Slider

New Info

Aktifitas Malang Local Guides

Kuliner Malang

Wisata Malang

Aktifitas Malang Local guides

» » » » » » » » » » Piring Bukan Sembarang Piring, MMI Mencuci 200 Piringan Hitam!



Seperti halnya piring makan, piringan hitam (vinyl) ternyata juga musti dibersihkan setelah beberapa waktu digunakan. Pakai sabun, bukan pakai hati. Serius.
—————




YAKIN, Anda pasti kaget kalau saya beritahu bahwa seperti halnya piring makan, piringan hitam (vinyl) sesekali juga musti dibersihkan setelah digunakan. Pakai sabun. Serius. Karena menurut HENGKI HERWANTO, Ketua Museum Musik Indonesia (MMI), setelah sekian lama digunakan, atau bahkan ketika cuma disimpan, permukaan piringan hitam bisa terkotori oleh debu dan juga bekas keringat dari tangan orang yang memegang atau memainkannya.

"Ketika diputar suaranya jadi terdengar kurang jernih," tuturnya.

Dalam bahasa awam: kemresek. (Eh, tapi suara piringan hitam aslinya memang kemresek, sih. Kemresek yang nostaljik! —Red.)

BACA JUGA: Pembukaan Taman Jajan Al-Fatih Melati

Oleh sebab itu, bertepatan dengan momen peringatan Hari Kartini, maka pada Senin (22/04/2019) yang lalu MMI bekerja sama dengan Komunitas Ibu Cerdas Indonesia (KICI) menggelar acara "PENYELAMATAN HARTA KARUN MUSIK INDONESIA" dengan agenda utama mencuci dan membersihkan 200 keping piringan hitam musik Indonesia. Dan komunitas MALANG LOCAL GUIDES turut serta dalam kegiatan tersebut. Isah-isah —cuci piring. Pakai sabun. Serius.




Dipandu oleh duet Pembawa Acara Kakang EDO EKO (finalis Kakang Mbakyu Malang 2016) dan Mbakyu LIANDRA SASMITA BRAMONO (Wakil I Kakang Mbakyu 2018), rangkaian acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh seluruh hadirin dengan dipimpin oleh Mbakyu Liandra. Merinding, atmosfer ruangan seketika berubah megah dan penuh semangat kebangsaan. Cara yang baik untuk membuka acara.

Acara berikutnya adalah sambutan dari Ketua MMI, Hengki Herwanto. Dalam sambutannya Hengki mengatakan bahwa piringan hitam tak ubahnya sebuah harta karun. Di dalamnya bisa kita temukan keindahan seni olah vokal penyanyinya, keindahan aransemen lagunya, juga keindahan syairnya.

"Secara fisik, sampul piringan hitam itu sendiri juga merupakan hasil karya seni rupa, yakni seni fotografi, dan juga desain grafis," imbuhnya.

BACA JUGA: Malang Horreg, Sam!: Buka Bersama Local Guides Indonesia Regional Jawa Timur (Bag. 2)

Tercatat piringan hitam termuda(!) yang turut dibersihkan dalam kegiatan hari ini adalah album "Kerinduan" oleh penyanyi Meriam Bellina produksi Cipta Record rilisan bulan September 1985, koleksi MMI. Konon, album musik ini adalah yang terakhir diproduksi oleh produsen piringan hitam Indonesia, sehingga ini sudah menjadi barang langka dan patut segera diselamatkan agar tetap bisa dinikmati oleh anak-cucu kita nanti. (Tapi mau nikah dulu biar punya anak. Dan cucu —Red.)

"Gak usah curhaattt..," Ayun Savitri.




Untuk membersihkan piringan hitam ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Yang dibutuhkan hanyalah air bersih, baskom untuk wadah air, sabun cuci piring (bener, kan? —Red.), spons, lap kering lembut, dan tatakan untuk mencuci piringan hitamnya. Sudah.

Langkah pertama keluarkan piringan hitam dari sampul/wadahnya, kemudian gunakan lap kering untuk menghilangkan debu yang menempel. Selanjutnya letakkan piringan hitam di atas tatakan cuci, usap perlahan-lahan sesuai alurnya dengan spons yang sudah dicelupkan ke dalam air sabun, lalu bilas dengan air bersih sampai sisa sabun dan kotorannya terangkat (PRO TIPS: label nama piringan hitam jangan sampai terkena air. Bisa rusak dan mengelupas). Langkah terakhir lap piringan hitam dengan lap kering lembut dan angin-anginkan sebelum dimasukkan kembali ke dalam sampulnya.

Bagaimana, ibu-ibu dan remaja putri di rumah, mudah, bukan, cara mencuci piringan hitam?




Menyusul sambutan Hengki Herwanto, kali ini giliran MARCELLA ZALIANTY sebagai perwakilan artis menyampaikan barang sepatah-dua patah kata tentang acara hari ini.

"Asdfgh@#$%&!"

(Sori, Reporter kami nampaknya sedang tidak konsen mencatat isi sambutan dari Marcella Zalianty. Potong honor! —Red.)

Lanjut!

BACA JUGA: Kedai Kopi Lonceng: Kedai Kopi yang Ada Sejak Dulu Kala

Acara cuci-mencuci hari ini tidak melulu diisi oleh pidato dan sambutan, melainkan juga hiburan. Sebagai penampil pertama adalah grup musik etnik dawai binaan MMI, M2I. Mereka memainkan beberapa nomor lagu di antaranya "Rasa Sayange" dan "Ibu Kita Kartini" serta beberapa lagu etnik instrumentalia lainnya.

