Slider

New Info

Aktifitas Malang Local Guides

Kuliner Malang

Wisata Malang

Aktifitas Malang Local guides

» » » » » » » » » » » » » » Katakan Peta: MLG Photowalk di Kampung Heritage Kayutangan


"Ada 5 pintu masuk, seluas 3 RW, dan ada 26 rumah yang berusia lebih dari 50 tahun yang bisa dikunjungi. Baru sekitar satu tahun belakangan ini dibuka sebagai kawasan wisata heritage," ungkap Mila, pemandu wisata Kampung Heritage Kayutangan.

"Dan baru ada beberapa lokasi yang titiknya sudah tercantum di Google Maps. Dulu dibantu Mbak Mutiah (Mutiah Abdat, Local Guides Indonesia —Red.)," imbuhnya.

Sangat potensial sebagai lokasi meet up! Kita bisa photowalk, foodcrawl, map editing, hingga review aksesibilitas, kemudian membagikan ulasannya di Google Maps. Betul? :)
—————

Atik the Explorer; Host MALANG LOCAL GUIDES HISTORICAL PHOTOWALK AT KAJOE TANGAN CORIDOR

Berjalan di pertokoan Kayutangan

BACA JUGA: Bakso Bakar Bu Kaji Legenda Daging Sapi Kota Malang

PADA Minggu (17/02/19) yang baru lalu komunitas MALANG LOCAL GUIDES menggelar meet up di Kampung Heritage Kayutangan, Jl. Basuki Rachmad, kota Malang - Jawa Timur. Bertajuk "MALANG LOCAL GUIDES HISTORICAL PHOTOWALK AT KAJOE TANGAN CORIDOR," meet up kali ini berlangsung dari jam 10:00 WIB - 13:30 WIB, dengan agenda kegiatan photowalk dan review aksesibilitas. Bertindak sebagai Host Meet Up adalah Atik the Explorer.

"Mau ke mana, kita? Katakan 'peta!', katakan 'peta!'"

Peta kawasan Kampung Heritage Kayutangan


DiLo Malang dipilih sebagai tempat  berkumpul peserta photowalk. Lokasi yang mudah dijangkau, tempat parkir luas, dan yang paling penting hanya berjarak sepelemparan baru dari Kampung Heritage Kayutangan. Tak kurang dari 10 Local Guides menghadiri meet up kali ini.

Memotret


Tepat pukul 10:00 WIB kamipun bergerak menuju Balai RW IX, meeting point yang paling mudah dijangkau di Kampung Heritage Kayutangan, untuk bertemu dengan Mila, pemandu di kampung wisata tersebut. Biaya tiket berwisata di kampung tersebut adalah sebesar Rp5.000,- per orang dan mendapat kenang-kenangan berupa kartu pos bergambar suasana Kampung Heritage Kayutangan. Buah tangan yang menarik kalau pengunjung tidak sempat foto-foto.

BACA JUGA: Photowalk at Hotel Alpines by Artotel, Kota Batu

"He, aku ijol sing gambare wong ganteng! —saya ingin tukar dengan kartu pos yang bergambar pemuda tampan!" Atik the Explorer.

Mila; Pemandu Kampung Heritage Kayutangan


Sebelum berbentuk menjadi Kampung Heritage Kayutangan seperti sekarang ini, kawasan ini pada tahun 2016 memilih konsep kampung wisata reliji dengan mengusung kompleks pemakaman Mbah Honggo (Pangeran Honggo Koesoemo) sebagai highlight. Namun pada tahun 2017 berubah menjadi kampung heritage/cagar budaya dengan menonjolkan rumah-rumah beraksitektur lawas yang memiliki nilai sejarah.

Rolak


Mila menuturkan bahwa pada bulan September 2017 dengan menggandeng Dinas Pariwisata Kota Malang dan para penggiat sejarah, mulai dilakukanlah pendataan terhadap rumah-rumah kuno berusia di atas 50 tahun yang ada di kawasan ini. Dari hasil pendataan tersebut berhasil didapati sebanyak 26 rumah lawas yang masih terawat.

"Bangunan-bangunan heritage di sini rata-rata masih terawat karena masih difungsikan sebagai rumah tinggal dan dihuni oleh generasi ketiga," tutur Mila.

BACA JUGA: How to Contribute to Local Guides Connect

Baru pada 22 April 2018 kawasan ini mulai dibuka (soft launching) sebagai satu jujugan wisata di kota Malang dengan nama Kampung Heritage Kayutangan yang mencakup wilayah seluas 3 RW dan dengan pengunjung per minggunya sebanyak 400 - 500 orang pengunjung.

Google Maps

Susur kampung


Pukul 10:30 WIB acara susur kampung dimulai. Destinasi pertama: Rumah Namsin. Kediaman lawas yang ada di ujung Gang 4 ini, konon, pernah difungsikan sebagai pabrik es loli (itu, loh, es plastikan rasa-rasa yang disukai anak-anak). Kami pun manggut-manggut dan mulai menjepretkan kamera. Namun karena saat itu Rumah Namsin sedang tutup, maka kamipun musti puas melihat-lihat fasad depannya saja.

Memotret Rumah Jengki

Memotret penjual jajan pasar di Pasar Talun


Next! Taman Tembakau. Seperti namanya, tempat ini berjualan tembakau. Fyi, dulu Penulis sempat beli tembakau rajangan kiloan di tempat ini. Untuk pestisida alami. Penulis (sempat) berkebun sayur di halaman belakang rumah. Fyi saja.

Destinasi selanjutnya adalah Rolak, alias pintu air lawas. Sepintas bangunannya hanya seperti gardu biasa, yang menjulang, dan berjeruji. Sebagian dindingnya juga dilabur cat warna-warni dan digantungi beberapa pot tanaman hias. Tahukah Anda apa fungsinya? Ya, betul: tempat selfie. Pojok potret. Padahal itu adalah pintu pengatur saluran air dari jaman kolonial yang saluran airnya menanjang di bawah trotoar yang kami pijak.

Jajan pasar


Berikutnya rombongan photowalk MALANG LOCAL GUIDES diajak menuju Latar Ombo. Tempat ini hanya berupa pelataran yang tidak terlalu luas yang biasa menjadi tempat rendesvouz favorit pengunjung Kampung Heritage Kayutangan yang masuk dari Jl. Basuki Rachmad Gang 6. Kami segenap Local Guides menyempatkan berfoto bersama berlatar sepeda tua dan mural di dinding. Dari lokasi ini bisa didapati Rumah Penghulu yang beraksitektur kolonial, dan Rumah Jengki yang bergaya arsitektur Jengki/Yankee khas era '50-'60an.

BACA JUGA: Kafe Daun Coklat di Kawasan Coban Rondo

"Sebelum melanjutkan susur kampung, kita mampir ke Rumah 1870 terlebih dahulu," ajak Mila.

Rumah 1870 adalah rumah tertua yang ada di kawasan ini. Beraksitektur Belanda dan pertama kali dimiliki oleh Bapak Nur Wasil. Saat ini Rumah 1870 berstatus: dikontrakkan. Silahkan kalau ada rekan Local Guides yang berniat menyewa Rumah 1870. Tapi nanti jangan lupa bukakan pintunya untuk kami, ya?

Berpose di Tangga Seribu


Susur kampung berlanjut. Kali ini kami menuju ke Pasar Talun. Atau orang-orang kampung menyebutnya Pasar Krempyeng. Pasar tradisional, menempati lahan yang tidak terlalu luas, barang-barang yang dijual pun terbatas, hanya buka dari pagi hari hingga sebelum Dzuhur. Untuk pergi ke sana Mila mengajak kami melalui lorong sempit di sela-sela rumah orang, yang kalau kita berniat iseng kita bisa mengintip ke bagian dalam rumahnya melalui jendela. Dan kalau kita bercakap-cakap di lorong itu, tentu suara obrolan kita akan sampai menggema terdengar di dalam rumah. Seru sekali!

Sampai di sini, ada yang menyesal tidak ikutan kita photowalk di Kampung Heritage Kayutangan? Rasain! Hehee..

Memeriksa GOOGLE MAPS di bawah Jembatan Semeru


Pasar Krempyeng ini kecil saja. Tapi cukup bersih dan nampak belum terlalu lama ini selesai direnovasi. Dan karena kami sudah kesiangan, maka sudah banyak lapak penjual yang kosong. Namun untungnya masih ada penjual jamu tradisional dan jajan pasar (cenil/lupis) yang masih tersisa dagangannya. Kami pun menyerbu dagangan mereka. Ada yang menyerbu jamu, ada yang membeli lupis. Dan harganya?

"Kaleh ewu, Mas —dua ribu rupiah," kata ibu-ibu penjual jajan pasarnya.

Terharu T_T

Becak masuk kampung


Aksesibel untuk pengguna kursi roda


Dari Pasar Krempyeng kami berturut-turut menuju ke Terowongan Semeru, Tangga Seribu, Makam Tandak dan Pojok Dolanan, pergi ke Rumah Foto dan Galeri Antik, mampir sejenak ke Rumah Mbah Ndut, lalu ke kompleks pemakaman Mbah Honggo, dan kembali lagi ke Balai RW IX. Total waktu tempuh susur kampung sekitar dua setengah jam. Lelah. Tapi senang.



Secara umum, sebagian besar jalan di dalam Kampung Heritage Kayutangan ini cukup landai, mulus, dan memiliki lebar yang cukup memadai untuk dilewati dua orang dewasa yang saling berpapasan. Sehingga para pengguna kursi roda (atau stroller bayi) tidak akan memiliki hambatan berarti untuk menjangkau sebagian besar wilayah Kampung Heritage Kayutangan.

BACA JUGA: Museum Musik Indonesia; Museum Musik Pertama di Indonesia

Namun, tentu saja, karena arsitektur rumah-rumah heritage di kawasan ini masih terbilang asli, maka sulit untuk bisa menemukan rumah yang pintu masuknya aksesibel untuk pengguna kursi roda. Selain sempit, sebagian besar pintu masuknya juga berundak. Khas arsitektur lawas.

Di Galeri Antik

Lelah


Terkait dengan place di GOOGLE MAPS, baru beberapa lokasi di kawasan Kampung Heritage Kayutangan ini yang sudah tercantum di peta. Ini tentu potensial untuk dijadikan lokasi Local Guides Meet Up selanjutnya dengan agenda Map Editing. Hanya saja karena sebagian besar lokasinya yang berada di dalam perkampungan padat, maka lokasi place yang tepat akan sulit diidentifikasi dari gambar satelit di Google Maps. Untuk itu dibutuhkan piranti GPS yang presisi ketika Local Guides ingin melakukan Map Editing di kawasan Kampung Heritage Kayutangan ini.

Pintu masuk yang kurang aksesibel untuk pengguna kursi roda

Di kompleks pemakaman Mbah Honggo


Tepat pukul 13:30 WIB "MALANG LOCAL GUIDES HISTORICAL PHOTOWALK AT KAJOE TANGAN"-pun berakhir. Di DiLo kami bertemu, di DiLo pula lah kami berpisah. Sayonara! Sampai berjumpa di photowalk-photowalk berikutnya!

"Iya. Kabarin aja," Kiky.


KAMPUNG HERITAGE KAYUTANGAN

Jl. Jend. Basuki Rachmat Gg. VI, Kauman, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119
0813-3456-3113
https://maps.app.goo.gl/Ud8XD



—————
TEKS dan FOTO: Ario Wicaksono (IG:@iorikun301)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply