiloan di tempat ini. Untuk pestisida alami. Penulis (sempat) berkebun sayur di halaman belakang rumah. Fyi saja.

Destinasi selanjutnya adalah Rolak, alias pintu air lawas. Sepintas bangunannya hanya seperti gardu biasa, yang menjulang, dan berjeruji. Sebagian dindingnya juga dilabur cat warna-warni dan digantungi beberapa pot tanaman hias. Tahukah Anda apa fungsinya? Ya, betul: tempat selfie. Pojok potret. Padahal itu adalah pintu pengatur saluran air dari jaman kolonial yang saluran airnya menanjang di bawah trotoar yang kami pijak.

Jajan pasar


Berikutnya rombongan photowalk MALANG LOCAL GUIDES diajak menuju Latar Ombo. Tempat ini hanya berupa pelataran yang tidak terlalu luas yang biasa menjadi tempat rendesvouz favorit pengunjung Kampung Heritage Kayutangan yang masuk dari Jl. Basuki Rachmad Gang 6. Kami segenap Local Guides menyempatkan berfoto bersama berlatar sepeda tua dan mural di dinding. Dari lokasi ini bisa didapati Rumah Penghulu yang beraksitektur kolonial, dan Rumah Jengki yang bergaya arsitektur Jengki/Yankee khas era '50-'60an.

BACA JUGA: Kafe Daun Coklat di Kawasan Coban Rondo

"Sebelum melanjutkan susur kampung, kita mampir ke Rumah 1870 terlebih dahulu," ajak Mila.

Rumah 1870 adalah rumah tertua yang ada di kawasan ini. Beraksitektur Belanda dan pertama kali dimiliki oleh Bapak Nur Wasil. Saat ini Rumah 1870 berstatus: dikontrakkan. Silahkan kalau ada rekan Local Guides yang berniat menyewa Rumah 1870. Tapi nanti jangan lupa bukakan pintunya untuk kami, ya?

Berpose di Tangga Seribu


Susur kampung berlanjut. Kali ini kami menuju ke Pasar Talun. Atau orang-orang kampung menyebutnya Pasar Krempyeng. Pasar tradisional, menempati lahan yang tidak terlalu luas, barang-barang yang dijual pun terbatas, hanya buka dari pagi hari hingga sebelum Dzuhur. Untuk pergi ke sana Mila mengajak kami melalui lorong sempit di sela-sela rumah orang, yang kalau kita berniat iseng kita bisa mengintip ke bagian dalam rumahnya melalui jendela. Dan kalau kita bercakap-cakap di lorong itu, tentu suara obrolan kita akan sampai menggema terdengar di dalam rumah. Seru sekali!

Sampai di sini, ada yang menyesal tidak ikutan kita photowalk di Kampung Heritage Kayutangan? Rasain! Hehee..

Memeriksa GOOGLE MAPS di bawah Jembatan Semeru


Pasar Krempyeng ini kecil saja. Tapi cukup bersih dan nampak belum terlalu lama ini selesai direnovasi. Dan karena kami sudah kesiangan, maka sudah banyak lapak penjual yang kosong. Namun untungnya masih ada penjual jamu tradisional dan jajan pasar (cenil/lupis) yang masih tersisa dagangannya. Kami pun menyerbu dagangan mereka. Ada yang menyerbu jamu, ada yang membeli lupis. Dan harganya?

"Kaleh ewu, Mas —dua ribu rupiah," kata ibu-ibu penjual jajan pasarnya.

Terharu T_T

Becak masuk kampung


Aksesibel untuk pengguna kursi roda


Dari Pasar Krempyeng kami berturut-turut menuju ke Terowongan Semeru, Tangga Seribu, Makam Tandak dan Pojok Dolanan, pergi ke Rumah Foto dan Galeri Antik, mampir sejenak ke Rumah Mbah Ndut, lalu ke kompleks pemakaman Mbah Honggo, dan kembali lagi ke Balai RW IX. Total waktu tempuh susur kampung sekitar dua setengah jam. Lelah. Tapi senang.



Secara umum, sebagian besar jalan di dalam Kampung Heritage Kayutangan ini cukup landai, mulus, dan memiliki lebar yang cukup memadai untuk dilewati dua orang dewasa yang saling berpapasan. Sehingga para pengguna kursi roda (atau stroller bayi) tidak akan memiliki hambatan berarti untuk menjangkau sebagian besar wilayah Kampung Heritage Kayutangan.

BACA JUGA: Museum Musik Indonesia; Museum Musik Pertama di Indonesia

Namun, tentu saja, karena arsitektur rumah-rumah heritage di kawasan ini masih terbilang asli, maka sulit untuk bisa menemukan rumah yang pintu masuknya aksesibel untuk pengguna kursi roda. Selain sempit, sebagian besar pintu masuknya juga berundak. Khas arsitektur lawas.

Di Galeri Antik

Lelah


Terkait dengan place di GOOGLE MAPS, baru beberapa lokasi di kawasan Kampung Heritage Kayutangan ini yang sudah tercantum di peta. Ini tentu potensial untuk dijadikan lokasi Local Guides Meet Up selanjutnya dengan agenda Map Editing. Hanya saja karena sebagian besar lokasinya yang berada di dalam perkampungan padat, maka lokasi place yang tepat akan sulit diidentifikasi dari gambar satelit di Google Maps. Untuk itu dibutuhkan piranti GPS yang presisi ketika Local Guides ingin melakukan Map Editing di kawasan Kampung Heritage Kayutangan ini.

Pintu masuk yang kurang aksesibel untuk pengguna kursi roda

Di kompleks pemakaman Mbah Honggo


Tepat pukul 13:30 WIB "MALANG LOCAL GUIDES HISTORICAL PHOTOWALK AT KAJOE TANGAN"-pun berakhir. Di DiLo kami bertemu, di DiLo pula lah kami berpisah. Sayonara! Sampai berjumpa di photowalk-photowalk berikutnya!

"Iya. Kabarin aja," Kiky.


KAMPUNG HERITAGE KAYUTANGAN

Jl. Jend. Basuki Rachmat Gg. VI, Kauman, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119
0813-3456-3113
https://maps.app.goo.gl/Ud8XD



—————
TEKS dan FOTO: Ario Wicaksono (IG:@iorikun301)

Local Guides Meet Up: How to Contribute to Local Guides Connect

(ki-ka) Atikers, Rivani, Nunung Afuah, Ardi, Masjon


ANDA Local Guides? Level berapa? Sudah sering berkontribusi di Local Guides Connect? Sudah mengerti apa maksud board-board topik yang ada di sana? Yakin?

"Orang paling sering menyalahartikan board topik Local Stories sebagai topik tentang apa-apa saja yang bisa ditemui di kota tempat tinggal mereka. Bukan. Itu lebih cocok masuk ke board topik Travel. Local Stories adalah board topik tentang sosok Local Guides di satu kota dan sumbangsih positifnya terhadap lingkungan tempat tinggalnya," terang Nunung Afuah, Connect Moderator.

Nah, loo.. :)

Nunung Afuah —Connect Moderator


Bertajuk "LOCAL GUIDES MEET UP: HOW TO CONTRIBUTE TO LOCAL GUIDES CONNECT", meet up komunitas MALANG LOCAL GUIDES kali ini berlangsung pada hari Sabtu (16/02/19) pukul 18:00 WIB - 21:00 WIB dan mengambil tempat di NGALUP COWORKING SPACE, Jl. Sudimoro, Perum d'WIGA Regency Blok R 1 no. 7, kota Malang - Jawa Timur, dengan menghadirkan narasumber Nunung Afuah, Connect Moderator.

Kendati sore itu kota Malang baru saja diguyur hujan lebat, namun hal tersebut tidak mengurangi antusiasme 6 orang Local Guides untuk menghadiri meet up kali ini. Ada Penulis, Nunung Afuah, Rivani, Mas Jon, Christophorus Ardi, dan juga Atikers.

"Ini seperti di kelas pelatihan Advanced," ujar Nunung Afuah. "Pesertanya cuma segini."

Les privat, Kak.. :)

Event Hall Ngalup Coworking Space


Setelah menunggu kehadiran Atikers yang tersasar entah di kompleks perumahan mana (Anda local guides? Hahaa..), tepat pukul 19:30 WIB acara sharing santai tentang seluk-beluk ber-Local Guides Connect inipun dibuka. Telat? Santai, saja. Namanya juga sharing santai. Hehee..

BACA JUGA: Apa itu Google Local Guides?

Dalam meet up kali ini Nunung Afuah membagikan beberapa tips ber-Connect yang baik yang sudah ia pelajari selama menjadi Connect Moderator. Di antaranya:

"Gunakan user name yang unik supaya tidak tertukar dengan user Connect yang lain. Dan usahakan gunakan nama sendiri tapi bukan nama yang berafiliasi bisnis, misalnya Nunungjilbab, karena bisa ter-suspend oleh sistem," ucapnya.

Ini seram :(

Suasana Kelas Privat


Selain menjelaskan pentingnya menggunakan nama sendiri sebagai user name di Connect, Nunung Afuah juga menjelaskan ada yang baru di aplikasi Google Maps, yakni: hashtag. Tanda pagar. Tagar.

BACA JUGA: MLG Foodcrawl: Nikmatnya Bakso Solo Sawojajar. Ada Bakso Bakarnya Juga!

Menurut Nunung, di Indonesia penggunaan tagar-tagar ini barangkali belum terlalu luas, namun di luar negeri (tercatat Nunung Afuah setidaknya sudah dua kali ke San Fransisco, Amerika Serikat) penggunaan tagar sangat membantu untuk mencari tempat dengan layanan yang spesifik di Google Maps.

Nunung mengungkapkan bahwa dulu ketika di San Fransisco dia acapkali memasukkan tagar #halalfood di kolom pencarian Google Maps ketika sedang mencari warung makanan halal di areanya. Atau tagar #vegan. Di Google Maps sendiri, tagar ini diperbolehkan paling banyak lima buah tagar.

#letsguide #localguides #localguidesconnect #malanglocalguidesmeetup #rizkyridhodidangdutacademyindosiar

Live di Instagram @MalangLocalGuides


Selayak guru les privat yang baik, Nunung Afuah juga menerangkan secara detil board-board topik yang bisa ditemui di local guides connect, yakni Home, Photography, Travel, Food & Drink, Local Stories, Meet-Ups, How-tos, Announcements, Help Desk, serta Idea Exchange.

Konon, orang sering salah memasukkan topik tulisannya ke board-board topik yang sudah disediakan di Connect. Permasalahannya satu: communication gap. Perbedaan bahasa. Betul, di Connect sebetulnya sudah tersedia algoritma penerjemah yang bisa mengalihbahasakan ke dalam 33 bahasa yang berbeda. Namun karena yang menerjemahkan adalah robot, maka kadang hasil terjemahannya terasa kurang luwes dan mengakibatkan terjadinya kesenjangan pemahaman.

BACA JUGA: Sosialisasi Google Maps Bersama GERKATIN Kota Malang

Sebagai contoh board topik Local Stories. Orang sering beranggapan bahwa topik ini adalah tentang cerita-cerita lokal, tentang bermacam hal yang ada atau terjadi di daerah tempat tinggal mereka. Padahal bukan demikian. Local Stories adalah topik tentang sosok individu local guides di berbagai daerah yang memiliki sumbangsih positif bagi kemajuan masyarakat di daerahnya, dan hal tersebut penting untuk diceritakan kepada local guides lain sebagai sebuah inspirasi positif.

Mendengar penjelasan itu kami, peserta kelas meet up privat, pun kompak berkata: "Ooo.."

Suasana Meet Up yang Swantee Sayang


Seperti halnya forum-forum komunitas lainnya, berinteraksi di Local Guides Connect-pun ada etikanya. Kami menyebutnya "5 Nilai-nilai Inti Connect." Five Core Values Local Guides Connect. Yakni: 1) Kami menyambut. Siapapun boleh menjadi Local Guides. Dan ketika ada orang-orang baru yang bergabung, kami menyambut dan merangkul mereka;

Membahas Connect Live (d/h Local Guides Summit)


2) Kami bijaksana. Gunakan Connect dengan tidak serampangan. Berinteraksilah dengan bijak; 3) Kami membantu. Saling membantu ketika ada yang kesulitan dengan Connect, sehingga komunitas ini bisa tumbuh dan berkembang secara sehat; 4) Kami orisinal. Tulisan, foto, dan video yang dibagikan merupakan karya asli dan diunggah eksklusif untuk Connect. Kami hanya membagikan konten yang memang kami memiliki hak untuk membagikannya; dan 5) Kami waspada. Ketika melihat ada sesuatu yang salah, semisal unggahan yang tidak pantas, kami menandai dan melaporkan unggahan tersebut sebagai "laporan konten yang tidak pantas."

"Intinya," sebut Nunung Afuah, "orang menulis di Connect adalah karena dia ingin berbagi tentang topik penting tertentu yang layak untuk diketahui kepada orang lain."

Les Privat


Tepat pukul 21:15 WIB "Local Guides Meet Up: How to Contribute to Local Guides" inipun diakhiri setelah pegawai Ngalup Coworking Space-nya pura-pura berdehem. Jam operasional sudah berakhir sejak 15 menit yang lalu. Kamipun bubar. Tapi tahukah Anda bahwa sebetulnya masih ada beberapa hal menarik lain yang juga diungkap Nunung Afuah pada meet up malam itu? Namun dia sudah mewanti-wanti: "Off the record!"

#ashiaaap :)

Teknologi Augmented Reality yang Akan Segera Diterapkan di Google Maps. Kayak main Pokemon




—————
DISCLAIMER:

Ini adalah meet up bersponsor. MALANG LOCAL GUIDES berterima kasih kepada NGALUP COWORKING SPACE yang telah mensponsori meet up kali ini dengan menyediakan ruang pertemuan, perangkat proyektor, sound system, serta koneksi internet untuk digunakan secara gratis. Mereka mengerti bahwa tidak satupun dari Local Guides yang menjanjikan kontribusi dalam bentuk apapun terkait bisnis yang bersangkutan sebagai imbal-balik atas sponsor yang diberikan.



NGALUP COWORKING SPACE

Jl. Sudimoro, Perum d'WIGA Regency
Blok R 1 no. 7, kota Malang-Jawa Timur
Ngalup Coworking Space
https://maps.app.goo.gl/WMALn


—————
TEKS dan FOTO: Ario Wicaksono (IG: @iorikun301)