Setelah grup musik M2I menuntaskan lagu terakhir mereka, kini giliran KICI yang menyampaikan kata sambutannya. Kata sambutan dari Ratih Sanggarwati, Ketua Umum KICI, dibacakan oleh our First Lady Rocker Indonesia, SYLVIA SAARTJE. Penampilan Tante Jipi, panggilan sayang Sylvia Saartje, siang itu anggun sekali. Berkebaya, berkain jarik, serta rambut yang disanggul tradisional.

"Haloo..," katanya ketika saya menyapanya. Lalu minta foto bareng. Cekrek!! (Maafkan Reporter kami, wahai pembaca setia www.malanglocalguides.com —Red.)




Dalam sambutannya Ratih Sanggarwati menyampaikan perlunya kita melestarikan harta karun musik Indonesia, dan MMI adalah salah satu lembaga yang konsisten memperjuangkan hal tersebut, dan upaya ini patut didukung oleh semua pihak.

Kemudian kembali masuk ke acara hiburan. Sepuluh orang ibu-ibu dari grup "DENTING CHANDRAKANTHI" Kampung Cempluk sudah siap di atas panggung dengan piranti kolintang mereka. Tak kurang dari 4 tembang apik mereka bawakan, di antaranya "Manuk Dadali" dari Jawa Barat, "Ibu Kita Kartini" lagu nasional, jingle khas Kampung Cempluk "Kampung Cempluk," serta lagu campursari "Prau Layar." Mendadak, saya ingin ikut bergoyang.

"Ini kita jadi mencuci piringan hitamnya, nggak, sih?" terdengar ada yang berbisik. Mulai gelisah.

BACA JUGA: Serunya Peringatan Ulang Tahun Ketiga Komunitas Malang Local Guides!

Sabar, kisanak. Kita masuk ke sesi pembacaan puisi saja dulu, barangkali, ya? Komunitas "CELOTEH" sudah siap di atas panggung hendak membacakan sebait-dua bait puisi karya sendiri dengan diiringi alat musik etnik rinding.

Aksi baca puisinya ternyata ciamik soro! Dibawakan dengan penuh penghayatan sampai terbongkok-bongkok, sementara di latar belakang alat musik rinding dimainkan mengiringi.

Kemudian sesi penyerahan goodie bag sebagai tanda apresiasi bagi segenap pendukung acara oleh Sarinah, yang diwakili oleh Ibu Feby, menjadi sesi pamungkas sebelum kita memasuki sesi utama: aksi mencuci 200 keping piringan hitam harta karun musik Indonesia!




Di depan panggung, kedua ratus piringan hitam yang hendak dibersihkan sudah dikelompokkan sesuai dengan asal daerahnya masing-masing, di antaranya kelompok musik dari daerah Sumatera, dari daerah Jakarta, daerah Malang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Bali, dan Kalimantan.

Selanjutnya kelompok piringan hitam dari daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, dari daerah Jawa Barat, daerah Jawa Timur, daerah Sulawesi, serta piringan hitam yang berasal dari daerah Maluku. Total ada 8 kelompok. Perlengkapan untuk membersihkan piringan hitam pun sudah siap di atas meja kelompok masing-masing. Waktunya mencuci!

Delapan orang perwakilan dari masing-masing komunitas dan audiens yang hadir maju dan menempati posisi masing-masing. Sebelum mencuci, perwakilan MMI terlebih dahulu menjelaskan tahapan-tahapan pembersihan piringan hitamnya seperti apa saja, seperti tercantum di bagian awal tulisan ini.

BACA JUGA: 5 Jenis Badge Kontribusi di Google Maps

Beberapa orang nampak antusias, sekaligus takut-takut ketika membersihkan dan mencuci piringan-piringan hitam di hadapan mereka.

"Kayak jadi DJ (disc jockey —Red.)," ujar Dini Rachmawati ketika membasuh piringan hitam di atas tatakan cucinya.

Dan Tante Jipi, tak disangka, nampak sangat piawai dalam mencuci piringan hitam. Tak perlu waktu lama baginya untuk mencuci piringan-piringan hitam tersebut. Jian luwekoh!? (piawai —Red.) Sesekali nampak ia tertegun memperhatikan sampul dari piringan hitam yang dicucinya. Piringan hitam musisi-musisi kawakan dan legendaris Indonesia. Seperti dirinya.




Lewat pukul 12 siang, acara "Penyelamatan Harta Karun Musik Indonesia" pun diakhiri. Apa yang bisa kita pelajari dari kegiatan hari ini? Bahwa Indonesia sungguh punya harta karun tak ternilai harganya, piringan hitam kekayaan cipta karya karsa seni musik Indonesia, yang jauuuhh dari sebelum hari ini sudah tidak lagi diproduksi.

Kalau harta-harta langka seperti ini tidak dirawat dan dilestarikan, lalu kepada siapa generasi penerus bangsa bisa mencari jawabnya: "Siapa Dara Puspita? Siapa Merriem Bellina? Piringan hitam itu apa? Pajangan jam dinding?"

Ya, karena sudah rusak dan sulit mencari alat pemutarnya, banyak piringan hitam di pasar-pasar loak yang berakhir menjadi pajangan jam..



———————
TEKS dan FOTO: Ario Wicaksono (IG: @iorikun301)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply