Slider

New Info

Aktifitas Malang Local Guides

Kuliner Malang

Wisata Malang

Aktifitas Malang Local guides

» » » » » » MUSEUM MUSIK INDONESIA : Museum Musik Pertama di Indonesia


Tahukah Anda bahwa museum musik pertama di Indonesia ada di kota Malang? Diresmikan pada 19 November 2016, Museum Musik Indonesia (MMI) yang berlokasi di Gedung Kesenian Gajayana lt. 2, Jl. Nusakambangan no. 19, Kota Malang, ini buka setiap hari pukul 10 pagi hingga 5 sore.


Kesan pertama Penulis ketika memasuki museum yang hanya seluas 200 m² ini adalah: kok, sepi? Tidak nampak ada banyak pengunjung di sini. Ari, salah seorang staf MMI, mengatakan jumlah pengunjung di museum ini berkisar antara 5 sampai 10 orang pengunjung per hari. Apa? Sedikit sekali, ya? Padahal harga tiket untuk masuk ke museum ini terbilang murah hanya 5 ribu rupiah per pengunjung. Dan untuk anak-anak gratis.

"Tapi Sherina Munaf pada akhir tahun lalu sempat mampir ke museum ini," ujar Ari bungah.

Sherina Maylaff..


Hengki Herwanto, General Manager sekaligus salah satu pendiri MMI, menuturkan bahwa ada lebih dari 20 ribu koleksi musik yang dimiliki MMI. Baik berupa kaset, compact disc, piringan hitam, buku dan majalah, hingga alat-alat musik tradisional Indonesia.

Nah, jika Anda ingin tahu 20 ribu koleksi musik itu sebanyak apa, bayangkan saja karakter Paman Gober yang ada di cerita komik Donal Bebek. Lalu jika Anda masukkan seluruh koleksi MMI yang sejumlah 20 ribu itu ke dalam satu kolam yang cukup besar, maka Anda akan bisa puas berenang di dalamnya seperti halnya Paman Gober yang sedang berenang di kolam kepingan uang emas miliknya. Tapi hal yang semacam ini tentu tyda bole, Kakaa.. Hehee..

"Sayangnya saat ini belum semua koleksi MMI bisa kami pamerkan. Sebagian besar masih tersimpan di gudang," tambah Usman, staf museum. "Ruangan dan rak pajang yang kami miliki masih terbatas."


Terkait rak pajang, ada hal yang menarik: rak pajang pertama yang dimiliki oleh museum ini adalah sebuah kotak kaca berukuran 35 x 40 cm bekas etalase orang untuk berjualan rokok. Kini rak pajang tersebut digunakan untuk mewadahi album-album soundtrack film.

"Waktu itu saya beli di Sawojajar seharga 30 ribu rupiah," ungkap Hengki.

"Juga ketika Radio TT 77 berhenti mengudara dan berencana menjual rak penyimpanan lengkap beserta kaset-kaset musiknya, kamipun membelinya dan memanfaatkannya hingga sekarang," imbuhnya seraya menunjukkan rak mana yang dimaksud.

Radio TT 77 adalah salah satu radio paling ngetop di Malang Raya era '80 - '90an dengan frekuensi AM 828 kHz. Saat ini Radio TT 77 telah bertransformasi menjadi Radio Tritara FM 106.1 MHz.


Sebagian besar koleksi yang dimiliki museum ini memang berupa rekaman-rekaman lama. Tapi karena koleksinya lengkap dan terdokumentasi dengan baik, tak jarang peneliti-peneliti musik dari luar negeri bahkan sengaja datang jauh-jauh ke museum ini untuk mencari referensi bagi penelitian mereka.

Tercatat Prof. Andrew Weintraub (University of Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat) dan Anne K. Rasmussen (profesor Music & Ethnomusicology dari William & Mary College, Virginia, Amerika Serikat) pernah mengambil referensi dari koleksi yang dimiliki MMI.

"Hanya saja saat ini kami masih belum memiliki katalog yang mencatat seluruh koleksi yang dimiliki MMI," ujar Hengki. Sayang sekali.


Hal lain yang membedakan MMI dari museum-museum lain sejenis ialah barang-barang yang dikoleksi di sini bukan hanya untuk pajangan. Pengunjung boleh mencoba memakai dan menggunakannya.

"Museum itu harus hidup, harus ada interaksi antara museum dengan pengunjungnya," ucap Hengki.

"Karena museum ini fungsinya lebih ke arah edukasi," Usman menambahkan. "Bukan komersial."

Dan ke depannya, ungkap Hengki, museum akan menyediakan tenaga pengajar/mentor untuk mengajarkan cara memainkan instrumen-instrumen musik yang ada di museum ini kepada pengunjung yang menghendaki.

"Instrumen-instrumen musik tradisional dari semua propinsi di Indonesia ada di museum ini, kecuali alat musik dari daerah Aceh, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Barat yang masih belum ada," tutur Hengki. 

"Semoga di akhir tahun 2018 ini kami sudah bisa melengkapi," imbuhnya.

Instrumen-instrumen musik tradisional Indonesia yang dikoleksi MMI dikumpulkan di satu ruangan khusus dengan satu kipas angin lantai di dalamnya.

"Supaya tidak lembab," ungkap Usman menutup pembicaraan.

Yuk, belajar sejarah musik di Museum Musik Indonesia!

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

3 komentar:

  1. terus berkarya mas, swuippp begete tulisannya, informatif

    BalasHapus
  2. wah ini toh museum pertama musik indonesia

    BalasHapus
  3. mantap museum musik indonesia. slm
    folback ya..

    BalasHapus